Wahai pendidik para generasi yang melahirkan para tokoh…
Wahai engkau yang dimuliakan Allah dengan diembani tugas sebagaimana tugas para nabi dan rasul. (semoga keselamatan dan kesejahteraan bagi mereka). Salam sejahtera, rahmat Allah dan berkahNya semoga tercurah pada kalian. Waba’du.
Wahai orang yang dimuliakan Allah dengan al-Islam. Ingatlah, bahwa pendidik muslim mengemban misi paling mulia serta menunaikan amanah paling agung, dan bahwa kebaikan risalahnya diambil dari kemuliaan risalah itu sendiri. Terlebih panutannya dalam misi tersebut adalah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, guru sekalian manusia sekaligus pendidik mereka. Siapakah orang yang lebih mulia profesinya dari para pendidik? Adakah para pegawai (pekerja) dan pedagang? Ataukah para insinyur dan pengusaha? Atau mungkin dokter dan petani?
Seluruh mereka dan lainnya yang menyebar di tengah masyarakat, tak lain adalah produk tarbiyah para pendidik juga. Hasil didikan dari para pendidik, mereka bisa menjadi seperti sekarang dan karenanya pula mereka bisa eksis. Dari itulah para pendidik merasa bahagia diliputi bangga manakala melihat anak-anak didik mereka menjadi seperti mereka; insinyur, dokter, ahli seni dan praktisi dan begitu seterusnya…
Wahai orang yang mengemban tugas mempersiapkan generasi bagi umat dan mendidik para calon tokoh masa depan yang nantinya mereka diharapkan memegang kendali dan tugas-tugas kenegaraan, membangun peradaban umat serta mengemban misinya…. Ingatlah, engkau adalah pondasi, landasan utama serta batu pertama dalam bangunan peradaban umat. Engkau mengemban tanggung jawab secara penuh. Maka jadilah engkau orang yang mampu (ahli) dalam penunaian risalah agung ini, yang urgensitasnya sebagaimana digambarkan secara jelas oleh seorang penyair:
Tahukah ia, orang yang paling mulia
Yaitu yang berhasil membangun pribadi pribadi serta akal akal pikiran
Juga ucapan penyair lain:
Menurut pandangan dan penglihatanku
Seorang pendidik adalah laksana cahaya
orang yang bingung mendapat petunjuk denganya
Sekiranya tanpa pendidik, peradaban kita tak bisa bertambah maju
Dan tidak akan meninggi ihwalnya
Wahai nahkoda kapal yang mahir, yang ia harus menahkodai kapalnya dengan teliti disertai perhatian serius dan penuh agar ia sampai ke pulau tujuan bersama para penumpangnya dengan selamat dan aman… Ingatlah bahwa mendidik adalah seni sekaligus ilmu serta misi yang sangat agung dan luhur bagi siapa saja yang diberi taufiq oleh Allah untuk mampu mengembanya. Terlebih, tarbiyah tersebut sangat ditentukan dan bergantung kepada sang guru untuk mengetahui kondisi murid-muridnya serta pelbagai problematika yang mereka hadapi, kebaikan sikap serta pemahaman mereka kepada kondisi-kondisi murid. Maka dari itu, berupayalah sekuat tenaga -semoga Allah memberikan keberkahanNya kepadamu- untuk menyempurnakan tugas utamamu (sebagai pendidik), yaitu dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan tidak menyia-nyiakannya. Tempatkanlah selalu -di depan pelupuk matamu- perintah takwa kepada Allah serta perasaan selalu diawasi Allah (Muraqabatullah) di setiap waktu dan tempat.
Alangkah indah ucapan salah seorang penyair:
Jika di suatu hari engkau sedang sendirian
Jangan katakan, ‘ Aku seorang diri ‘ akan tetapi katakan
Selalu ada yang mengawasiku.
Jangan sangka Allah lengah dalam sekejab
Dan Jangan kira apa yang kau sembunyikan terlewat dari pengawasan-Nya.
Hai orang yang memayahkan dirinya serta mengorbankan sejumlah waktunya, mengorbankan banyak dan lebih banyak lagi, demi mengemban risalah yang dibawanya, yang di tengah itu ia menjumpai pelbagai kendala dan beragam rintangan… Janganlah engkau lupa bahwa semua itu akan ada pahalanya -Insya Allah- selagi kau lakukan dengan ikhlas untuk Allah semata dan engkau mampu bersabar dan hanya berharap balasanNya saja. Tidak ada pekerjaan yang tidak mengandung kepayahan dan tidak ada kesuksesan tanpa didahului begadang di malam hari. Betapa indahnya bait syair yang menggambarkan profesi mengajar dan mendidik berikut:
Betapa baik profesi mengajar jika tanpa rintangan
Orang yang buruk akhlaknya, orang bodoh ataupun sombong
Atau yang memiliki kedunguan yang tidak mengerti pelajaranya
Ia memiliki ucapan ucapan prosa seperti bait bait
Wahai orang yang merasa tinggi dan mulia di atas sahabat-sahabatnya yang bekerja di bidang-bidang lain atau di luar kependidikan…. Cukuplah kecintaanmu pada profesi tersebut sebagai modal tertinggi yang engkau boleh merasa bangga dan mulia karenanya, juga penghormatan serta penghargaan yang anda dapatkan ke mana saja engkau pergi dan di mana saja engkau berada, dari mereka yang dulunya menjadi murid-muridmu sementara sekarang telah menjadi orang-orang berhasil dan penting. Dan ingatlah bahwa anak-anak yang sekarang sedang duduk di depanmu di atas bangku-bangku studi adalah generasi masa depan yang dinantikan dan diharapkan serta bangunan-bangunan yang dipersiapkan untuk masa depan yang cerah -insya Allah-.
Ketahuilah, bahwa para pelajar adalah laksana medali di dadamu. Jika seseorang merasa bangga dengan satu medali yang diraihnya setelah mampu melakukan suatu amal dan karya besar nan mulia yang ia lakukan dalam jangka waktu yang lama, maka sang pendidik setiap hari menyandang satu medali. Jika medali medali orang lain di kalungkan di leher-leher mereka, maka medali-medali sang pendidik akan selalu hidup di dalam hati dan jiwanya. Perasaanya mengkonstruksikan medali-medali tersebut. Ia (sang pendidik) tadi melihat kedudukan pentingnya di jiwa-jiwa orang lain, karena mereka mengakui keutamaan serta menghormati harga dirinya. Sebagaimana seorang penyair pernah berucap:
Wahai sang pencipta generasi
Kami tak memiliki bendera putih selain produkmu
Jika bukan karena jasamu, tidaklah sang khatib fasih lisanya
Dan tidaklah sang penyair dapat bersenandung dengan keinginan keinginanya
Wahai orang yang menaruhkan seluruh hidupnya di dunia pendidikan, yang mengarunginya dengan akal dan hatinya dan yang tiada rela menggantinya dengan suatau apapun… Janganlah engkau menjadi obor yang menerangi jalan bagi orang lain, sementara ia membakar dirinya sendiri. Akan tetapi jadilah pelita yang menerangi jalan bagi orang lain dan tidak melupakan kebaikan dirinya dan sifat memberinya. Jalan terbaik untuk mewujudkan hal tersebut, engkau harus menjadi suri teladan baik bagi murid-muridmu dalam hal iltizam pada nilai-nilai kebenaran, sikap obyektifitas, sifat menghargai diri, sifat adil dan tidak berlaku zalim. Juga hendaknya engkau menjadi teladan dalam hal interaksi dengan orang lain yang didasarkan pada pondasi-pondasi yang kokoh berupa kebaikan dan ketakwaan. Alangkah bagusnya ucapan sang penyair:
Aku melihat, mengajar adalah semulia profesi
Konsekwensinya adalah terberat
Maka hendaklah sang pendidik selalu bertakwa kepada Allah
Terhadap sebagian orang orang yang diajarnya
Sebagai penutup, rasa terima kasihku yang besar, salamku yang deras mengalir, do’aku yang penuh keikhlasan bagimu wahai sang pendidik. Semoga Allah selalu menganugerahi taufiq, hidayah, kelurusan jalan, serta bimbingan dalam seluruh perjalananmu yang diberkahi serta perjuanganmu yang panjang dalam rangka mengemban misi agung (mengajar dan mendidik) yang dengan itu engkau akan menjadi pusat perhatian.
Serta pusat simpati di zaman ini dan bahkan di setiap zaman. Salawat serta salam semoga terlimpahkan kepada Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
Dipetik dari buku "Rasaa'il Tarbawiyah" karya Shalih bin Ali Abu 'Arrad asy-Syahri yang telah diterjemahkan dan dan diterbitkan oleh Pustaka At-Tibyan dengan judul "Mutiara Nasehat Menuju Pribadi Muslim Ideal"(by. Ircham Nizel)
Wahai engkau yang dimuliakan Allah dengan diembani tugas sebagaimana tugas para nabi dan rasul. (semoga keselamatan dan kesejahteraan bagi mereka). Salam sejahtera, rahmat Allah dan berkahNya semoga tercurah pada kalian. Waba’du.
Wahai orang yang dimuliakan Allah dengan al-Islam. Ingatlah, bahwa pendidik muslim mengemban misi paling mulia serta menunaikan amanah paling agung, dan bahwa kebaikan risalahnya diambil dari kemuliaan risalah itu sendiri. Terlebih panutannya dalam misi tersebut adalah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, guru sekalian manusia sekaligus pendidik mereka. Siapakah orang yang lebih mulia profesinya dari para pendidik? Adakah para pegawai (pekerja) dan pedagang? Ataukah para insinyur dan pengusaha? Atau mungkin dokter dan petani?
Seluruh mereka dan lainnya yang menyebar di tengah masyarakat, tak lain adalah produk tarbiyah para pendidik juga. Hasil didikan dari para pendidik, mereka bisa menjadi seperti sekarang dan karenanya pula mereka bisa eksis. Dari itulah para pendidik merasa bahagia diliputi bangga manakala melihat anak-anak didik mereka menjadi seperti mereka; insinyur, dokter, ahli seni dan praktisi dan begitu seterusnya…
Wahai orang yang mengemban tugas mempersiapkan generasi bagi umat dan mendidik para calon tokoh masa depan yang nantinya mereka diharapkan memegang kendali dan tugas-tugas kenegaraan, membangun peradaban umat serta mengemban misinya…. Ingatlah, engkau adalah pondasi, landasan utama serta batu pertama dalam bangunan peradaban umat. Engkau mengemban tanggung jawab secara penuh. Maka jadilah engkau orang yang mampu (ahli) dalam penunaian risalah agung ini, yang urgensitasnya sebagaimana digambarkan secara jelas oleh seorang penyair:
Tahukah ia, orang yang paling mulia
Yaitu yang berhasil membangun pribadi pribadi serta akal akal pikiran
Juga ucapan penyair lain:
Menurut pandangan dan penglihatanku
Seorang pendidik adalah laksana cahaya
orang yang bingung mendapat petunjuk denganya
Sekiranya tanpa pendidik, peradaban kita tak bisa bertambah maju
Dan tidak akan meninggi ihwalnya
Wahai nahkoda kapal yang mahir, yang ia harus menahkodai kapalnya dengan teliti disertai perhatian serius dan penuh agar ia sampai ke pulau tujuan bersama para penumpangnya dengan selamat dan aman… Ingatlah bahwa mendidik adalah seni sekaligus ilmu serta misi yang sangat agung dan luhur bagi siapa saja yang diberi taufiq oleh Allah untuk mampu mengembanya. Terlebih, tarbiyah tersebut sangat ditentukan dan bergantung kepada sang guru untuk mengetahui kondisi murid-muridnya serta pelbagai problematika yang mereka hadapi, kebaikan sikap serta pemahaman mereka kepada kondisi-kondisi murid. Maka dari itu, berupayalah sekuat tenaga -semoga Allah memberikan keberkahanNya kepadamu- untuk menyempurnakan tugas utamamu (sebagai pendidik), yaitu dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan tidak menyia-nyiakannya. Tempatkanlah selalu -di depan pelupuk matamu- perintah takwa kepada Allah serta perasaan selalu diawasi Allah (Muraqabatullah) di setiap waktu dan tempat.
Alangkah indah ucapan salah seorang penyair:
Jika di suatu hari engkau sedang sendirian
Jangan katakan, ‘ Aku seorang diri ‘ akan tetapi katakan
Selalu ada yang mengawasiku.
Jangan sangka Allah lengah dalam sekejab
Dan Jangan kira apa yang kau sembunyikan terlewat dari pengawasan-Nya.
Hai orang yang memayahkan dirinya serta mengorbankan sejumlah waktunya, mengorbankan banyak dan lebih banyak lagi, demi mengemban risalah yang dibawanya, yang di tengah itu ia menjumpai pelbagai kendala dan beragam rintangan… Janganlah engkau lupa bahwa semua itu akan ada pahalanya -Insya Allah- selagi kau lakukan dengan ikhlas untuk Allah semata dan engkau mampu bersabar dan hanya berharap balasanNya saja. Tidak ada pekerjaan yang tidak mengandung kepayahan dan tidak ada kesuksesan tanpa didahului begadang di malam hari. Betapa indahnya bait syair yang menggambarkan profesi mengajar dan mendidik berikut:
Betapa baik profesi mengajar jika tanpa rintangan
Orang yang buruk akhlaknya, orang bodoh ataupun sombong
Atau yang memiliki kedunguan yang tidak mengerti pelajaranya
Ia memiliki ucapan ucapan prosa seperti bait bait
Wahai orang yang merasa tinggi dan mulia di atas sahabat-sahabatnya yang bekerja di bidang-bidang lain atau di luar kependidikan…. Cukuplah kecintaanmu pada profesi tersebut sebagai modal tertinggi yang engkau boleh merasa bangga dan mulia karenanya, juga penghormatan serta penghargaan yang anda dapatkan ke mana saja engkau pergi dan di mana saja engkau berada, dari mereka yang dulunya menjadi murid-muridmu sementara sekarang telah menjadi orang-orang berhasil dan penting. Dan ingatlah bahwa anak-anak yang sekarang sedang duduk di depanmu di atas bangku-bangku studi adalah generasi masa depan yang dinantikan dan diharapkan serta bangunan-bangunan yang dipersiapkan untuk masa depan yang cerah -insya Allah-.
Ketahuilah, bahwa para pelajar adalah laksana medali di dadamu. Jika seseorang merasa bangga dengan satu medali yang diraihnya setelah mampu melakukan suatu amal dan karya besar nan mulia yang ia lakukan dalam jangka waktu yang lama, maka sang pendidik setiap hari menyandang satu medali. Jika medali medali orang lain di kalungkan di leher-leher mereka, maka medali-medali sang pendidik akan selalu hidup di dalam hati dan jiwanya. Perasaanya mengkonstruksikan medali-medali tersebut. Ia (sang pendidik) tadi melihat kedudukan pentingnya di jiwa-jiwa orang lain, karena mereka mengakui keutamaan serta menghormati harga dirinya. Sebagaimana seorang penyair pernah berucap:
Wahai sang pencipta generasi
Kami tak memiliki bendera putih selain produkmu
Jika bukan karena jasamu, tidaklah sang khatib fasih lisanya
Dan tidaklah sang penyair dapat bersenandung dengan keinginan keinginanya
Wahai orang yang menaruhkan seluruh hidupnya di dunia pendidikan, yang mengarunginya dengan akal dan hatinya dan yang tiada rela menggantinya dengan suatau apapun… Janganlah engkau menjadi obor yang menerangi jalan bagi orang lain, sementara ia membakar dirinya sendiri. Akan tetapi jadilah pelita yang menerangi jalan bagi orang lain dan tidak melupakan kebaikan dirinya dan sifat memberinya. Jalan terbaik untuk mewujudkan hal tersebut, engkau harus menjadi suri teladan baik bagi murid-muridmu dalam hal iltizam pada nilai-nilai kebenaran, sikap obyektifitas, sifat menghargai diri, sifat adil dan tidak berlaku zalim. Juga hendaknya engkau menjadi teladan dalam hal interaksi dengan orang lain yang didasarkan pada pondasi-pondasi yang kokoh berupa kebaikan dan ketakwaan. Alangkah bagusnya ucapan sang penyair:
Aku melihat, mengajar adalah semulia profesi
Konsekwensinya adalah terberat
Maka hendaklah sang pendidik selalu bertakwa kepada Allah
Terhadap sebagian orang orang yang diajarnya
Sebagai penutup, rasa terima kasihku yang besar, salamku yang deras mengalir, do’aku yang penuh keikhlasan bagimu wahai sang pendidik. Semoga Allah selalu menganugerahi taufiq, hidayah, kelurusan jalan, serta bimbingan dalam seluruh perjalananmu yang diberkahi serta perjuanganmu yang panjang dalam rangka mengemban misi agung (mengajar dan mendidik) yang dengan itu engkau akan menjadi pusat perhatian.
Serta pusat simpati di zaman ini dan bahkan di setiap zaman. Salawat serta salam semoga terlimpahkan kepada Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
Dipetik dari buku "Rasaa'il Tarbawiyah" karya Shalih bin Ali Abu 'Arrad asy-Syahri yang telah diterjemahkan dan dan diterbitkan oleh Pustaka At-Tibyan dengan judul "Mutiara Nasehat Menuju Pribadi Muslim Ideal"(by. Ircham Nizel)

No comments:
Post a Comment