“Wahai jiwa, ikhlaslah!, maka engkau akan merdeka”. Itulah motto kaum salaf pilihan. Itu tidak mengherankan, karena ikhlas kepada Allah Swt. adalah ruh ketaatan, inti pendekatan, kunci diterimanya segala kebaikan dan sebab pertolongan Tuhan alam semesta. Pada niat, keikhlasan dan kejujuran terhadap Allah dalam kehendak baik-Nya terdapat pertolongan Allah terhadap hamba-Nya yang beriman.
Dalam firman-Nya, Allah Azza wa jalla telah memerintahkan kita untuk ikhlas dalam berbuat,
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS. Al-Bayyinah : 5).
Allah juga telah memperingatkan kita akan akhir menyedihkan yang akan menimpa orang yang mengerjakan ketaatan, tapi tidak karena mengharap ridha Allah. Seperti menginginkan pujian, pangkat, derajat, dan ketenaran di antara manusia.
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Al-Zumar : 65).
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Al-Zumar : 65).
Rasul Saw. telah memberitahu kita tentang siksaan pedih yang sedang menunggu orang yang melakukan ketaatan karena pamer, mencari dunia dan ketenaran.
“Dari Ubay bin Ka’ab ra, bahwasanya Nabi Saw bersabda, “Berilah kegembiraan umat ini dengan keagungan, agama, keluhuran, pertolongan, dan kekuatan di bumi. Maka barang siapa yang melakukan perbuatan akhirat untuk dunia di antara mereka maka tiada bagian baginya di akhirat.” (HR. Ahmad dan Hakim).
“Dari Ubay bin Ka’ab ra, bahwasanya Nabi Saw bersabda, “Berilah kegembiraan umat ini dengan keagungan, agama, keluhuran, pertolongan, dan kekuatan di bumi. Maka barang siapa yang melakukan perbuatan akhirat untuk dunia di antara mereka maka tiada bagian baginya di akhirat.” (HR. Ahmad dan Hakim).
Orang-orang salaf kita pun mendorong untuk ikhlas dalam beramal semata-mata karena Allah. Muthorrif bin al-Syahir rahimahullah berkata, “Bagusnya pekerjaan terletak pada bagusnya hati, dan bagusnya hati terletak pada bagusnya niat, dan barangsiapa membersihkan maka akan dibersihkan, dan barang siapa memperkeruh maka akan diperkeruh.”
Abu Ali al-Rudzbari rahimahullah berkata, “ Ilmu itu terhenti pada pengamalan, dan amal itu terhenti pada keikhlasan, sedangkan ikhlas kepada Allah akan memberikan pemahaman tentang Allah Azza wa jalla. Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Amal yang paling bermanfaat adalah engkau mangasingkan diri dari manusia dalam melakukannnya dengan ikhlas, dan dari dirimu dengan menyaksikan anugerah, maka engkau tidak bisa melihat dirimu di dalamnya, engkau juga tidak melihat para makhluk.
Orang-orang salaf kita yang mulia selalu menjaga agar ketaatan mereka murni karena Allah, tidak pamer di dalamnya dan mencari popularitas. Demikian juga halnya dalam masalah shalat malam. Seorang lelaki bertanya kepada Tamim al-Dari radhiallahuanhu, “Bagaimana salat Anda pada malam hari?” maka Tamim pun marah besar dan berkata, “Demi Allah, satu rakaat yang ku kerjakan pada tengah malam di kesunyian lebih aku cintai dari pada aku salat sepanjang malam kemudian aku ceritakan pada manusia.”
Ayub al-Sakhtiyani rahimahulllah melakukan salat sepanjang malam, maka ketika fajar menyingsing ia kembali terlentang di tempat tidurnya dan ketika shubuh menjelang, dia mengangkat suaranya seakan-akan ia baru bangun pada saat itu. (By. Ircham J. NiZel)
Abu Ali al-Rudzbari rahimahullah berkata, “ Ilmu itu terhenti pada pengamalan, dan amal itu terhenti pada keikhlasan, sedangkan ikhlas kepada Allah akan memberikan pemahaman tentang Allah Azza wa jalla. Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Amal yang paling bermanfaat adalah engkau mangasingkan diri dari manusia dalam melakukannnya dengan ikhlas, dan dari dirimu dengan menyaksikan anugerah, maka engkau tidak bisa melihat dirimu di dalamnya, engkau juga tidak melihat para makhluk.
Orang-orang salaf kita yang mulia selalu menjaga agar ketaatan mereka murni karena Allah, tidak pamer di dalamnya dan mencari popularitas. Demikian juga halnya dalam masalah shalat malam. Seorang lelaki bertanya kepada Tamim al-Dari radhiallahuanhu, “Bagaimana salat Anda pada malam hari?” maka Tamim pun marah besar dan berkata, “Demi Allah, satu rakaat yang ku kerjakan pada tengah malam di kesunyian lebih aku cintai dari pada aku salat sepanjang malam kemudian aku ceritakan pada manusia.”
Ayub al-Sakhtiyani rahimahulllah melakukan salat sepanjang malam, maka ketika fajar menyingsing ia kembali terlentang di tempat tidurnya dan ketika shubuh menjelang, dia mengangkat suaranya seakan-akan ia baru bangun pada saat itu. (By. Ircham J. NiZel)

No comments:
Post a Comment