Wednesday, June 30, 2010

Akbar Tanjung; Pengabdian Tiada Henti

Sejarah politik Indonesia, dengan berbagai era yang ada tidak terlepas dari bagian sejarah hidup seorang Akbar Tanjung. Dia menjadi bagian dari pelaku sejarah atas perubahan rezim yang ada. Kiprah dan perilaku politiknya sangat santun sehingga disegani oleh kawan dan lawan politiknya. Akbar Tanjung adalah tokoh fenomenal, ia sering dikategorikan sebagai figur politisi profesional yang memiliki pemikiran dan langkah-langkah politik yang lebih mengedepankan jalur kompromi atau kerjasama; bukan dengan cara menabuh genderang perang.

Lahir di di Sibolga tanggal 14 Agustus 1945, Akbar Tanjung belajar di Sekolah Rakyat (SR) di Medan dan pendidikan SMP Perguruan Cikini dan SMA Kanisius. Selanjutnya ia memilih kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Pergumulannya dengan dunia politik  dalam membangun ketokohannya dimulai sejak ia aktif dalam gerakan mahasiswa/pemuda, tahun 1964 mulai aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), pilihannya untuk aktif di- HMI, bermula dari rasa kagumnya saat SMA, sebagai organisasi kemahasiswaan, HMI  memiliki prinsip perjuangan dan militansi tinggi terutama pada saat HMI mengalami tekanan-tekanan baik politik maupun fisik dari kekuatan komunis yaitu PKI dan organisasi under bow-nya. “Itulah pertama kalinya saya masuk dunia aktivis tentunya saya mulai banyak belajar membaca situasi dan keadaan yang terjadi”, tuturnya kepada Reporter TMN.

Kemudian Akbar juga berperan aktif dalam  dalam gerakan mahasiswa pada saat pengganyangan G 30 S /PKI  tahun 1966 melalui Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia Universitas Indonesia (KAMI-UI) dan Laskar Ampera Arief Rahman Hakim. Tidak berhenti sampai disitu,  Tahun 1967-1968 Akbar dipercaya menjadi  Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia, berlanjut kemudian menjadi Ketua Umum Pengurus Besar HMI. Organisasi mahasiswa ekstrakampus di tahun 1972-1974, dan menjadi nakhoda di DPP KNPI pada tahun 1978-1981

Kiprahnya yang cemerlang di organisasi kepemudaan membuat langkah Akbar  semakin lempang dalam menapaki jalur politik. Menurut Akbar,  jiwanya terpanggil untuk masuk dunia politik melalui Golkar pada tahun 1974, Bagi Akbar, Golkar adalah partai politik yang mempunyai prinsip nilai-nilai Pancasila dan perjuangan NKRI, Golkar juga merupakan partai yang terbuka dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, dan mempunyai orientasi untuk mensejahterakan rakyat melalui pembangunan nasional. setelah 3 tahun aktif di Golkar, Akbar  dipercaya menjadi anggota DPR pada tahun 1977 dan menduduki posisi Wakil Sekretaris Jenderal DPP Golkar di tahun 1983-1988. Karir Politiknya kemudian berlanjut dengan dipercaya oleh presiden untuk menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olah raga, kemudian menjadi Menteri Perumahan.

Ketika rezim berganti, Soeharto berhenti dan digantikan oleh B.J. Habibie, Akbar dipercaya sebagai Menteri Sekretaris Negara. Kiprah politik Akbar terus berlanjut dengan terpilihnya menjadi Ketua Golkar pada Munas tahun 1998.

Sebagai politisi yang ditempa oleh pengalaman, Akbar sangat ulet, berani dan konsisten dalam memperjuangkan apa yang menjadi keyakinannya. Ini terbukti, ketika Akbar menjadi orang nomor satu di Golkar, beliau mampu untuk membenahi Golkar di tengah caci maki dan hujatan. Pada waktu itu Golkar memang sedang mengalami krisis kepercayaan yang sangat serius dari masyarakat akibat terjadinya perubahan yang demikian besar dan adanya reformasi dalam bidang kehidupan berpolitik. Banyak orang-orang Golkar yang berkecil hati, tidak berani tampil di hadapan massa, bahkan ada yang langsung keluar meninggalkan Golkar. Sementara Akbar berani, walaupun banyak ejekan yang ditujukan kepadanya. Tetapi dengan keuletan, konsistensi, kesabaran, ketulusan dan keikhlasan, Akbar pelan tetapi pasti membenahi Golkar, sampai kemudian, ternyata melalui suatu pemilihan umum yang demokratis, Golkar masih dipercaya oleh rakyat.

Bagi Akbar sendiri, tantangan dan rintangan yang dihadapi oleh seseorang  yang menjadi pemimpin tidak terlepas dari kualifikasi kepemimpinan yang dimilikinya. Menurut Akbar  seorang pemimpin harus memiliki prinsip-prinsip sebagai pemimpin yang selalu memberikan arahan-arahan yang menjadi acuan dan panutan masyarakat. Oleh karena itu seyogya seorang pemimpin harus mempunyai sifat-sifat kepemimpinan. Sebagai seorang muslim sifat-sifat kepemimpinannya  sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, yaitu harus jujur, amanah, fathonah (yang mempunyai kecerdasan), dan tabliq (mampu membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat yang dipimpin), setelah itu pemimpin juga harus mempunyai komitmen yang kuat untuk melaksanakan kepemimpinannya agar dapat berjalan secara efektif dan dapat memberikan suatu keberhasilan. punya visi yang dapat memberikan  gagasan-gagasan, dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, memiliki ide revisioner,  memiliki kapabilitas, integritas, aksepbilitas, elektabilitas yang dijadikan sebagai teladan sehingga dengan kapabilitasnya masyarakat dapat menerimanya.

Kepemimpinan ini telah dipraktikan oleh para founding father kita yang mempunyai semangat juang yang tinggi (pengorbanan), rasa persatuan, dan penghormatan terhadap keberagaman dan kemajemukan,   meski berbeda secara pemahaman politik, agama, suku, tetapi secara individu para pemimpin kita nampak betul tetap memperlihatkan hubungan yang rasa saling menghormati sehingga masyarakat tetap saling bersatu tidak terjadi pergolakan-pergolakan dimasyarakat. Dan tidak kalah penting adalah semangat religius dan kebersamaan yang diperlihatkan oleh para pemimpin terdahulu dalam menjalankan roda kepemimpinan.

Pelajaran penting dari pendahulu inilah, yang menjadi inspirasi Akbar untuk mematangkan dirinya sehingga dikenal piawai dalam memimpin maupun berpolitik dan dengan pengalamannya ini pula Akbar berusaha menyatukan segenap potensi budaya bangsa dalam payung modern nation state bernama Indonesia. Bagi Akbar Indonesia sebagai sebuah Negara telah final dengan bentuk NKRI karena Indonesia, negara besar, jumlah pulau dan penduduknya banyak, terdiri dari beragam suku, bangsa, agama, dan ras. Pengikatnya adalah bentuk negara kesatuan dan untuk mengikat rasa kesatuan tersebut, kita memiliki suatu konsensus nasional  yaitu pancasila, dengan Pancasila maka Indonesia akan dapat diwujudkan dalam semangat yang ditegakkan oleh para pendiri bangsa yaitu semangat persatuan. Karenanya perlu mentransformasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bernegara dan berbangsa, tugas ini bukan hanya oleh pemerintah saja, tapi juga para tokoh dan pemimpin nasional, tokoh masyarakat serta semua elemen bangsa yang memiliki tanggung jawab yang sama dalam mentransfer dan mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila. Dengan teraplikasikannya nilai-nilai Pancasila ini,  maka semangat persatuan akan merasuk kedalam sanubari anak bangsa dan dengan itu persatuan dapat ditegakkan.



Kontribusi Akbar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak melulu melalui kendaraan partai politik  an sich, pasca 1998 wajah perpolitikan Indonesia tengah berproses menuju negara demokratis yang sesunguhnya dan perkembangan inilah yang mendorong Akbar untuk mendirikan Akbar Tandjung Institute ( AT Institute), lembaga ini didirikan tahun 2005 tak berapa lama setelah ia berhasil meraih gelar doktor ilmu politik dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Akbar mendambakan AT Institute hadir menjadi wadah tempat belajar sosial-politik yang bersih. memberikan kontribusi berarti kepada masyarakat menuju era demokrasi dengan berbagai kegiatan yang memberikan pencerahan politik seperti diskusi, penerbitan buletin dan berbagai pencerahan lainnya.

Pengabdian Akbar yang tiada henti kepada bangsa dan negara Indonesia merupakan sumbangsih yang sangat berharga dalam perpolitikan Indonesia, barangkali tak terlalu berlebihan jika figur Akbar Tandjung merupakan politikus yang hebat, terlebih jika dilihat dari kapabilitas dan  leadership-nya (Ircham-TMN)




No comments: