Wednesday, March 24, 2010

Konsistensi Membangun Islam Yang Damai


Bagi masyarakat awam, Gus Dur adalah sosok kontroversial, terutama bila melihat sikap-sikap politiknya. Tak banyak yang mengetahui, bahwa di balik guyonannya, tersimpan keteguhan usaha dalam mendewasakan pemikiran masyarakat muslim, khususnya menghadapi kondisi Indonesia yang multi kultur. Apa yang kita ingat dari sosok Gus Dur? Banyak acara parodi-parodi politik di stasiun televisi nasional menerjemahkan Gus Dur dengan kalimat sederhana: “Gitu aja kok repot.” Ya, itulah sebagian dari guyonan Gus Dur yang lekat di pikiran masyarakat. Gus Dur kadang pula disebut tokoh yang tak punya prinsip dalam bersikap secara politik. Kadang ke kiri, ke kanan, ke atas atau ke bawah. Sebagai cendikiawan muslim, sebenarnya Gus Dur –bernama asli K.H. Abdurrahman Wahid— sudah lama mengisi kancah pemikiran Islam di bumi pertiwi. Namanya bahkan sudah mencuat jauh sebelum dirinya didapuk menjadi Presiden RI tahun 1999. Prinsipnya sangat simpel, yakni anti-diskriminasi. Dari prinsip tersebut, lahirlah gagasan pluralisme dalam Islam. Dalam peta pemikiran Islam di tanah air, Gus Dur seringkali disejajarkan dengan pemikir seperti Nurcholish Majid dan Dawam Rahardjo. Ketiganya memiliki cara berpikir linier mengenai Islam yang plural sehingga dapat diterima di alam Indonesia. “Sebenarnya, nada-nada yang dimainkan Gus Dur, Dawam sampai Cak Nur (Nurcholish Majid) hampir mirip. Cuma ada tone (bunyi nada) yang berbeda dari Gus Dur,” kata Rumadi, salah satu peneliti di Wahid Institute. Dia menilai ada dua hal yang menjadi ciri khas dari sikap dan pemikiran Gus Dur yang menjadi pembeda. Pertama, yakni konsistensinya terhadap pluralisme beragama di Indonesia. Rumadi melihat sangat jarang cendikiawan Indonesia yang sangat konsisten sebagaimana Gus Dur. Di samping kebebasan beragama, kebebasan berfikir dan aspek-aspek kebebasan lain juga terus-menerus didengungkan Gus Dur. Dalam hal ini, Gus Dur tidak hanya berjuang dalam tataran wacana saja, melainkan mewujudkannya dalam bentuk nyata, seperti menulis. “Dia sangat konsisten membela kelompok minoritas,” tambahnya. Kedua, adalah keyakinan yang sangat kuat terhadap apa yang ia anggap benar. Rumadi, yang sering pula menyunting buku-buku karangan Gus Dur, bahkan berani berujar tak ada satu pun orang yang mampu menggoyahkan pendirian Gus Dur. “Dia itu tidak perduli dicaci maki, dianggap zionis atau kafir dan semacamnya. Dia tetap jalan terus.” Bagi Rumadi, pemikiran Cak Nur mirip dengan Gus Dur. Cak Nur juga konsisten dalam pendirian pemikiran, hanya saja Gus Dur gagasannya lebih tinggi dosisnya. Tanpa tedeng alin-aling. Dia tetap melakukan itu meski dianggap kerja yang tidak populer dan cenderung dipandang kontroversial. Belum lagi, candaannya yang kadang bikin kita tersenyum, kadang pula memaksa kita berpikir ulang tentang sesuatu. “Guyonannya punya makna,” ucap Rumadi singkat, saat menjelaskan sisi filosofis dari gurauan-gurauan Gus Dur. Selama ini gurauan Gus Dur bukan cuma kelakar semata. Mantan ketua PBNU itu menggunakan lelucon sebagai senjata kulturalnya untuk melawan. Lelucon sebenarnya bukanlah alat untuk keluar dari kepengapan sesaat, namun lebih berfungsi mengidentifikasi masalah yang selama ini sulit dikeluarkan dengan cara yang tak lazim. Toh, dengan gaya celoteh khas Jawa Timuran itu tetap tidak membuat Gus Dur disenangi oleh semua lapisan masyarakat. Pendirian teguh dari Gus Dur ini, jelas Rumadi, masih dikatakan kontroversial, sebab tingkat kedewasaan beragama dari masyarakat kita belum tumbuh. “Ketika Gus Dur bicara, dia membahas Islam juga berkaitan perannya sebagai bangsa. Tidak mendiskriminasi salah satunya,” kata Rumadi. Ambil contoh kasus Ahmadiyah. Secara pribadi, Rumadi mengaku berbeda dalam cara beribadah dengan Ahmadiyah. “Saya tak peduli apakah Ahmadiyah menyembah siapa, apakah itu pohon sekalipun,” ujar Rumadi, sambil mengikuti gaya kelakar Gus Dur. Yang menjadi perhatian adalah haknya sebagai warga negara untuk dihargai. Jika mereka dianggap menodai agama, maka hendaknya diselesaikan secara hukum. Penghormatan keberadaan kelompok yang berbeda tanpa sikap diskriminatif inilah yang terus diperjuangkan Gus Dur. Pada masa kepemimpinan Gus Dur, keteguhan ini pun dibuktikan dengan pengakuan eksistensi etnis minoritas Tionghoa dalam menjalani kebudayaan dan kepercayaannya. Bagi Rumadi, Gus Dur memandang kelompok Islam garis keras atau fundamentalis sebagai sesuatu yang layak dihargai. Apalagi di iklim demokratis seperti sekarang. Yang tidak diperbolehkan adalah ketika ada kelompok mengganggu kelompok lain. Begitu pula jika sampai memasuki masalah kebangsaan, soal pun jadi lain. Gus Dur memandang sesuatu yang berbeda sebenarnya bukahlah untuk dibeda-bedakan. Ini terjadi karena latar belakangnya sebagai santri dan ahli fikih. Di tradisi pesantren, santri diajarkan untuk melihat tidak ada kebenaran yang tunggal dalam ilmu fikih. Di samping itu, Gus Dur juga gemar membaca ilmu-ilmu lain selain ilmu agama, seperti antropologi, sosiologi dan filsafat. Dimensi keilmuannya sangat luas. Selain membaca, Gus Dur juga hobi bermain bola, catur dan musik. Dahulu, Gus Dur bahkan pernah diminta menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya adalah menonton bioskop. Dia memiliki apresiasi yang mendalam dalam dunia perfilman. Inilah sebabnya mengapa Gus Dur pernah diangkat sebagai Ketua Juri Festival Film Indonesia 1986-1987. Latar belakang pesantren pula membentuk sikap politiknya sering disebut sebagian orang mbalelo, tak punya prinsip atau cenderung ikut-ikutan. “Orang pesantren itu punya ukuran, punya tujuan. Tapi wasilah-nya (caranya) berbeda,” ucap Rumadi. Rumadi menambahkan, sikap yang tak jelas dari Gus Dur semacam itu dikarenakan dia berhadapan dengan situasi politik praktis. Sikap tertentu mau tak mau harus diambil, tapi jika hal itu mendiskriminasi kelompok dia punya sikap jelas. Tentu ada resiko dari sikap tersebut, bisa dijadikan alat tembak bagi lawan politik. Namun itu hal biasa dalam dunia politik, kata Rumadi. Kita sebagai bangsa harus diakui masih dalam tahap pembelajaran. Mendefinisikan diri sebagai muslim Indonesia saja tidak mudah, apalagi mendefinisikan orang lain. Banyak dari kita sudah merasa cukup tahu, hingga hal itu jadi kebenaran final. Apa yang telah disumbangkan Gus Dur adalah belajar bagaimana beragama sekaligus hidup bersama dengan yang lain. Termasuk bagaimana memposisikan negara, bagaimana negara melindungi warganya dan tak mendiskriminasi kelompok yang lemah. [Ircham J. Nezel]



No comments: