Wednesday, June 30, 2010

BAGI PARA PENDIDIK GENERASI ISLAMI

Wahai pendidik para generasi yang melahirkan para tokoh…

Wahai engkau yang dimuliakan Allah dengan diembani tugas sebagaimana tugas para nabi dan rasul. (semoga keselamatan dan kesejahteraan bagi mereka). Salam sejahtera, rahmat Allah dan berkahNya semoga tercurah pada kalian. Waba’du.

Wahai orang yang dimuliakan Allah dengan al-Islam. Ingatlah, bahwa pendidik muslim mengemban misi paling mulia serta menunaikan amanah paling agung, dan bahwa kebaikan risalahnya diambil dari kemuliaan risalah itu sendiri. Terlebih panutannya dalam misi tersebut adalah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, guru sekalian manusia sekaligus pendidik mereka. Siapakah orang yang lebih mulia profesinya dari para pendidik? Adakah para pegawai (pekerja) dan pedagang? Ataukah para insinyur dan pengusaha? Atau mungkin dokter dan petani?

Seluruh mereka dan lainnya yang menyebar di tengah masyarakat, tak lain adalah produk tarbiyah para pendidik juga. Hasil didikan dari para pendidik, mereka bisa menjadi seperti sekarang dan karenanya pula mereka bisa eksis. Dari itulah para pendidik merasa bahagia diliputi bangga manakala melihat anak-anak didik mereka menjadi seperti mereka; insinyur, dokter, ahli seni dan praktisi dan begitu seterusnya…

Wahai orang yang mengemban tugas mempersiapkan generasi bagi umat dan mendidik para calon tokoh masa depan yang nantinya mereka diharapkan memegang kendali dan tugas-tugas kenegaraan, membangun peradaban umat serta mengemban misinya…. Ingatlah, engkau adalah pondasi, landasan utama serta batu pertama dalam bangunan peradaban umat. Engkau mengemban tanggung jawab secara penuh. Maka jadilah engkau orang yang mampu (ahli) dalam penunaian risalah agung ini, yang urgensitasnya sebagaimana digambarkan secara jelas oleh seorang penyair:

Tahukah ia, orang yang paling mulia

Yaitu yang berhasil membangun pribadi pribadi serta akal akal pikiran

Juga ucapan penyair lain:

Menurut pandangan dan penglihatanku

Seorang pendidik adalah laksana cahaya

orang yang bingung mendapat petunjuk denganya

Sekiranya tanpa pendidik, peradaban kita tak bisa bertambah maju

Dan tidak akan meninggi ihwalnya

Wahai nahkoda kapal yang mahir, yang ia harus menahkodai kapalnya dengan teliti disertai perhatian serius dan penuh agar ia sampai ke pulau tujuan bersama para penumpangnya dengan selamat dan aman… Ingatlah bahwa mendidik adalah seni sekaligus ilmu serta misi yang sangat agung dan luhur bagi siapa saja yang diberi taufiq oleh Allah untuk mampu mengembanya. Terlebih, tarbiyah tersebut sangat ditentukan dan bergantung kepada sang guru untuk mengetahui kondisi murid-muridnya serta pelbagai problematika yang mereka hadapi, kebaikan sikap serta pemahaman mereka kepada kondisi-kondisi murid. Maka dari itu, berupayalah sekuat tenaga -semoga Allah memberikan keberkahanNya kepadamu- untuk menyempurnakan tugas utamamu (sebagai pendidik), yaitu dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan tidak menyia-nyiakannya. Tempatkanlah selalu -di depan pelupuk matamu- perintah takwa kepada Allah serta perasaan selalu diawasi Allah (Muraqabatullah) di setiap waktu dan tempat.

Alangkah indah ucapan salah seorang penyair:

Jika di suatu hari engkau sedang sendirian

Jangan katakan, ‘ Aku seorang diri ‘ akan tetapi katakan

Selalu ada yang mengawasiku.

Jangan sangka Allah lengah dalam sekejab

Dan Jangan kira apa yang kau sembunyikan terlewat dari pengawasan-Nya.

Hai orang yang memayahkan dirinya serta mengorbankan sejumlah waktunya, mengorbankan banyak dan lebih banyak lagi, demi mengemban risalah yang dibawanya, yang di tengah itu ia menjumpai pelbagai kendala dan beragam rintangan… Janganlah engkau lupa bahwa semua itu akan ada pahalanya -Insya Allah- selagi kau lakukan dengan ikhlas untuk Allah semata dan engkau mampu bersabar dan hanya berharap balasanNya saja. Tidak ada pekerjaan yang tidak mengandung kepayahan dan tidak ada kesuksesan tanpa didahului begadang di malam hari. Betapa indahnya bait syair yang menggambarkan profesi mengajar dan mendidik berikut:

Betapa baik profesi mengajar jika tanpa rintangan

Orang yang buruk akhlaknya, orang bodoh ataupun sombong

Atau yang memiliki kedunguan yang tidak mengerti pelajaranya

Ia memiliki ucapan ucapan prosa seperti bait bait

Wahai orang yang merasa tinggi dan mulia di atas sahabat-sahabatnya yang bekerja di bidang-bidang lain atau di luar kependidikan…. Cukuplah kecintaanmu pada profesi tersebut sebagai modal tertinggi yang engkau boleh merasa bangga dan mulia karenanya, juga penghormatan serta penghargaan yang anda dapatkan ke mana saja engkau pergi dan di mana saja engkau berada, dari mereka yang dulunya menjadi murid-muridmu sementara sekarang telah menjadi orang-orang berhasil dan penting. Dan ingatlah bahwa anak-anak yang sekarang sedang duduk di depanmu di atas bangku-bangku studi adalah generasi masa depan yang dinantikan dan diharapkan serta bangunan-bangunan yang dipersiapkan untuk masa depan yang cerah -insya Allah-.

Ketahuilah, bahwa para pelajar adalah laksana medali di dadamu. Jika seseorang merasa bangga dengan satu medali yang diraihnya setelah mampu melakukan suatu amal dan karya besar nan mulia yang ia lakukan dalam jangka waktu yang lama, maka sang pendidik setiap hari menyandang satu medali. Jika medali medali orang lain di kalungkan di leher-leher mereka, maka medali-medali sang pendidik akan selalu hidup di dalam hati dan jiwanya. Perasaanya mengkonstruksikan medali-medali tersebut. Ia (sang pendidik) tadi melihat kedudukan pentingnya di jiwa-jiwa orang lain, karena mereka mengakui keutamaan serta menghormati harga dirinya. Sebagaimana seorang penyair pernah berucap:

Wahai sang pencipta generasi

Kami tak memiliki bendera putih selain produkmu

Jika bukan karena jasamu, tidaklah sang khatib fasih lisanya

Dan tidaklah sang penyair dapat bersenandung dengan keinginan keinginanya

Wahai orang yang menaruhkan seluruh hidupnya di dunia pendidikan, yang mengarunginya dengan akal dan hatinya dan yang tiada rela menggantinya dengan suatau apapun… Janganlah engkau menjadi obor yang menerangi jalan bagi orang lain, sementara ia membakar dirinya sendiri. Akan tetapi jadilah pelita yang menerangi jalan bagi orang lain dan tidak melupakan kebaikan dirinya dan sifat memberinya. Jalan terbaik untuk mewujudkan hal tersebut, engkau harus menjadi suri teladan baik bagi murid-muridmu dalam hal iltizam pada nilai-nilai kebenaran, sikap obyektifitas, sifat menghargai diri, sifat adil dan tidak berlaku zalim. Juga hendaknya engkau menjadi teladan dalam hal interaksi dengan orang lain yang didasarkan pada pondasi-pondasi yang kokoh berupa kebaikan dan ketakwaan. Alangkah bagusnya ucapan sang penyair:

Aku melihat, mengajar adalah semulia profesi

Konsekwensinya adalah terberat

Maka hendaklah sang pendidik selalu bertakwa kepada Allah

Terhadap sebagian orang orang yang diajarnya

Sebagai penutup, rasa terima kasihku yang besar, salamku yang deras mengalir, do’aku yang penuh keikhlasan bagimu wahai sang pendidik. Semoga Allah selalu menganugerahi taufiq, hidayah, kelurusan jalan, serta bimbingan dalam seluruh perjalananmu yang diberkahi serta perjuanganmu yang panjang dalam rangka mengemban misi agung (mengajar dan mendidik) yang dengan itu engkau akan menjadi pusat perhatian.

Serta pusat simpati di zaman ini dan bahkan di setiap zaman. Salawat serta salam semoga terlimpahkan kepada Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
Dipetik dari buku "Rasaa'il Tarbawiyah" karya Shalih bin Ali Abu 'Arrad asy-Syahri yang telah diterjemahkan dan dan diterbitkan oleh Pustaka At-Tibyan dengan judul "Mutiara Nasehat Menuju Pribadi Muslim Ideal"(by. Ircham Nizel)

Dahsyatnya NERAKA....!

Sebuah pengingat....

Kitab Suci Al-Qur’an seringkali menggambarkan berbagai bentuk penyesalan para penghuni Neraka. Salah satu di antara bentuk penyesalan itu berkaitan dengan urusan ”ketaatan”. Kelak para penghuni Neraka pada saat tengah mengalami penyiksaan yang begitu menyengsarakan berkeluh kesah penuh penyesalan mengapa mereka dahulu sewaktu di dunia tidak mentaati Allah dan RasulNya. Kemudian mereka menyesal karena telah menyerahkan kepatuhan kepada para pembesar, pemimpin, Presiden, Imam, Amir, Qiyadah dan atasan mereka yang ternyata telah menyesatkan mereka dari jalan yang lurus. Akhirnya, karena nasi telah menjadi bubur, mereka hanya bisa mengharapkan agar para mantan pimpinan mereka itu diazab oleh Allah dua kali lipat daripada azab yang mereka terima. Bahkan penghuni Neraka akhirnya mengharapkan agar para mantan pimpinan mereka itu dikutuk dengan kutukan yang sebesar-besarnya. Semoga Allah melindungi kita dari penyesalan demikian. Na’udzubillahi min dzaalika..!

”Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami ta`at kepada Allah dan ta`at (pula) kepada Rasul". Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta`ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar".(QS AlAhzab ayat 66-68)

Gambaran di atas merupakan suatu gambaran yang sungguh mengenaskan. Bagaimana kumpulan manusia yang sewaktu di dunia begitu menghormati dan mempercayai para pembesar dan pemimpin mereka, tiba-tiba setelah sama-sama dimasukkan Allah ke dalam derita Neraka mereka baru sadar ternyata telah ditipu oleh para pemimpin tersebut sehingga berbalik menjadi pembenci dan pengutuk para mantan pembesar dan pemimpin tersebut. Mereka terlambat menyadari jika telah dikelabui dan disesatkan dari jalan yang benar. Mereka terlambat menyadari bahwa sesungguhnya para pemimpin dan pembesar itu tidak pernah benar-benar mengajak dan mengarahkan mereka ke jalan yang mendatangkan keridhaan dan rahmat Allah.

Itulah sebabnya tatkala Allah menyuruh orang-orang beriman mentaati Allah dan RasulNya serta ”ulil amri minkum” (para pemimpin di antara orang-orang beriman) saat itu juga Allah menjelaskan kriteria ”ulil amri minkum” yang sejati. Yaitu mereka yang di dalam kepemimpinannya bilamana menghadapi perselisihan pendapat maka Allah (Al-Qur’an) dan RasulNya (As-Sunnah/Al-Hadits) menjadi rujukan mereka dalam menyelesaikan dan memutuskan segenap perkara.

”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisaa ayat 59)

Benar, Islam sangat menganjurkan kita semua supaya taat kepada pemimpin, namun pemimpin yang seperti apa? Apakah patut kita mentaati para pembesar dan pemimpin bilamana mereka tidak pernah menjadikan AlQur’an dan As-Sunnah sebagai rujukan untuk menyelesaikan berbagai problema yang muncul? Mereka lebih percaya kepada hukum dan aturan bikinan manusia, bikinan para legislator, daripada meyakini dan mengamalkan ketentuan-ketentuan Allah dan RasulNya. Pantaslah bilamana masyarakat yang sempat menghormati dan mempercayai para pembesar dan pemimpin seperti ini sewaktu di dunia kelak akan menyesal ketika sudah masuk Neraka. Bahkan mereka akan berbalik menyerang dan memohon kepada Allah agar para ulil amri gadungan tersebut diazab dan dikutuk...!

Tetapi kesadaran dan penyesalan di saat itu sudah tidak bermanfaat sama sekali untuk memperbaiki keadaan. Sehingga Allah menggambarkan bahwa pada saat mereka semuanya telah divonis menjadi penghuni Neraka lalu para pengikut dan pemimpin berselisih di hadapan Allah sewaktu di Padang Mahsyar. Para pengikut menuntut pertanggungjawaban dari para pembesar, namun para pembesar itupun cuci tangan dan tidak mau disalahkan. Para pemimpin saat itu baru mengakui bahwa mereka sendiri tidak mendapat petunjuk dalam hidupnya sewaktu di dunia, sehingga wajar bila merekapun tidak sanggup memberi petunjuk sebenarnya kepada rakyat yang mereka pimpin. Mereka mengatakan bahwa apakah mau berkeluh kesah ataupun bersabar sama saja bagi mereka. Hal itu tidak akan mengubah keadaan mereka barang sedikitpun. Baik pemimpin maupun rakyat sama-sama dimasukkan ke dalam derita Neraka.

”Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: "Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja? Mereka menjawab: "Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri". (QS Ibrahim ayat 21)

Allah menggambarkan bahwa kumpulan pengikut taqlid dan pemimpin sesat ini adalah kumpulan orang-orang zalim. Para pemimpin sesat akan berlepas diri dari para pengikut taqlidnya. Sedangkan para pengikut taqlid bakal menyesal dan berandai-andai mereka dapat dihidupkan kembal ke dunia sehingga mereka pasti berlepas diri, tidak mau loyal dan taat kepada para pemimpin sesat tersebut. Tetapi semuanya sudah terlambat.


”Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka.” (QS Al-Baqarah ayat 165-167)

Akbar Tanjung; Pengabdian Tiada Henti

Sejarah politik Indonesia, dengan berbagai era yang ada tidak terlepas dari bagian sejarah hidup seorang Akbar Tanjung. Dia menjadi bagian dari pelaku sejarah atas perubahan rezim yang ada. Kiprah dan perilaku politiknya sangat santun sehingga disegani oleh kawan dan lawan politiknya. Akbar Tanjung adalah tokoh fenomenal, ia sering dikategorikan sebagai figur politisi profesional yang memiliki pemikiran dan langkah-langkah politik yang lebih mengedepankan jalur kompromi atau kerjasama; bukan dengan cara menabuh genderang perang.

Lahir di di Sibolga tanggal 14 Agustus 1945, Akbar Tanjung belajar di Sekolah Rakyat (SR) di Medan dan pendidikan SMP Perguruan Cikini dan SMA Kanisius. Selanjutnya ia memilih kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Pergumulannya dengan dunia politik  dalam membangun ketokohannya dimulai sejak ia aktif dalam gerakan mahasiswa/pemuda, tahun 1964 mulai aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), pilihannya untuk aktif di- HMI, bermula dari rasa kagumnya saat SMA, sebagai organisasi kemahasiswaan, HMI  memiliki prinsip perjuangan dan militansi tinggi terutama pada saat HMI mengalami tekanan-tekanan baik politik maupun fisik dari kekuatan komunis yaitu PKI dan organisasi under bow-nya. “Itulah pertama kalinya saya masuk dunia aktivis tentunya saya mulai banyak belajar membaca situasi dan keadaan yang terjadi”, tuturnya kepada Reporter TMN.

Kemudian Akbar juga berperan aktif dalam  dalam gerakan mahasiswa pada saat pengganyangan G 30 S /PKI  tahun 1966 melalui Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia Universitas Indonesia (KAMI-UI) dan Laskar Ampera Arief Rahman Hakim. Tidak berhenti sampai disitu,  Tahun 1967-1968 Akbar dipercaya menjadi  Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia, berlanjut kemudian menjadi Ketua Umum Pengurus Besar HMI. Organisasi mahasiswa ekstrakampus di tahun 1972-1974, dan menjadi nakhoda di DPP KNPI pada tahun 1978-1981

Kiprahnya yang cemerlang di organisasi kepemudaan membuat langkah Akbar  semakin lempang dalam menapaki jalur politik. Menurut Akbar,  jiwanya terpanggil untuk masuk dunia politik melalui Golkar pada tahun 1974, Bagi Akbar, Golkar adalah partai politik yang mempunyai prinsip nilai-nilai Pancasila dan perjuangan NKRI, Golkar juga merupakan partai yang terbuka dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, dan mempunyai orientasi untuk mensejahterakan rakyat melalui pembangunan nasional. setelah 3 tahun aktif di Golkar, Akbar  dipercaya menjadi anggota DPR pada tahun 1977 dan menduduki posisi Wakil Sekretaris Jenderal DPP Golkar di tahun 1983-1988. Karir Politiknya kemudian berlanjut dengan dipercaya oleh presiden untuk menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olah raga, kemudian menjadi Menteri Perumahan.

Ketika rezim berganti, Soeharto berhenti dan digantikan oleh B.J. Habibie, Akbar dipercaya sebagai Menteri Sekretaris Negara. Kiprah politik Akbar terus berlanjut dengan terpilihnya menjadi Ketua Golkar pada Munas tahun 1998.

Sebagai politisi yang ditempa oleh pengalaman, Akbar sangat ulet, berani dan konsisten dalam memperjuangkan apa yang menjadi keyakinannya. Ini terbukti, ketika Akbar menjadi orang nomor satu di Golkar, beliau mampu untuk membenahi Golkar di tengah caci maki dan hujatan. Pada waktu itu Golkar memang sedang mengalami krisis kepercayaan yang sangat serius dari masyarakat akibat terjadinya perubahan yang demikian besar dan adanya reformasi dalam bidang kehidupan berpolitik. Banyak orang-orang Golkar yang berkecil hati, tidak berani tampil di hadapan massa, bahkan ada yang langsung keluar meninggalkan Golkar. Sementara Akbar berani, walaupun banyak ejekan yang ditujukan kepadanya. Tetapi dengan keuletan, konsistensi, kesabaran, ketulusan dan keikhlasan, Akbar pelan tetapi pasti membenahi Golkar, sampai kemudian, ternyata melalui suatu pemilihan umum yang demokratis, Golkar masih dipercaya oleh rakyat.

Bagi Akbar sendiri, tantangan dan rintangan yang dihadapi oleh seseorang  yang menjadi pemimpin tidak terlepas dari kualifikasi kepemimpinan yang dimilikinya. Menurut Akbar  seorang pemimpin harus memiliki prinsip-prinsip sebagai pemimpin yang selalu memberikan arahan-arahan yang menjadi acuan dan panutan masyarakat. Oleh karena itu seyogya seorang pemimpin harus mempunyai sifat-sifat kepemimpinan. Sebagai seorang muslim sifat-sifat kepemimpinannya  sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, yaitu harus jujur, amanah, fathonah (yang mempunyai kecerdasan), dan tabliq (mampu membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat yang dipimpin), setelah itu pemimpin juga harus mempunyai komitmen yang kuat untuk melaksanakan kepemimpinannya agar dapat berjalan secara efektif dan dapat memberikan suatu keberhasilan. punya visi yang dapat memberikan  gagasan-gagasan, dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, memiliki ide revisioner,  memiliki kapabilitas, integritas, aksepbilitas, elektabilitas yang dijadikan sebagai teladan sehingga dengan kapabilitasnya masyarakat dapat menerimanya.

Kepemimpinan ini telah dipraktikan oleh para founding father kita yang mempunyai semangat juang yang tinggi (pengorbanan), rasa persatuan, dan penghormatan terhadap keberagaman dan kemajemukan,   meski berbeda secara pemahaman politik, agama, suku, tetapi secara individu para pemimpin kita nampak betul tetap memperlihatkan hubungan yang rasa saling menghormati sehingga masyarakat tetap saling bersatu tidak terjadi pergolakan-pergolakan dimasyarakat. Dan tidak kalah penting adalah semangat religius dan kebersamaan yang diperlihatkan oleh para pemimpin terdahulu dalam menjalankan roda kepemimpinan.

Pelajaran penting dari pendahulu inilah, yang menjadi inspirasi Akbar untuk mematangkan dirinya sehingga dikenal piawai dalam memimpin maupun berpolitik dan dengan pengalamannya ini pula Akbar berusaha menyatukan segenap potensi budaya bangsa dalam payung modern nation state bernama Indonesia. Bagi Akbar Indonesia sebagai sebuah Negara telah final dengan bentuk NKRI karena Indonesia, negara besar, jumlah pulau dan penduduknya banyak, terdiri dari beragam suku, bangsa, agama, dan ras. Pengikatnya adalah bentuk negara kesatuan dan untuk mengikat rasa kesatuan tersebut, kita memiliki suatu konsensus nasional  yaitu pancasila, dengan Pancasila maka Indonesia akan dapat diwujudkan dalam semangat yang ditegakkan oleh para pendiri bangsa yaitu semangat persatuan. Karenanya perlu mentransformasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bernegara dan berbangsa, tugas ini bukan hanya oleh pemerintah saja, tapi juga para tokoh dan pemimpin nasional, tokoh masyarakat serta semua elemen bangsa yang memiliki tanggung jawab yang sama dalam mentransfer dan mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila. Dengan teraplikasikannya nilai-nilai Pancasila ini,  maka semangat persatuan akan merasuk kedalam sanubari anak bangsa dan dengan itu persatuan dapat ditegakkan.



Kontribusi Akbar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak melulu melalui kendaraan partai politik  an sich, pasca 1998 wajah perpolitikan Indonesia tengah berproses menuju negara demokratis yang sesunguhnya dan perkembangan inilah yang mendorong Akbar untuk mendirikan Akbar Tandjung Institute ( AT Institute), lembaga ini didirikan tahun 2005 tak berapa lama setelah ia berhasil meraih gelar doktor ilmu politik dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Akbar mendambakan AT Institute hadir menjadi wadah tempat belajar sosial-politik yang bersih. memberikan kontribusi berarti kepada masyarakat menuju era demokrasi dengan berbagai kegiatan yang memberikan pencerahan politik seperti diskusi, penerbitan buletin dan berbagai pencerahan lainnya.

Pengabdian Akbar yang tiada henti kepada bangsa dan negara Indonesia merupakan sumbangsih yang sangat berharga dalam perpolitikan Indonesia, barangkali tak terlalu berlebihan jika figur Akbar Tandjung merupakan politikus yang hebat, terlebih jika dilihat dari kapabilitas dan  leadership-nya (Ircham-TMN)




Tuesday, May 18, 2010

BELAJAR DARI KEPEMIMPINAN KHALIFAH ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ R.A.

KHALIFAH  ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ R.A.
Suatu ketika Rasulullah menasihati sahabat Abu Bakar r.a.: “Hai Abu Bakar, urusan kedudukan itu adalah untuk orang yang tidak menginginkannya, bukan untuk orang-orang yang menonjol-nonjolkan diri dan memburunya. Ia adalah bagi orang yang memandang kecil urusan itu dan bukan bagi orang yang mengulur-ulurkan kepalanya untuk itu.” Dan Rasulullah memberikan nasihat kepada kita agar dalam memilih seorang pemimpin adalah orang yang ahli dan tepat, sebagaimana sabdanya: “Apabila amanat itu telah disia-siakan, maka tunggulah saat (kehancurannya). Sahabat bertanya: Bagaimana menyia-nyiakannya? Jawab Rasulullah: Apabila suatu jabatan diserahkan kepada orang-orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.” (HR. Bukhari).
Dunia islam mulai menorehkan tinta emas dalam sejarahnya sejak Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah. Rahasia terpilihnya peristiwa yang agung ini sebagai permulaan sejarah Islam adalah karena sejak saat itu anugerah kemenangan dari Allah SWT kepada Rasulnya-Nya mulai terlihat, yakni kemenangan terhadap orang-orang yang memerangi beliau di kota suci tersebut. Padahal sebenarnya seluruh tokoh kabilah Quraisy telah mengatur siasat untuk membunuh beliau. Satu-satunya sahabat yang menemani Rasulullah SAW dalam perjalanan hijrah ini, tidak lain adalah Abu Bakar ash-Shidiq. Tatkala beliau sedang menderita sakit menjelang wafatnya sehingga tidak kuat lagi menunaikan shalat berjamaah bersama kaum muslimin. Abu Bakar pulalah yang ditunjuk menggantikan beliau sebagai imam.
Abu Bakar dilahirkan dengan nama Abdullah ibn Abi Qahafah dari seorang ayah bernama Abu Qahafah yang semula bernama Utsman ibn Amir. Sedangkan ibunya bernama Ummu al-Khair yang semula bernama salma binti sakhr ibn Amir.
Pilihan Rasulullah SAW kepada Abu Bakar untuk menyertainya dalam perjalanan hijrah dan menggantikan kedudukannya menjadi imam dalam shalat berjamaah bukan tanpa alasan sama sekali. Abu Bakar adalah orang yang pertama yang menyatakan keimanannya kepada Allah dan Rasulnya. Pengorbanannya yang dilandasi oleh keimanan yang kokoh, telah banyak ia lakukan. Ia selalu siaga membela Nabi dalam berdakwah, sebagaimana pembelaanya terhadap kaum muslimin. Kepentingan Rasulullah SAW lebih diutamakan daripada kepentingan dirinya sendiri. Bahkan dalam segala situasi,ia selalu mendampingi perjuangan Nabi SAW. Kesempurnaan akhlaknya berpadu erat dengan kekuatan imannya. Tidak hanya itu Abu Bakar juga dikenal juga sebagai seorang hamba Allah yang memiliki sifat paling kasih sayang kepada manusia lainnya.
Latar Belakang Pengangkatan Khalifah Pertama
Proses suksesi kepemimpinan pasca-wafatnya nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin umat (kepala pemerintahan), sempat menjadi perdebatan di kalangan umat. Hal itu turut disebabkan karena sang nabi tidak meninggalkan wasiat siapa orang yang pantas menggantikan beliau. Setidaknya ada tiga golongan umat Islam yang berbeda pendapat dan masing-masing merasa berhak bahwa dari golongan merekalah yang pantas sebagai pengganti nabi Muhammad. Ketiga golongan itu adalah Muhajirin, Anshar, dan Ahlul Bait. Maka diadakanlah pertemuan di Tsaqifah Bani Saidah. Tatkala terjadi diskusi yang cukup menegangkan antara golongan Anshar dan Muhajirin, tiba-tiba Abu Bakar langsung memusatkan perhatian dan mencalonkan dua tokoh sahabat, Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin Jarrah. Mendengar pencalonan itu, Basyir bin Saad dan Abu Ubaidah bin Jarrah langsung berteriak bahwa tidak mungkin mereka yang dipilih sementara ada Abu Bakar yang mereka nilai sebagai tokoh termulia dan pantas sebagai pemimpin. Bahkan Umar pun langsung menyebutkan keutamaan yang dimiliki Abu Bakar dan tidak dimiliki oleh sahabat yang lain. Dengan segera, Umar pun mengangkat tangan Abu Bakar dan membaiatnya. Tindakan Umar itu pun diikuti oleh para sahabat lain yang hadir di Tsaqifah Bani Saidah tersebut. Sesudah Abu Bakar dilantik menjadi Khalifah beliau pun berpidato sebagai sambutan atas kepercayaan Orang banyak kepada dirinya itu:
“Wahai Manusia, sekarang aku telah menjabat pekerjaan kami ini, tetapi tidaklah aku Orang yang lebih baik daripada kamu. Maka jika aku telah berlaku baik dalam jabatanku, dukunglah aku. Tetapi kalo aku bersalah, tegakkanlah aku kembali. Kejujuran adalah suatu amanat, kedusataan adalah suatu khianat. Orang yang kuat di antara kamu, pada sisiku hanyalah lemah, sehingga hak si lemah aku tarik daripadanya. Orang lemah di sisimu, pada sisiku kuat, sebab akan ku ambilkan daripada si kuat akn haknya, insya Allah. Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah SWT dan rasulnya…”
Ali berkata tentang hal ini: ”... Maka kami memilih untuk urusan dunia kami orang yang telah kami pilih untuk urusan agama kami. Shalat adalah pokok Islam, adalah komandan agama dan tiang agama. Oleh sebab itulah kami membaiat Abu Bakar, sebab dia memang pantas untuk memikul tugas itu...” (Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir)
Sebagai seorang Khalifah, dalam mengambil kebijakan Abu Bakar pertama-tama dicarinya
hukum-hukum yang ada dalam Quran dan Sunnah. Jika tidak menemukan, beliau tidak
segan-segan bertanya kepada sahabat yang lain, Ada soal begini, begini Adakah
Saudara-saudara tahu bahwa Rasulullah pernah memberi fatwa tentang itu?”O, ya ada!, jawab sahabat yang lain. Abu Bakar berkata, Alhamdulillah masih ada di antara kita yang masih hafal akan fatwa-fatwa Rasulullah.
Di masa pemerintahan beliau, Islam mulai menunjukkan keperkasaannya.Wilayah Islam semakin luas dan diperhitungkan, yang tentunya ini bisa terjadi karena kepemimpinan yang bertaqwa kepada Allah. Khalifah Abu Bakar mengirim Khalid bin Walid untuk memimpin pasukan untuk menyerang Irak dan Irak berhasil ditaklukkan, yang waktu itu masih dibawah Kerajaan Persia, salah satu dari Imperium Dunia. Yang lainnya adalah Kerajaan Romawi. Kemudian seluruh Kerajaan Persia (sekarang Iran) berhasil ditaklukkan. Sehingga dakwah ilallah semakin berkembang. Di akhir hayatnya, Khalifah kembali mengirim Khalid untuk mulai menyerang Romawi, dengan dimulai dari Syam (sekarang Syria). Pada saat berlangsung pertempuran tersebut beliau menghembuskan nafas terakhir. Kelak pada masa pemerintahan selanjutnya,
masa Umar bin Khattab dan seterusnya, Syam dan wilayah Romawi lainnya berhasil ditaklukkan.

Monday, May 10, 2010

TUK DUNIA SIKECIL HARI INI


"HAPPY ULANG SANNAH"
06 Mei 2010

Genap usiamu 1 tahun
semoga kamu selalu belajar
bagaimana dunia bisa meradang dengan kegilaan penghuninya
agar kamu bisa mengembalikan fungsi dunia
yang telah dititahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa
lewat Utusan Mulia-Nya Rasulullah sang Amin
Hadirmu Selalu ditunggu,
besarmu selalu dituju,
pandaimu selalu ditiru,
kontribusimu selalu diadu,
sejarah hidupmu selalu diacu
oleh dunia yang merana
bak seorang kekasih yang merindukan
kasih sayang pujaannya
agar tercipta kedamaian dan keserasian
sehingga tua pun tetap mendamba
sang pencipta Tuhan Yang Maha Esa ……
(by. Ircham Nizel) 



Wednesday, May 05, 2010

Tips dan Triks Bersemangat Shalat Malam Bag. 7 (Terakhir)


7 Mengetahui bahwa salat malam dapat menangkal lupa dari hati
Lupa adalah penyakit berbahaya yang dapat menimpa hati jika terlalu diberi kewenangan dalam hal-hal mubah, bermalas-malasan dalam mengerjakan ketaatan, tenggelam dalam kenikmatan dan lalai dalam bermunajat kepada Pencipta langit dan bumi. Pada saat seperti ini, obat yang paling manjur – dengan izin Allah – adalah salat malam.
Rasul kita Saw. telah meyakinkan kita bahwa salat malam dapat menangkal lupa dari hati. Dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a. bahwasanya Nabi Saw. bersabda, "Barang siapa mengerjakan salat malam dengan sepuluh ayat, ia tidak dicatat termasuk orang yang lupa. Barang siapa mengerjakan salat dengan seratus ayat, ia akan dicatat termasuk orang-orang yang taat. Dan barang siapa mengerjakan salat dengan seribu ayat, ia akan dicatat termasuk orang-orang yang memiliki kekayaan yang besar,” (HR Abu Daud, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).
Bahkan Rasul Saw. telah memberitahu kita bahwa tidur yang melalaikan dari salat malam merupakan suatu kelupaan dari orang mukmin yang dikehendaki oleh setan untuk melemahkan orang tidur ini, menguasainya dan mengencingi kedua telinganya.
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, "Disebutkan di hadapan Nabi Saw. seorang lelaki yang tidur semalam suntuk hingga pagi. Beliau lalu bersabda, ‘Itu adalah orang yang telinganya dikencingi setan,’” Atau beliau bersabda, ‘Kedua telinganya,’” (HR Bukhari Muslim).
Yahya bin Mu’adz Ar-Razi rahimahullah berkata, “Obat hati itu ada lima, yaitu membaca Al-Quran dengan memikirkan maknanya, kosongnya perut, salat malam, merendahkan diri kepada Allah pada waktu sahur dan berkumpul dengan orang-orang saleh.
By. Ircham J. NiZel (sumber milis tarbiyah nurul haq)

Tips dan Triks Bersemangat Shalat Malam Bag. 6



6. Allah Memberikan Pahala yang Besar
Ingatlah selalu. Bagi mereka yang bangun di kegelapan malam, ada pahala besar yang telah disiapkan Allah. Kesadaran ini perlu Anda jaga, agar Anda selalu bersemangat mengerjakan salat malam. Dalam firman-Nya, Allah Swt. menerangkan pahala orang yang melaksanakan salat malam, “lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yagn telah mereka kerjakan,” (QS As-Sajdah [32]: 16-17).
Ibnu Sirin rahimahullah berkomentar, “Yang dimaksud adalah melihat Allah Swt.” Hasan Al-Bashri berkata, “Suatu kaum menyembunyikan beberapa amalan, maka Allah Swt. menyembunyikan untuk mereka apa yang tidak dapat dilihat oleh mata, tak dapat didengar oleh telinga, dan tak terlintas di benak manusia.” Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi berpandangan, “Mereka menyembunyikan amalan karena Allah dan Allah menyembunyikan pahala bagi mereka. Andaikata mereka mendatanginya, mata itu akan merasa sejuk.”
Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi Saw. bersabda, "Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Aku telah menyiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh apa yang tidak dapat dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan tak terlintas di hati manusia.’ Kemudian Beliau membaca ayat ini “Tatajâfâ junûbuhum ‘anil madhaji’i” hingga firman-Nya “Jazâan bima kanû ya’malun”,” (HR Bukhari Muslim).
Ibnul Qayyim rahimahullah memberi nasihat, “Renungkanlah bagaimana Dia membalas salat malam yang mereka sembunyikan dengan pahala yang disimpan-Nya untuk mereka, yang tidak diketahui oleh siapapun. Dan bagaimana Dia membalas keresahan mereka, ketakutan mereka, dan kegelisahan mereka ketika bangun untuk salat malam dengan ketenangan hati di surga.”
Abu Malik Al-Asy’ari r.a. berkata, "Rasulullah Saw. bersabda, ‘Sesungguhnya di surga terdapat beberapa kamar yang bagian luarnya dapat dilihat dari bagian dalamnya, dan bagian dalamnya dapat dilihat dari bagian luarnya. Allah menyiapkannya bagi orang yang memberikan makanan, menyebarkan salam, dan salat pada malam hari ketika manusia sedang tidur,’” (HR Ibnu Hibban).
Ibnul Qayyim berkomentar tentang penglihatan orang-orang mukmin kepada Tuhannya di surga, “Ini adalah bagian paling mulia dan paling luhur derajatnya. Juga paling menenangkan bagi hati ahlus sunnah wal jamaah, dan paling keras terhadap ahli bidah dan kesesatan. Ia adalah tujuan yang diinginkan oleh orang yang berkeinginan, dijadikan perlombaan bagi orang-orang yang berlomba. Untuk hal seperti itulah, hendaknya orang-orang yang beramal melakukan amalan. Jika penduduk surga mendapatkannya (melihat wajah Allah Swt.), mereka akan melupakan kenikmatan yang mereka alami. Dan halangan untuk melihat wajah-Nya bagi penduduk neraka lebih pedih bagi mereka daripada siksa neraka. Para nabi, rasul, sahabat, tabiin dan imam Islam pada masing-masing abad sepakat atasnya.”
By. Ircham J. NiZel (sumber milis tarbiyah nurul haq)



TIPS DAN TRIKS BERSEMANGAT SALAT MALAM Bag. 5


5. Allah pun Kagum
Orang yang selalu mengerjakan salat malam memiliki kedudukan istimewa. Allah mengagumi dan membanggakan dia dan salatnya kepada para malaikat yang mulia.
Dengarkan perkataan Nabi Saw. ketika beliau mendidik kita tentang kenyataan ini. Beliau bersabda, “Tuhan kita kagum pada dua orang, yaitu orang yang bangun dengan giat, lalu meninggalkan kasur dan selimutnya, antara istrinya dan cintanya kepada salatnya. Allah Jalla wa Jalla berfirman, ‘Wahai para malaikat-Ku, lihatlah hamba-Ku ini! Ia bangun meninggalkan kasur dan selimutnya, antara isterinya dan cintanya kepada salatnya karena menginginkan apa yang Aku miliki dan menyintai apa yang Aku punyai.’ Dan orang yang berperang di jalan Allah sedangkan para sahabatnya mengalami kekalahan. Ia mengetahui penderitaan mereka dalam kekalahan dan pahalanya jika ia kembali. Kemudian dia pun kembali sehingga darahnya tumpah. Allah berfirman kepada para malaikat-Nya, ‘Lihatlah hamba-Ku ini! Dia kembali karena mengharap apa yang Aku miliki dan menyintai apa yang Aku punyai hingga darahnya mengalir,’” (HR Ahmad, Abu Ya’la, At-Thabrani dan Ibnu Hibban).
Dari Uqbah bin Amir r.a. bahwa Nabi Saw. bersabda, “Seorang dari umatku bangun pada malam hari. Ia memaksa dirinya kepada kesucian, padahal dirinya dalam keadaan terikat. Ketika dia membasuh kedua tangannya, terlepaslah satu ikatan. Ketika dia membasuh kakinya, terlepaslah satu ikatan. Ketika dia mengusap kepalanya, terlepaslah satu ikatan. Ketika dia membasuh kedua kakinya, terlepaslah satu ikatan. Kemudian Allah berfirman kepada yang ada di balik tirai (malaikat), ‘Lihatlah hamba-Ku ini! Ia memaksa dirinya dan memohon kepada-Ku. Apa yang dimohon oleh hamba-Ku, hal itu adalah miliknya,’” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).
Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, "Jika seorang hamba tidur dalam keadaan sujud, Allah membanggakannya pada para malaikat. Dia berfirman, ‘Lihatlah hamba-Ku, dia sedang menyembah-Ku padahal ruhnya berada pada-Ku dan dia dalam keadaan sujud.’”
Wahai saudaraku, bangunlah di kegelapan malam dan bermunajatlah kepada Tuhanmu. Dan katakanlah kepada diri Anda,
“Wahai diri, bangunlah! karena para makhluk telah tertidur.
Jika engkau mengerjakan kebaikan, maka Pemilik Arsy akan melihat.
Engkau, wahai mata, tinggalkanlah tidur.
Ketika pagi, kaum itu memuji Yang Maha Mulia
By. Ircham J. NiZel (sumber milis tarbiyah nurul haq)


Monday, May 03, 2010

TIPS DAN TRIKS BERSEMANGAT SALAT MALAM Bag.4

 4. Allah Tersenyum dan Bahagia
Tahukah Anda, Allah Swt. tersenyum dan bahagia melihat orang yang selalu melaksanakan salat malam. Barang siapa yang menyebabkan Allah tersenyum, maka tidak ada siksaan baginya. Alangkah mujurnya Anda, wahai orang yang selalu salat malam dengan pahala yang agung ini.
Rasulullah Saw. telah mengabarkan kepada kita bahwa Allah Swt. tersenyum dan bahagia kepada orang yang rida dan gembira berdiri untuk-Nya di kegelapan ketika yang lain sedang terlelap. Abu Darda’ r.a. berkata, "Rasulullah Saw. telah bersabda, ‘Ada tiga orang yang dicintai oleh Allah. Allah tersenyum dan bahagia pada mereka; pertama, orang yang ketika suatu kelompok telah kalah, dia berperang di belakangnya sendirian karena Allah Azza wa Jalla. Adakalanya dia terbunuh atau Allah menolongnya dan mencukupinya. Dia berfirman, ‘Lihatlah kalian pada hamba-Ku ini. Bagaimana dia telah dengan sabar demi aku mengorbankan dirinya?’, kedua, orang yang mempunyai istri cantik dan tempat tidur bagus dan lembut, kemudian dia bangun pada waktu malam. Dia berfirman, ‘Dia meninggalkan syahwatnya dan berzikir kepada-Ku. Andaikata dia mau, dia bisa tidur.’, ketiga, orang yang ketika di perjalanan, sedangkan dia bersama rombongan. Mereka terjaga kemudian tidur, kemudian dia pun bangun pada waktu sahur dalam keadaan susah maupun senang,'” (HR Ath-Thabrani dan dihasankan oleh Al-Albani).
Daud bin Rasyid rahimahullah bercerita, “Pada suatu malam aku bangun untuk salat, tapi aku dikalahkan oleh kedinginan, maka aku pun kembali tidur. Kemudian, aku bermimpi seakan-akan seseorang berkata, ‘Wahai Daud, bagaimana engkau lebih mengutamakan tidur daripada salat?’ Rawi berkata, ‘Aku kira Daud tidak lagi tidur setelahnya!
Wallahu a'lam. By. Ircham J. NiZel (Sumber milis tarbiyah nuruh haq)


Saturday, May 01, 2010

TIPS DAN TRIKS BERSEMANGAT SALAT MALAM Bag.3

 
3. Allah Melihat dan Mendengar

Wahai saudaraku tercinta, ketika Anda hendak bangun untuk melaksanakan salat malam, rasakan dengan sepenuh hati bahwa Tuhan Anda yang Mahaagung melihat Anda. Dia melihat dan mendengar doa Anda, salat Anda, dan munajat Anda. Ketika seorang hamba yang hina dan fakir merasakan bahwa Tuhannya melihat dia sungguh-sungguh dan lelah dalam menaati-Nya, maka segala kesulitan akan terasa mudah. Ia akan bergegas memperbaiki kelalaiannya demi mencari rida Tuhannya Yang Mahalembut lagi Mahaagung.
Kenyataan ini telah disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya: “Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” (QS Asy-Syu’ara [26]: 217 - 220).

Wahai saudaraku, bangunlah pada tengah malam! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu dari kelalaian dan kebanyakan tidur! Tumpahkanlah air mata penyesalan. Katakan dengan lidah kehinaan dan kefakiran, “Wahai kabut kelalaian, hilanglah dari hati! Wahai matahari ketakwaan dan keimanan, terbitlah! Wahai catatan amal orang-orang saleh, naiklah! Wahai hati para mujtahid, khusyuklah! Wahai kaki orang yang bertobat, sujudlah pada Tuhanmu dan rukuklah! Wahai mata para pendosa, janganlah tertidur! Wahai dosa orang yang bertobat janganlah kembali! Wahai hati orang-orang arif, puaslah!
Inilah berbagai kenikmatan yang diberikan di kegelapan malam. Tiada seorang pun dari kalian kecuali telah dipanggil, “Wahai kaumku, jawablah orang yang berdakwah kepada Allah!” Wahai cita-cita orang mukmin, bergegaslah! karena sangat beruntunglah bagi orang yang menjawab dan mengena. Dan kecelakaanlah bagi orang yang diusir dari pintu dan tidak dipanggil. By Ircham J. NiZel (sumber milis tarbiyah nurul haq)

Monday, April 26, 2010

Tips dan Triks Bersemangat Salat Malam Bag.2


Merasakan bahwa Tuhanmu Yang Mahaluhur memanggilmu untuk salat.

Hal lain yang dapat membuat Anda bersemangat dalam bermunajat kepada Yang Maha Pengasih di tengah gelapnya malam adalah merasakan bahwa Tuhan Anda Yang Mahaluhur memanggil Anda untuk salat di hadapan-Nya, padahal Dia tidak membutuhkan ketaatan Anda. Apakah Anda tidak mau menjawab panggilan langit dan bermunajat kepada Tuhan Anda di tengah kegelapan malam agar menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat? Dalam firman-Nya, Allah Swt. memerintahkan Nabi Saw., para sahabat dan umatnya untuk melaksanakan salat malam. Allah berfirman,
Artinya, “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-lahan,” (QS Al-Muzzammil [73]: 1 - 4).
Sa’ad bin Hisyam bin Amir bertanya kepada Aisyah r.a. “Beritahulah aku tentang salat Rasulullah Saw?” Beliau balik bertanya, “Tidakkah engkau membaca “Yâ ayyuhal muzzammil”?” Aku menjawab, “Ya.” Beliau berkata, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan salat malam pada awal surat ini. Maka Nabi Saw. dan para sahabatnya pun mengerjakan salat malam selama setahun, karena Allah menahan pengakhirannya dua belas bulan di langit, sehingga Allah menurunkan pada akhir surat ini keringanan. Jadilah salat malam itu sunah setelah pernah menjadi wajib,” (HR Muslim).
As-Suhaili berkata, “Pada penamaan Beliau Saw. dengan nama ini (Al-Muzzammil), terdapat dua faidah, yaitu pertama, adanya kasih sayang dan perhatian. Kedua, peringatan bagi setiap orang yang tidur berselimut agar sadar untuk salat malam dan berzikir kepada Allah.”
Rasul Saw. telah memberitahu kita bahwa Tuhan kita memanggil dan mengajak kita pada setiap malam untuk mengerjakan salat dan bermunajat kepada-Nya.
Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi Saw. bersabda, "Tuhan kita Swt. turun setiap malam ke langit dunia ketika tinggal sepertiga malam yang akhir dan berkata, ‘Barang siapa berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doanya. Barang siapa meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku akan mengampuninya,” (HR Bukhari Muslim) (By. Ircham J. NiZel)

Tuesday, April 20, 2010

Tips dan Triks Bersemangat Shalat Malam Bag. 1


Ikhlas karena Allah Swt.

“Wahai jiwa, ikhlaslah!, maka engkau akan merdeka”. Itulah motto kaum salaf pilihan. Itu tidak mengherankan, karena ikhlas kepada Allah Swt. adalah ruh ketaatan, inti pendekatan, kunci diterimanya segala kebaikan dan sebab pertolongan Tuhan alam semesta. Pada niat, keikhlasan dan kejujuran terhadap Allah dalam kehendak baik-Nya terdapat pertolongan Allah terhadap hamba-Nya yang beriman.
Dalam firman-Nya, Allah Azza wa jalla telah memerintahkan kita untuk ikhlas dalam berbuat,
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS. Al-Bayyinah : 5).
Allah juga telah memperingatkan kita akan akhir menyedihkan yang akan menimpa orang yang mengerjakan ketaatan, tapi tidak karena mengharap ridha Allah. Seperti menginginkan pujian, pangkat, derajat, dan ketenaran di antara manusia.
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Al-Zumar : 65).
Rasul Saw. telah memberitahu kita tentang siksaan pedih yang sedang menunggu orang yang melakukan ketaatan karena pamer, mencari dunia dan ketenaran.
“Dari Ubay bin Ka’ab ra, bahwasanya Nabi Saw bersabda, “Berilah kegembiraan umat ini dengan keagungan, agama, keluhuran, pertolongan, dan kekuatan di bumi. Maka barang siapa yang melakukan perbuatan akhirat untuk dunia di antara mereka maka tiada bagian baginya di akhirat.” (HR. Ahmad dan Hakim).
Orang-orang salaf kita pun mendorong untuk ikhlas dalam beramal semata-mata karena Allah. Muthorrif bin al-Syahir rahimahullah berkata, “Bagusnya pekerjaan terletak pada bagusnya hati, dan bagusnya hati terletak pada bagusnya niat, dan barangsiapa membersihkan maka akan dibersihkan, dan barang siapa memperkeruh maka akan diperkeruh.”
Abu Ali al-Rudzbari rahimahullah berkata, “ Ilmu itu terhenti pada pengamalan, dan amal itu terhenti pada keikhlasan, sedangkan ikhlas kepada Allah akan memberikan pemahaman tentang Allah Azza wa jalla. Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Amal yang paling bermanfaat adalah engkau mangasingkan diri dari manusia dalam melakukannnya dengan ikhlas, dan dari dirimu dengan menyaksikan anugerah, maka engkau tidak bisa melihat dirimu di dalamnya, engkau juga tidak melihat para makhluk.
Orang-orang salaf kita yang mulia selalu menjaga agar ketaatan mereka murni karena Allah, tidak pamer di dalamnya dan mencari popularitas. Demikian juga halnya dalam masalah shalat malam. Seorang lelaki bertanya kepada Tamim al-Dari radhiallahuanhu, “Bagaimana salat Anda pada malam hari?” maka Tamim pun marah besar dan berkata, “Demi Allah, satu rakaat yang ku kerjakan pada tengah malam di kesunyian lebih aku cintai dari pada aku salat sepanjang malam kemudian aku ceritakan pada manusia.”
Ayub al-Sakhtiyani rahimahulllah melakukan salat sepanjang malam, maka ketika fajar menyingsing ia kembali terlentang di tempat tidurnya dan ketika shubuh menjelang, dia mengangkat suaranya seakan-akan ia baru bangun pada saat itu. (By. Ircham J. NiZel)


Wednesday, April 07, 2010

PENDIDIKAN INDONESIA YANG MEMPRIHATINKAN


Era pasar bebas ditandai dengan tuntutan dunia kerja yang semakin tinggi terhadap tenaga kerja yang berkualitas. Dan untuk rnendapatkan tenaga kerja yang berkualitas harus dilihat dari kualitas sistem pendidikan yang ada disuatu Negara. Artinya jika suatu Negara memiliki sistem pendidikan yang baik maka sistem itu akan mampu melahirkan tenaga kerja yang baik pula. Begitu juga sebaliknya, jika sistern pendidikan disuatu Negara jelek, maka ia tidak mampu melahirkan tenaga kerja yang berkualitas.
Dan berbicara masalah sistem pendidikan maka tidak bisa lepas dari pembicaraan tentang institusi-institusi yang terkait dengan pendidikan itu sendiri, seperti tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, biaya, anak didik., masyarakat lingkungan serta pemerintah yang jelas sangat diperlukan peranannya. Dari sekian banyak subsistem yang memberikan konstribusi terhadap kualitas proses dan output pendidikan, subsistem tenaga kependidikan telah memainkan peran yang esensial. Itulah sebabnya setiap adanya inovasi pendidikan, khususnya dalam kurikulum dan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang hasilnya dari upah pendidikan selalu bermuara pada faktor guru (pendidik) hal ini menunjukkan betapa eksisnya peran guru dalam pendidikan.
Berbagai pendapat menyatakan bahwa masalah mutu pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal dan negara-negara lain. Hal ini dapat dilihat dari daya saing SDM Indonesia yang masih jauh tertinggal dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Di lihat dari tingkat pendidikan yang dimiliki angkatan tenaga Indonesia masih rendah. Menurut data yang dipublikasikan oleh United Nations Development Program (UNDP) yang memuat angka indeks kualitas SDM (Human Development Indeks - HDI) Tahun 2005 menyebutkan bahwa Indonesia berada pada posisi 110 dari 177 negara di dunia yang di survey. Keadaan tersebut jauh berada di bawah negara-negara tetangga seperti Australia yang berada di urutan ke-3, Singapura ke-25, Korea ke-28, Brunei Darussalam ke-33, Malaysia ke-61, Thailand ke-73, Filipina ke-84, dan China ke-85 sedangkan Timor Leste yang dulu merupakan bagian dari Indonesia meupakan urutan ke-140.
Banyak siswa tidak lulus Ujian Nasional (UN), hasil Ujian Nasional tahun 2005 tingkat SMA di Propinsi Nusa Tenggara Timur 55,91 % tidak lulus dan merupakan angka tertinggi tahun 2005 di Negara Kesatuan Republik Indonesia, disusul oleh Propinsi Papua 55, 02 %, jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Propinsi Jawa Barat siswa tidak lulus SMA sederajat 7,53 %, demikian juga Propinsi Sulawesi Utara 7,39 % tidak lulus. Demikian pula di Yogyakarta 13 Sekolah Lanjutan Tingkat Atas memiliki angka kelulusan 0 %, dan di Semarang 4 sekolah yang semua siswanya tidak lulus, Martinis Yamin (mengutip dari majalah Tempo Edisi 11-17 Juli 2005; 25). Prosentase kelulusan disetiap Propinsi tidak merata. Contohnya. keberhasilan UAN Propinsi Jambi menempati urutan ke-20 dari 33 Propinsi di Indonesia. Jika. dilihat secara keseluruhan hasil UAN untuk SMP, Bengkulu memegang rekor tertinggi 34,97 %, disusul Nanggroe Aceh Darussalam 33,68 %. Bandingkan dengan Propinsi DKI Jakarta yang memiliki angka kelulusan 3,83%.
Rendahnya kualitas pendidikan tersebut merupakan dampak dari rendahnya tenaga kependidikan di Indonesia. Prosesntase guru menurut kelayakan mengajar pada tahun 2002-2003 di berbagai satuan pendidikan sebagai berikut: Untuk SD yang layak mengajar hanya 21,07 % (Negeri) dan 28,94% (Swasta). Untuk SMP 54,12 % (Negeri) dan 60,99 % (Swasta). Untak SMA yang layak mengajar 55,29 % (Negeri) dan 64,73 % (Swasta).
Keadaan yang lebih memprihatinkan dialami oleh sebagian Madrasah. Menurut hasil penelitian di Jakarta Tahun 2001, separuh dari guru Madrasah di Jakarta tidak berkualitas. Hal ini ditandai dengan banyaknya guru dan tenaga pendidikan yang “Salah kamar” (Mismatch) dan “kualitas keilmuan yang tidak memadai” (unqualified atau underqualified). Hanya sekitar 20 % dari total guru Madrasah yang layak (qualified); selebihnya 20 % mismatch; dan 60 % belum atau tidak layak (underqualified atau unqualified).
Sehubungan dengan fakta-fakta tentang keadaan penelitian di Indonesia di atas, maka Harwina Bahar dalam bukunya “Diktat Pemikiran Pendidikan Islam” mengutip pendapat Syaukani tentang hal-hal yang belum diperhatikan oleh pernerintah dalam meningkatkan pendidikan adalah dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Aspek-aspek pemerataan pendidikan, dalam hal ini pemerintah diharapkan menjamin pemerataan dan kesempatan bagi seluruh anak dan sernua lapisan masyarakat untuk mendapat kesempatan belajar dan mengenyam pendidikan.
2. Mengagendakan anggaran pendidikan ke depan.
3. Segitiga kemitraan antara pemerintah, pendidikan dan dunia bisnis.
4. Kesemestaan paradigma pendidikan link and match.

Wallahu a’lam By: Ircham J. Nizel

BUDAYA BACA KEPADA MASYARAKAT PEMBACA

Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi (iptek), telah menuntut kepada masyarakat dunia agar mengikuti perkembangan yang selalu ada. Sifat iptek yang sangat dinamis, banyak menyisakan masyarakat yang tidak banyak disentuh oleh peradaban baru ciptaan iptek. Menjadi semakin terpuruk ke belakang. Kondisi demikian memperbesar disparitas kemajuan antara satu komunitas masyarakat dengan masyarakat yang lain.
Tekad pemerintah untuk menutupi segala kekurangan yang ada telah banyak dilakukan, mulai dari Program Keluarga Harapan (PKH), Subsidi Beras Untuk Rakyat Miskin (RASKIN), Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS), Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri) sampai  Kridet Usaha Rakyat (KUR) yang khususnya ditujukan bagi masyarakat dibawah garis standar kewajaran.
Tetapi kunci untuk meningkatkan sumber daya manusia, yakni pendidikan belum mendapatkan perhatian yang penuh, dibanding dengan bidang lainnya meski sudah ada Bantuan Operasional Sekolah (BOS), namun dalam pelaksanaannya masih sebatas lingkungan sekolah saja. Sedangkan dilingkungan lain masih terasa belum mencukupi sebut saja seperti lingkungan karangtaruna Desa, Masjid-masjid, Taman Hiburan Rakyat (THR) atau tempat-tempat strategis lainnya yang bisa mudah diakses oleh masyarakat. Belum ada semacam taman bacaan untuk masyarakat yang berada dibawah garis standar kewajaran. Sedangkan pendidikan merupakan bidang yang perlu mendapatkan akselerasi yang tangguh. Sehingga dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur serta masyarakat yang berdaya, dapat terealisir dalam jangka pendek.
Pada sisi lain budaya masyarakat kita yang masih mempergunakan bahasa lisan sebagai budaya umum, maka perlu dicarikan alternatif yang lebih cepat mengakses informasi yang valid dan realible. Upaya yang sangat mendasar untuk mendorong kemajuan pendidikan dan pemberian informasi yang akurat adalah dengan mendirikan Perpustakaan baik dilingkungan desa, masjid-masjid, taman hiburan masyarakat dan lain sebagainya. Apalagi pertanggungjawaban dari lisan kurang bisa dirasakan untuk kegiatan yang bersifat ilmiah. Disinilah letak informasi dan data lebih dapat dipertanggungjawabkan kepada para penggunanya. Lebih dari itu, perpustakaan akan membawa masyarakat untuk bisa lebih menghasilkan karya-karya yang sistematis dan logis, maka tidak heran jika intelectuall exercise menjadi wadah yang memadai. Karenanya kebutuhan akan buku dan informasi lainnya merupakan condition sine quo (syarat mutlak) dalam memberikan pengertian dan pemahaman kepada masyarakat. By. Ircham J. Nizel


PENDIDIKAN SEKS REMAJA MASIH TABUKAH … ?

Usia remaja adalah usia yang rawan, dan seringkali menerima apa saja yang datangnya dari luar, dimana kemampuan berpikir logis mulai berkembang. Kemajuan teknologi yang bermanfaat bagi pendidikan akan mempercepat perkembangan daya tangkap dan pemahamannya, namun kemampuan menyaring dan memilih yang baik dan buruk belum tumbuh sempuma, kecenderungan untuk meniru masih tinggi, segala bentuk tingkah laku dalam kehidupan banyak terpengaruhi oleh hal-hal yang terlihat, terbaca dan terdengar. Apabila yang disajikan dalam bentuk yang positif maka, hal tersebut tidak jadi masalah. Akan tetapi, lain halnya apabila yang disajikan dalam bentuk yang negatif tentunya akan berpengaruh kepada tingkah laku dan kepribadiannya. Oleh karena itu perlunya diberikan pendidikan yang menyeluruh baik itu pendidikan yang berupa pendidikan agama atau pendidikan lainnya yang diberikan oleh orang tua atau orang dewasa lainnya.
Pendidikan merupakan salah satu hal yang penting dalam pembentukan karakter manusia, Dalam perkembangan istilah pendidikan atau pedagogis berarti bimbingan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa.
Selanjutnya, pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang agar ia menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.
Pembinaan moral yang dilakukan dalam pendidikan salah satunya adalah
dengan memberikan pendidikan seks yang benar pada anak. Pendidikan seks yang dimaksud adalah pendidikan seks yang berdasarkan kepada ajaran-ajaran Islam.
Berbicara mengenai pendidikan seks tidak terlepas dari sikap pro dan
kontra. Alasan mereka yang bersikap kontra adalah mereka menganggap bahwa seks merupakan masalah yang tabu untuk dibicarakan. Mereka menganggap bahwa seks itu jorok, cabul, dan porno. Namun demikian, banyak dari ilmuwan yang menganggap penting memberikan pendidikan seks yang benar bagi generasi muda. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran mereka terhadap anggapan yang salah dari para pelajar, yang menganggap bahwa seks adalah sesuatu hal yang dianggap permainan. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa adanya usaha untuk memberikan pendidikan seks yang sesuai dengan ajaran Islam maka, tidak mustahil akan tercipta keadaan a moral dan seks bebas.
Pendidikan seks merupakan suatu proses kegiatan yang berlangsung secara dialogis, realistis, jujur, terbuka, dan bukan dikter moral belaka. Pendidikan seks memberikan pengetahuan yang nyata, menempatkan seks pada cara melihat yang pas, berhubungan dengan self-esteem (rasa penghargaan terhadap diri), penanaman rasa percaya diri, dan difokuskan pada peningkatan ke mampuan dalam mengambil keputusan.
Pendidikan seks juga membantu mereka mengenali anggota tubuh
jasmaninya sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan dirinya.
Kebanyakan orang tua menganggap bahwa pendidikan seks itu hanya berisi tentang pemberian informasi alat kelamin dan berbagai macam posisi dalam berhubungan seks. Hal ini tentunya membuat kawatir para orang tua, apalagi dengan pemberian informasi seperti itu justru kita cenderung untuk mencobanya. Hal inilah yang perlu diluruskan.
Remaja perlu mendapatkan informasi atau pendidikan seks karena mereka sedang mengalami masa pubertas, mempunyai dorongan atau keinginan yang kuat tentang perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Biasanya hal tersebut dialami oleh remaja awal atau mereka yang berusia 12- 16 tahun. Selain itu, mulai timbul rasa ketertarikan pada lawan jenis. Dipihak lain, arus informasi memberikan tawaran yang mengarah pada seksual yang vulgar. Maka, pendidikan seks diperlukan untuk memberikan penjelasan yang lengkap dan benar soal seks. Dengan demikian, saat kita digempur oleh informasi seks yang vulgar, ditambah rasa ingin tahu yang besar, kita tidak kebablasan. Akan tetapi, yang lebih penting lagi adalah menjaga hawa nafsu kita dari pengaruh yang ditimbulkan oleh seks dengan jalan berpuasa atau menyalurkannya dengan jalan pernikahan. Dengan pernikahan kesucian seksual pun dapat terjaga sehingga masalah seksual yang dianggap hina dan kotor, dianggap mulia oleh Islam. By. Ircham J. Nizel
Referensi
1.Sudirman N.,dkk., Ilmu Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosda Kaiya, 1992
2.Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: PT. A1-Ma’rif, 1992
3.Hj. Nur Uhbiyat, Ilmu Pendidikan Islam 2, Bandung: CV. Pustaka Setia, cet ke-1.

Tuesday, April 06, 2010

GERAKAN PEMBAHARUAN DI MINANGKABAU


Minangkabau merupakan suatu daerah dan bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menarik untuk diteliti, karena garis keturunan ditarik dari garis keturunan ibu (matrilineal) mulai dari lingkungan yang terkecil, dari keluarga sampai kepada yang lebih besar seperti Nagari. Keturunan menurut garis keturunan ibu ini merupakan ajaran adat Minangkabau, yang memberikan corak berbeda dengan daerah-daerah lain dalam wilayah Indonesia, yang mengambil keturunan berdasarkan garis keturunan bapak, atau bapak dari ibu. Begitu juga dengan pembagian harta pusako tinggi, yang diberikan kepada anak perempuan.
Daerah Minangkabau bahagian terbesarnya merupakan termasuk ke dalarn Propinsi Sumatera Barat sekarang. Minangkabau mempunyai daerah-daerah yang terdiri dari daerah asal (darek) dan daerah rantau. Yang dirnaksud dengan daerah darek adalah daerah tempat mulai berkembangnya orang Minangkabau. Daerah darek ini dikenal dengan sebutan Luhak Nan Tigo, yaitu Luhak Agarn, Luhak Limo Puluh Kota, dan Luhak Tanah Datar. Sedangkan yang dimaksud dengan daerah rantau adalah daerah-daerah jajahan kerajaan Minangkabau atau daerah-daerah peeluasan Minangkabau seperti, daerah Kampar di Propinsi Riau, sarnpai ke Negeni Sembilan Malaysia. Narnun sekarang daerah Sumatera Barat identik dengan Minang, karena asal berkernbangnya Minangkabau berada dalarn wilayah propinsi Sumatera Barat.
Adat Minangkabau merupakan adat yang telah larna berlaku di daerah
Surnatera Barat, jauh sebelum Islam masuk ke Surnatera Barat, adat Minangkabau sudah ada, yang bercirikan kepada masyarakat Hindu dan Budha.
Kedatangan Islam ke Minangkabau menyempurnakan adat Minangkabau, karena ada titik persamaan dari pokok-pokok ajaran adat Minangkabau dengan ajaran agama Islam (syara’). Hal ini dapat dilihat seperti ajaran adat Minangkahau bahwa, orang Minangkabau disuruh mengambil pelajaran dari alam sekitarnya, sehingga lahirlah pepatah, “alam takambang jadi guru “, dan hasil pelajaran itu dijadikan sebagai ajaran yang akan menuntun mereka di dalam kehidupan bermasyarakat. Sedangkan dalam ajaran agarna Islam, alam itu merupakan ayat-ayat Allah dan manusia disuruh untuk memperhatikan dan mernikirkannya.
Sistem adat Minangkabau yang unik itu, semakin menarik kalau dilihat lagi dalam hubungannya dengan Islam. Menurut filsafat hidup orang Minangkabau, tidak ada pertentangan antara adat dan agama. Antara adat dan agama berjalan secara sinergis, tanpa harus ada pertentangan antara keduanya. Hubungan antara adat dan agama tersebut diungkapkan dalarn sebuah falsafah yang sangat terkenal dalam lingkungan masyarakat Minangkabau; “Adat Basandi Syaru’, Syaru’ Basandi Kitabullah. Syara’ Mangato Adat Mamakai. Cermin Nan Indak Kabua, Palito Nan
Indak Padam.
Dalam perjalanan sejarahnya, Islam di Minangkabau mengalarni beberapa
kali pembaharuan. Gelombang pembaharuan Islam di Minangkabau pertama kalinya
dimotori oleh tiga orang ulama Minang yang pulang dan Mekkah pada tahun 1803 M. Sesuai dengan ilmu yang mereka dapat selama belajar di Mekkah, maka mereka
berpendapat bahwa masyarakat Minangkabau telah menyimpang dari ajaran Rasulullah. Praktek agama di Minangkabau saat itu menurut mereka sudah berbau
syirik, khurafat, dan bid’ah. Di samping itu banyak ajaran-ajaran adat yang tidak
sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam. Ketiga orang Haji ini yakni, Haji Sumaniak, Haji Miskin, dan Haji Piobang, berkeinginan untuk mengadakan
pembaharuan di Minangkabau dengan mengembalikan kehidupan masyarakat
Minangkabau sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadis.
Keinginan mereka ini terinspirasi dari gerakan Wahabi yang mengadakan pembaharuan di Mekkah. Pembaharuan yang dilakukan tiga orang itu juga diwarnai dengan kekerasan
yang mengakibatkan terjadinya konflik antara kaum adat dan kaurn agama. Konflik
berkepanjangan antara kaum adat dan kaum agama ini berlangsung hampir selama 20
tahun (18034-1837 M), hal ini mengakibatkan campur tangan penjajah Belanda dengan
alasan membantu kaum adat, maka pecahlah peperangan terbuka antara pihak kaum adat yang dibantu oleh Belanda dengan kaum agama yang disebut dengan Perang Paderi. Dalam peperangan tersebut akhirnya kaum adat menyadari bahwa musuh yang sebenarnya adalah Belanda, sehingga merekä berbalik menyerang Belanda. Sampai pada akhirnya Belanda berhasil menduduki daerah Minangkabau.
Kekalahan yang diderita oleh kaum Paderi rnengakibatkan terjadinya kemunduran pembaharuan Islam di Minangkabau. Kekalahan tersebut tidak menyebabkan masyarakat Minang menyerah begitu saja, hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya orang tua yang menyekolahkan anaknya ke negeri Mekkah.
Pada awal abad ke-20 gerakan pembaharuan di Minangkabau muncul kembali. Minangkabau menghadapi pembaharuan tahap kedua yang telah memunculkan kegelisahan dan kekhawatiran di tengah-tengah masyarakat Minang. Pembaharuan tahap kedua ini dilaksanakan oleh murid-murid Syekh Ahrnad Khatib Minangkabawi yang baru pulang dari Mekkah. Kondisi sikap keberagamaan dan tradisi yang sudah turun temurun yang tidak dapat dirobah kembali mendapat tantangan dari kelompok pembaharu. Pembaharuan tahap kedua tampil dengan corak yang berbeda dengan yang dilakukan oleh gerakan Paderi. Gerakan Paderi lebih cenderung mengedepankan corak militerisme, tetapi pembaharuan tahap dua lebih kepada pergolakan inteletual. Hal ini dapat dilihat dengan dimunculkannya majalah-majalah, diadakannya perdebatan umum, dibentuknya organisasi-organisasi masyarakat dan didirikannya sekolah-sekolah yang bercorak modern.
Tokoh-tokoh yang memotori pembaharuan tahap kedua ini ialah empat orang yang baru pulang dari Mekkah yaitu, Haji Muhammad Djamil Jambek, Haji Abdullah Ahmad, Haji Abdul Karim Amrullah, dan Haji Muhammad Thaib Umar. Mereka ini dan orang yang setuju dengan gerakan yang mereka rintis disebut dengan Kaum Mudo. Gerakan yang mereka lakukan mampu menghidupkan kembali pendidikan Islam di Minangkabau. Hal ini dibuktikan dengan didirikannya madrasah-madrasah dengan mencontoh sistem pendidikan ala barat, yang langsung mendapat respon positif dari masyarakat dengan memasukkan anak-anak mereka ke madrasah-madrasah tersebut.
Gerakan pembaharuan Kaum Mudo dalam pendidikan ini membuat lembaga-lembaga pendidikan tradisional seperti surau hampir kehilangan eksistensinya. Hal ini langsung disikapi oleh pengelola surau dengan mengadakan pembaharuan terhadap surau yang mereka kelola dengan merombak surau tersebut menjadi Madrasah.
By. Ircham J. Nizel
Referensi

1.      M.D Mansoer Dkk, SejarahMinangkabau, Jakarta, Bhatara, 1970
2.      Idrus Hakimi Dt. Rajo Panghulu, Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di
Minangkabau,
Bandung: PT. Rosdakarya, 1991
3.      Murodi, Melacak Asal Usul Gerakan Paderi di Sumaiera Barat, Jakarta: PT. Logos, 1999


Wednesday, March 24, 2010

Konsistensi Membangun Islam Yang Damai


Bagi masyarakat awam, Gus Dur adalah sosok kontroversial, terutama bila melihat sikap-sikap politiknya. Tak banyak yang mengetahui, bahwa di balik guyonannya, tersimpan keteguhan usaha dalam mendewasakan pemikiran masyarakat muslim, khususnya menghadapi kondisi Indonesia yang multi kultur. Apa yang kita ingat dari sosok Gus Dur? Banyak acara parodi-parodi politik di stasiun televisi nasional menerjemahkan Gus Dur dengan kalimat sederhana: “Gitu aja kok repot.” Ya, itulah sebagian dari guyonan Gus Dur yang lekat di pikiran masyarakat. Gus Dur kadang pula disebut tokoh yang tak punya prinsip dalam bersikap secara politik. Kadang ke kiri, ke kanan, ke atas atau ke bawah. Sebagai cendikiawan muslim, sebenarnya Gus Dur –bernama asli K.H. Abdurrahman Wahid— sudah lama mengisi kancah pemikiran Islam di bumi pertiwi. Namanya bahkan sudah mencuat jauh sebelum dirinya didapuk menjadi Presiden RI tahun 1999. Prinsipnya sangat simpel, yakni anti-diskriminasi. Dari prinsip tersebut, lahirlah gagasan pluralisme dalam Islam. Dalam peta pemikiran Islam di tanah air, Gus Dur seringkali disejajarkan dengan pemikir seperti Nurcholish Majid dan Dawam Rahardjo. Ketiganya memiliki cara berpikir linier mengenai Islam yang plural sehingga dapat diterima di alam Indonesia. “Sebenarnya, nada-nada yang dimainkan Gus Dur, Dawam sampai Cak Nur (Nurcholish Majid) hampir mirip. Cuma ada tone (bunyi nada) yang berbeda dari Gus Dur,” kata Rumadi, salah satu peneliti di Wahid Institute. Dia menilai ada dua hal yang menjadi ciri khas dari sikap dan pemikiran Gus Dur yang menjadi pembeda. Pertama, yakni konsistensinya terhadap pluralisme beragama di Indonesia. Rumadi melihat sangat jarang cendikiawan Indonesia yang sangat konsisten sebagaimana Gus Dur. Di samping kebebasan beragama, kebebasan berfikir dan aspek-aspek kebebasan lain juga terus-menerus didengungkan Gus Dur. Dalam hal ini, Gus Dur tidak hanya berjuang dalam tataran wacana saja, melainkan mewujudkannya dalam bentuk nyata, seperti menulis. “Dia sangat konsisten membela kelompok minoritas,” tambahnya. Kedua, adalah keyakinan yang sangat kuat terhadap apa yang ia anggap benar. Rumadi, yang sering pula menyunting buku-buku karangan Gus Dur, bahkan berani berujar tak ada satu pun orang yang mampu menggoyahkan pendirian Gus Dur. “Dia itu tidak perduli dicaci maki, dianggap zionis atau kafir dan semacamnya. Dia tetap jalan terus.” Bagi Rumadi, pemikiran Cak Nur mirip dengan Gus Dur. Cak Nur juga konsisten dalam pendirian pemikiran, hanya saja Gus Dur gagasannya lebih tinggi dosisnya. Tanpa tedeng alin-aling. Dia tetap melakukan itu meski dianggap kerja yang tidak populer dan cenderung dipandang kontroversial. Belum lagi, candaannya yang kadang bikin kita tersenyum, kadang pula memaksa kita berpikir ulang tentang sesuatu. “Guyonannya punya makna,” ucap Rumadi singkat, saat menjelaskan sisi filosofis dari gurauan-gurauan Gus Dur. Selama ini gurauan Gus Dur bukan cuma kelakar semata. Mantan ketua PBNU itu menggunakan lelucon sebagai senjata kulturalnya untuk melawan. Lelucon sebenarnya bukanlah alat untuk keluar dari kepengapan sesaat, namun lebih berfungsi mengidentifikasi masalah yang selama ini sulit dikeluarkan dengan cara yang tak lazim. Toh, dengan gaya celoteh khas Jawa Timuran itu tetap tidak membuat Gus Dur disenangi oleh semua lapisan masyarakat. Pendirian teguh dari Gus Dur ini, jelas Rumadi, masih dikatakan kontroversial, sebab tingkat kedewasaan beragama dari masyarakat kita belum tumbuh. “Ketika Gus Dur bicara, dia membahas Islam juga berkaitan perannya sebagai bangsa. Tidak mendiskriminasi salah satunya,” kata Rumadi. Ambil contoh kasus Ahmadiyah. Secara pribadi, Rumadi mengaku berbeda dalam cara beribadah dengan Ahmadiyah. “Saya tak peduli apakah Ahmadiyah menyembah siapa, apakah itu pohon sekalipun,” ujar Rumadi, sambil mengikuti gaya kelakar Gus Dur. Yang menjadi perhatian adalah haknya sebagai warga negara untuk dihargai. Jika mereka dianggap menodai agama, maka hendaknya diselesaikan secara hukum. Penghormatan keberadaan kelompok yang berbeda tanpa sikap diskriminatif inilah yang terus diperjuangkan Gus Dur. Pada masa kepemimpinan Gus Dur, keteguhan ini pun dibuktikan dengan pengakuan eksistensi etnis minoritas Tionghoa dalam menjalani kebudayaan dan kepercayaannya. Bagi Rumadi, Gus Dur memandang kelompok Islam garis keras atau fundamentalis sebagai sesuatu yang layak dihargai. Apalagi di iklim demokratis seperti sekarang. Yang tidak diperbolehkan adalah ketika ada kelompok mengganggu kelompok lain. Begitu pula jika sampai memasuki masalah kebangsaan, soal pun jadi lain. Gus Dur memandang sesuatu yang berbeda sebenarnya bukahlah untuk dibeda-bedakan. Ini terjadi karena latar belakangnya sebagai santri dan ahli fikih. Di tradisi pesantren, santri diajarkan untuk melihat tidak ada kebenaran yang tunggal dalam ilmu fikih. Di samping itu, Gus Dur juga gemar membaca ilmu-ilmu lain selain ilmu agama, seperti antropologi, sosiologi dan filsafat. Dimensi keilmuannya sangat luas. Selain membaca, Gus Dur juga hobi bermain bola, catur dan musik. Dahulu, Gus Dur bahkan pernah diminta menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya adalah menonton bioskop. Dia memiliki apresiasi yang mendalam dalam dunia perfilman. Inilah sebabnya mengapa Gus Dur pernah diangkat sebagai Ketua Juri Festival Film Indonesia 1986-1987. Latar belakang pesantren pula membentuk sikap politiknya sering disebut sebagian orang mbalelo, tak punya prinsip atau cenderung ikut-ikutan. “Orang pesantren itu punya ukuran, punya tujuan. Tapi wasilah-nya (caranya) berbeda,” ucap Rumadi. Rumadi menambahkan, sikap yang tak jelas dari Gus Dur semacam itu dikarenakan dia berhadapan dengan situasi politik praktis. Sikap tertentu mau tak mau harus diambil, tapi jika hal itu mendiskriminasi kelompok dia punya sikap jelas. Tentu ada resiko dari sikap tersebut, bisa dijadikan alat tembak bagi lawan politik. Namun itu hal biasa dalam dunia politik, kata Rumadi. Kita sebagai bangsa harus diakui masih dalam tahap pembelajaran. Mendefinisikan diri sebagai muslim Indonesia saja tidak mudah, apalagi mendefinisikan orang lain. Banyak dari kita sudah merasa cukup tahu, hingga hal itu jadi kebenaran final. Apa yang telah disumbangkan Gus Dur adalah belajar bagaimana beragama sekaligus hidup bersama dengan yang lain. Termasuk bagaimana memposisikan negara, bagaimana negara melindungi warganya dan tak mendiskriminasi kelompok yang lemah. [Ircham J. Nezel]