Usia remaja adalah usia yang rawan, dan seringkali menerima apa saja yang datangnya dari luar, dimana kemampuan berpikir logis mulai berkembang. Kemajuan teknologi yang bermanfaat bagi pendidikan akan mempercepat perkembangan daya tangkap dan pemahamannya, namun kemampuan menyaring dan memilih yang baik dan buruk belum tumbuh sempuma, kecenderungan untuk meniru masih tinggi, segala bentuk tingkah laku dalam kehidupan banyak terpengaruhi oleh hal-hal yang terlihat, terbaca dan terdengar. Apabila yang disajikan dalam bentuk yang positif maka, hal tersebut tidak jadi masalah. Akan tetapi, lain halnya apabila yang disajikan dalam bentuk yang negatif tentunya akan berpengaruh kepada tingkah laku dan kepribadiannya. Oleh karena itu perlunya diberikan pendidikan yang menyeluruh baik itu pendidikan yang berupa pendidikan agama atau pendidikan lainnya yang diberikan oleh orang tua atau orang dewasa lainnya.
Pendidikan merupakan salah satu hal yang penting dalam pembentukan karakter manusia, Dalam perkembangan istilah pendidikan atau pedagogis berarti bimbingan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa.
Selanjutnya, pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang agar ia menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.
Pembinaan moral yang dilakukan dalam pendidikan salah satunya adalah
dengan memberikan pendidikan seks yang benar pada anak. Pendidikan seks yang dimaksud adalah pendidikan seks yang berdasarkan kepada ajaran-ajaran Islam.
Berbicara mengenai pendidikan seks tidak terlepas dari sikap pro dan
kontra. Alasan mereka yang bersikap kontra adalah mereka menganggap bahwa seks merupakan masalah yang tabu untuk dibicarakan. Mereka menganggap bahwa seks itu jorok, cabul, dan porno. Namun demikian, banyak dari ilmuwan yang menganggap penting memberikan pendidikan seks yang benar bagi generasi muda. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran mereka terhadap anggapan yang salah dari para pelajar, yang menganggap bahwa seks adalah sesuatu hal yang dianggap permainan. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa adanya usaha untuk memberikan pendidikan seks yang sesuai dengan ajaran Islam maka, tidak mustahil akan tercipta keadaan a moral dan seks bebas.
Pendidikan seks merupakan suatu proses kegiatan yang berlangsung secara dialogis, realistis, jujur, terbuka, dan bukan dikter moral belaka. Pendidikan seks memberikan pengetahuan yang nyata, menempatkan seks pada cara melihat yang pas, berhubungan dengan self-esteem (rasa penghargaan terhadap diri), penanaman rasa percaya diri, dan difokuskan pada peningkatan ke mampuan dalam mengambil keputusan.
Pendidikan seks juga membantu mereka mengenali anggota tubuh
jasmaninya sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan dirinya.
Kebanyakan orang tua menganggap bahwa pendidikan seks itu hanya berisi tentang pemberian informasi alat kelamin dan berbagai macam posisi dalam berhubungan seks. Hal ini tentunya membuat kawatir para orang tua, apalagi dengan pemberian informasi seperti itu justru kita cenderung untuk mencobanya. Hal inilah yang perlu diluruskan.
Remaja perlu mendapatkan informasi atau pendidikan seks karena mereka sedang mengalami masa pubertas, mempunyai dorongan atau keinginan yang kuat tentang perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Biasanya hal tersebut dialami oleh remaja awal atau mereka yang berusia 12- 16 tahun. Selain itu, mulai timbul rasa ketertarikan pada lawan jenis. Dipihak lain, arus informasi memberikan tawaran yang mengarah pada seksual yang vulgar. Maka, pendidikan seks diperlukan untuk memberikan penjelasan yang lengkap dan benar soal seks. Dengan demikian, saat kita digempur oleh informasi seks yang vulgar, ditambah rasa ingin tahu yang besar, kita tidak kebablasan. Akan tetapi, yang lebih penting lagi adalah menjaga hawa nafsu kita dari pengaruh yang ditimbulkan oleh seks dengan jalan berpuasa atau menyalurkannya dengan jalan pernikahan. Dengan pernikahan kesucian seksual pun dapat terjaga sehingga masalah seksual yang dianggap hina dan kotor, dianggap mulia oleh Islam. By. Ircham J. Nizel
Referensi
1.Sudirman N.,dkk., Ilmu Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosda Kaiya, 1992
2.Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: PT. A1-Ma’rif, 1992
3.Hj. Nur Uhbiyat, Ilmu Pendidikan Islam 2, Bandung: CV. Pustaka Setia, cet ke-1.

No comments:
Post a Comment