Sekolah Dalam Lingkup Pemasaran
Pemasaran merupakan fungsi yang memiliki kontak yang paling besar dengan lingkungan eksternal, padahal lembaga
pendidikan memiliki kendali yang terbatas terhadap lingkungan eksternal. Oleh
karena itu pemasaran memainkan peranan penting dalam pengembangan strategi.
Strategi pemasaran pendidikan merupakan pernyataan mengenai bagaimana suatu
merek atau produk mencapai tujuannya.
Lingkungan pendidikan dalam hal ini sekolah
mengalami perubahan besar, yaitu lingkungan global pendidikan atau sering
diistilahkan dengan globalisasi pendidikan. Globalisasi berarti suatu proses
keterbukaan yang seluas-luasnya, bebas dari keterbelengguan cultural, bebas
dari ketertutupan. Globalisasi dengan ciri pasar bebasnya tidak hanya menjual
barang produksi industri saja, melainkan juga sumber daya manusia yang siap kerja. Oleh karena
itu kualitas menjadi acuan utama. Barang (produk pendidikan) yang tidak
berkualitas akan dicampakkan oleh konsumen, persaingan pasar semacam ini
menuntut barang dagangan yang berkualitas. Masyarakat sudah mulai
mempertanyakan dan memilih sekolah-sekolah berkualitas, karena mereka takut
putra-putrinya tidak mampu bahkan kalah bersaing di era globalisasi ini.
Pemasaran, yang lebih dikenal dengan
istilah asing “marketing” adalah suatu metode baru untuk memajukan dan
mengembangkan potensi sebuah organisasi dengan memusatkan sasaran atau target,
terutama pada masyarakat yang benar-benar memutuhkan dan menginginkan organisasi
kita, dan tujuan dari pemasaran adalah membantu pengelola suatu organisasi
untuk memutuskan produk apa yang mesti ditawarkan terlebih dahulu.
Mula-mula pemasaran dikenal dan
dikembangkan oleh perusahaan multi nasional besar dengan kekuatan ekonomi super. Tapi
sekarang, setiap perusahaan dan bahkan setiap orang telah menggunakannya, tidak
ketinggalan pula organisasi-organisasi non-profit seperti lembaga
pendidikan yang berfungsi sebagai pencetak biro jasa masa depan telah
memanfaatkan segi keunggulan pemasaran untuk meningkatkan kerjasama atau
transaksi mereka dengan pembeli, langganan dan publik. Suatu organisasi yang
memutuskan tetap eksis dan suvive digelanggang persaingan yang ketat ini, mau
tidak mau, tidak akan sukses tanpa memiliki strategi pemasaran yang baik.
Dalam dunia bisnis, pendidikan termasuk
dalam suatu organisasi atau perusahaan yang bergerak di bidang jasa. Bisnis
jasa sangat kompleks, karena banyak elemen yang mempengaruhinya, seperti sistem internal organisasi, lingkungan fisik,
kontak personal, iklan, tagihan dan pembayaran, komentar dari mulut ke mulut
dan sebagainya. Oleh karena itu pemasaran jasa tidak hanya membutuhkan
pemasaran eksternal, tetapi juga pemasaran internal dan pemasaran interaktif.
Dan begitu dalam strategi pemasaran pendidikan haruslah menerapkan tiga model pemasaran jasa
dengan tujuan agar terjadi keserasian dan bisa mencegah terjadinya kesalah
pahaman antar komponen fungsi menajemen dalam pendidikan tersebut. Model-model
tersebut yaitu:
Pemasaran Eksternal
Pemasaran Eksternal
Pemasaran eksternal menggambarkan aktivitas
normal yang dilakukan oleh organisasi pendidikan dalam mempersiapkan produk,
menetapkan harga, melakukan distribusi informasi dan mempromosikan produk jasa
yang bernilai superior kepada para pelanggan dalah hal ini wali murid. Bila ini
bisa dilakukan dengan baik, maka para wali murid sebagai pelanggan akan terikat
dengan organisasi, sehingga keuntungan jangka panjang bisa terjamin.
Pemasaran Internal
Pemasaran Internal
Pemasaran internal menggambarkan tugas yang
diemban organisasi dalam rangka melatih dan memotivasi para guru, karyawan dan
para murid sebagai asset utama organisasi agar dapat melayani para pelanggan dengan
baik. Yang tak kalah pentingnya adalah pemberian penghargaan atau reward dan
pengakuan yang sepadan dan manusiawi. Aspek ini membangkitkan motivasi, moral
kerja, rasa bangga, loyalitas, dan rasa memiliki setiap orang dalam organisasi,
yang pada gilirannya dapat memerikan kontribusi besar bagi organisasi dan bagi
pelanggan yang dilayani.
Pemasaran Interaktif
Pemasaran Interaktif
Pemasaran interaktif menggambarkan
interaksi antara pelanggan dalam hal ini para wali murid dengan para karyawan
(guru dan staff) dan juga dengan pemimpin organisasi (kepala sekolah).
Diharapkan stiap sumber daya manusiawi organisasi yang loyal, bermotivasi
tinggi, dan diberdayakan (empowered) dapat memberikan Total Quality Service
kepada setiap pelanggan dan calon pelanggan. Bila ini terealisasi, maka
pelanggan yang puas akan menjalin hubungan berkesinambungan dengan personil dan
organisasi yang bersangkutan, dan bahkan bisa menjadi sarana dan media
pemasaran organisasi (by Ircham Nizel)
No comments:
Post a Comment