Tuesday, May 18, 2010

BELAJAR DARI KEPEMIMPINAN KHALIFAH ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ R.A.

KHALIFAH  ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ R.A.
Suatu ketika Rasulullah menasihati sahabat Abu Bakar r.a.: “Hai Abu Bakar, urusan kedudukan itu adalah untuk orang yang tidak menginginkannya, bukan untuk orang-orang yang menonjol-nonjolkan diri dan memburunya. Ia adalah bagi orang yang memandang kecil urusan itu dan bukan bagi orang yang mengulur-ulurkan kepalanya untuk itu.” Dan Rasulullah memberikan nasihat kepada kita agar dalam memilih seorang pemimpin adalah orang yang ahli dan tepat, sebagaimana sabdanya: “Apabila amanat itu telah disia-siakan, maka tunggulah saat (kehancurannya). Sahabat bertanya: Bagaimana menyia-nyiakannya? Jawab Rasulullah: Apabila suatu jabatan diserahkan kepada orang-orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.” (HR. Bukhari).
Dunia islam mulai menorehkan tinta emas dalam sejarahnya sejak Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah. Rahasia terpilihnya peristiwa yang agung ini sebagai permulaan sejarah Islam adalah karena sejak saat itu anugerah kemenangan dari Allah SWT kepada Rasulnya-Nya mulai terlihat, yakni kemenangan terhadap orang-orang yang memerangi beliau di kota suci tersebut. Padahal sebenarnya seluruh tokoh kabilah Quraisy telah mengatur siasat untuk membunuh beliau. Satu-satunya sahabat yang menemani Rasulullah SAW dalam perjalanan hijrah ini, tidak lain adalah Abu Bakar ash-Shidiq. Tatkala beliau sedang menderita sakit menjelang wafatnya sehingga tidak kuat lagi menunaikan shalat berjamaah bersama kaum muslimin. Abu Bakar pulalah yang ditunjuk menggantikan beliau sebagai imam.
Abu Bakar dilahirkan dengan nama Abdullah ibn Abi Qahafah dari seorang ayah bernama Abu Qahafah yang semula bernama Utsman ibn Amir. Sedangkan ibunya bernama Ummu al-Khair yang semula bernama salma binti sakhr ibn Amir.
Pilihan Rasulullah SAW kepada Abu Bakar untuk menyertainya dalam perjalanan hijrah dan menggantikan kedudukannya menjadi imam dalam shalat berjamaah bukan tanpa alasan sama sekali. Abu Bakar adalah orang yang pertama yang menyatakan keimanannya kepada Allah dan Rasulnya. Pengorbanannya yang dilandasi oleh keimanan yang kokoh, telah banyak ia lakukan. Ia selalu siaga membela Nabi dalam berdakwah, sebagaimana pembelaanya terhadap kaum muslimin. Kepentingan Rasulullah SAW lebih diutamakan daripada kepentingan dirinya sendiri. Bahkan dalam segala situasi,ia selalu mendampingi perjuangan Nabi SAW. Kesempurnaan akhlaknya berpadu erat dengan kekuatan imannya. Tidak hanya itu Abu Bakar juga dikenal juga sebagai seorang hamba Allah yang memiliki sifat paling kasih sayang kepada manusia lainnya.
Latar Belakang Pengangkatan Khalifah Pertama
Proses suksesi kepemimpinan pasca-wafatnya nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin umat (kepala pemerintahan), sempat menjadi perdebatan di kalangan umat. Hal itu turut disebabkan karena sang nabi tidak meninggalkan wasiat siapa orang yang pantas menggantikan beliau. Setidaknya ada tiga golongan umat Islam yang berbeda pendapat dan masing-masing merasa berhak bahwa dari golongan merekalah yang pantas sebagai pengganti nabi Muhammad. Ketiga golongan itu adalah Muhajirin, Anshar, dan Ahlul Bait. Maka diadakanlah pertemuan di Tsaqifah Bani Saidah. Tatkala terjadi diskusi yang cukup menegangkan antara golongan Anshar dan Muhajirin, tiba-tiba Abu Bakar langsung memusatkan perhatian dan mencalonkan dua tokoh sahabat, Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin Jarrah. Mendengar pencalonan itu, Basyir bin Saad dan Abu Ubaidah bin Jarrah langsung berteriak bahwa tidak mungkin mereka yang dipilih sementara ada Abu Bakar yang mereka nilai sebagai tokoh termulia dan pantas sebagai pemimpin. Bahkan Umar pun langsung menyebutkan keutamaan yang dimiliki Abu Bakar dan tidak dimiliki oleh sahabat yang lain. Dengan segera, Umar pun mengangkat tangan Abu Bakar dan membaiatnya. Tindakan Umar itu pun diikuti oleh para sahabat lain yang hadir di Tsaqifah Bani Saidah tersebut. Sesudah Abu Bakar dilantik menjadi Khalifah beliau pun berpidato sebagai sambutan atas kepercayaan Orang banyak kepada dirinya itu:
“Wahai Manusia, sekarang aku telah menjabat pekerjaan kami ini, tetapi tidaklah aku Orang yang lebih baik daripada kamu. Maka jika aku telah berlaku baik dalam jabatanku, dukunglah aku. Tetapi kalo aku bersalah, tegakkanlah aku kembali. Kejujuran adalah suatu amanat, kedusataan adalah suatu khianat. Orang yang kuat di antara kamu, pada sisiku hanyalah lemah, sehingga hak si lemah aku tarik daripadanya. Orang lemah di sisimu, pada sisiku kuat, sebab akan ku ambilkan daripada si kuat akn haknya, insya Allah. Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah SWT dan rasulnya…”
Ali berkata tentang hal ini: ”... Maka kami memilih untuk urusan dunia kami orang yang telah kami pilih untuk urusan agama kami. Shalat adalah pokok Islam, adalah komandan agama dan tiang agama. Oleh sebab itulah kami membaiat Abu Bakar, sebab dia memang pantas untuk memikul tugas itu...” (Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir)
Sebagai seorang Khalifah, dalam mengambil kebijakan Abu Bakar pertama-tama dicarinya
hukum-hukum yang ada dalam Quran dan Sunnah. Jika tidak menemukan, beliau tidak
segan-segan bertanya kepada sahabat yang lain, Ada soal begini, begini Adakah
Saudara-saudara tahu bahwa Rasulullah pernah memberi fatwa tentang itu?”O, ya ada!, jawab sahabat yang lain. Abu Bakar berkata, Alhamdulillah masih ada di antara kita yang masih hafal akan fatwa-fatwa Rasulullah.
Di masa pemerintahan beliau, Islam mulai menunjukkan keperkasaannya.Wilayah Islam semakin luas dan diperhitungkan, yang tentunya ini bisa terjadi karena kepemimpinan yang bertaqwa kepada Allah. Khalifah Abu Bakar mengirim Khalid bin Walid untuk memimpin pasukan untuk menyerang Irak dan Irak berhasil ditaklukkan, yang waktu itu masih dibawah Kerajaan Persia, salah satu dari Imperium Dunia. Yang lainnya adalah Kerajaan Romawi. Kemudian seluruh Kerajaan Persia (sekarang Iran) berhasil ditaklukkan. Sehingga dakwah ilallah semakin berkembang. Di akhir hayatnya, Khalifah kembali mengirim Khalid untuk mulai menyerang Romawi, dengan dimulai dari Syam (sekarang Syria). Pada saat berlangsung pertempuran tersebut beliau menghembuskan nafas terakhir. Kelak pada masa pemerintahan selanjutnya,
masa Umar bin Khattab dan seterusnya, Syam dan wilayah Romawi lainnya berhasil ditaklukkan.

No comments: