Persaingan
bisnis Antar Sekolah
Telah menjadi realitas, bahwa persaingan antar sekolah dewasa ini
semakin atraktif. Hal ini tentunya menjadi sinyal positif dalam hal peningkatan
kualitas penyelenggaraan pendidikan. Kebijakan pemerintah yang memberikan
perhatian besar di sektor pendidikan, membuka peluang lebih berinovasinya institusi
pendidikan. Sekolah-sekolah kini telah mengubah mindset-nya dengan mulai merevisi beberapa programnya.
Konsep input, proses dan output menjadi obyek kajian yang telah
dimantapkan. Tidak mengherankan, jika inovasi-inovasi tersebut menjadi sebuah
telaahan marketing yang menarik. Marketing dewasa ini bukan hanya monopoli
institusi pendidikan yang profit oriented, namun pula trennya telah diadopsi
institusi pendidikan negeri. Upaya untuk menggaet input yang lebih capable dan
matang (calon siswa potensial), telah menjadi tuntutan yang wajib dipenuhi,
dalam rangka mendukung proses pembelajaran dan kompetisi antar sekolah. Dengan
input yang qualified tersebut, maka guru akan lebih mampu untuk melakukan
akselerasi, bukan malah menggampangkan proses belajar mengajar.
Konsep pemasaran pendidikan dewasa ini memang telah berevolusi
menjadi sebuah kajian yang lebih dewasa. Inovasi pemasaran lembaga pendidikan
(sekolah) memang lagi kreatif-kreatifnya. Panitia penerimaan siswa baru tidak
hanya difungsikan sekadar mengurusi hal administrasi dan seleksi ketat semata,
namun mereka diefektifkan jauh-jauh hari sebelum tahun ajaran baru untuk
mengedukasi dan melakukan kampanye terhadap target-targetnya (calon siswa
potensial). Dalam hal ini, tentunya mereka awali dengan melakukan riset mengenai tren
masyarakat konsumen pendidikan. Dan pada tahap selanjutnya adalah berinovasi
untuk mengedukasi pasar dan menghasilkan input yang sesuai standar target yang
telah ditetapkan sebelumnya.
Kini sekolah-sekolah memang harus lebih aktif untuk menggaet
input-input yang berkualitas. Hal ini dalam rangka kompetisi tadi. Tak heran
jika pilihan berinovasi dengan memajukan waktu perekrutan calon siswa dan
membuka jalur khusus siswa berprestasi, menjadi strategi baru bagi
sekolah-sekolah yang lebih bonafide, dalam konteks pemasaran
lembaganya.
Strategi komunikasi pemasaran dibeberapa sekolah swasta, bahkan
telah dilakukan secara profesional dengan memasang artikel satu halaman full di
media.
Suatu terobosan unik untuk mengedukasi calon konsumennya. Tentunya strategi ini
memerlukan budget yang tidak sedikit. Namun untuk sebuah kemenangan kompetisi,
akselerasi peningkatan kualitas dan profesionalisme manajemen sekolah, bukankah
ini sesuatu yang patut untuk dicoba ?
Perilaku konsumen pendidikan (siswa) memang masih cenderung loyal
atau masih primordial dalam konteks pendidikan. Ini adalah kekuatan tersendiri
untuk pemasaran brand lembaga pendidikan. Ditunjang
dengan interland
yang belum terlalu valuable kualitas pendidikannya,
pasar pendidikan cenderung masih sangat prospektif.
Siswa (termasuk orangtuanya) tidak lagi hanya sekadar melihat
pertimbangan lamanya sekolah berdiri, jarak dari rumah ke sekolah dan
guru-gurunya saja, melainkan ada faktor-faktor motivasi lain dalam hal
memutuskan target sekolah yang dipilih. Dalam konteks ini, positioning
sebuah institusi pendidikan merupakan aspek perhatian besar dari konsumennya
(siswa).
Sekolah-sekolah yang memposisikan dirinya sebagai sekolah unggulan,
andalan ataupun favorit yang diregulasi pemerintah tentu memiliki bargaining
position yang lebih baik. Namun trend
siswa dewasa ini ternyata tidak hanya melihat positioning sekolah unggulan,
andalan dan favorit sebagai satu-satunya pertimbangan untuk memutuskan
bersekolah di lembaga tersebut.
Pertimbangan positioning sekolah gaul dan bonafide
ternyata menjadi fenomena baru dalam pemasaran lembaga pendidikan. Hal ini
penting mendapat respon manajemen sekolah. Berkualitas, disiplin namun tetap
gaul cenderung pula menjadi idealisme remaja. Sekolah bonafide, dengan
infrastruktur yang lebih mendukung, ruangan ber-AC, fasilitas teknologi yang
memadai, kini memang suatu tuntutan pasar yang menjadi kewajiban untuk
dieksekusi oleh sekolah, dalam rangka memasarkan lembaganya.
Hal ini karena ternyata perilaku konsumen pendidikan (siswa)
relatif ingin suasana dinamis dalam lingkungan sekolahnya, sehingga sekolah
lagi-lagi dituntut menawarkan inovasi dalam content of product yang
ditawarkannya. Content tersebut termasuk pula seberapa besar apresiasi manajemen sekolah
terhadap aktifitas kesiswaan yang kreatif dan dinamis.
Jadi, intinya adalah bagaimana menciptakan qualistyle
di sekolah, bukan sekadar lifestyle.
Kepuasan konsumen pendidikan terhadap kinerja sekolah menjadi
keniscayaan untuk menjadi telaah evaluasi. Over promise and under delivery
adalah kesalahan pemasaran. Ketidak sesuaian ekspektasi konsumen dan realitas
yang ada, akan membentuk citra buruk sekolah. Hal ini patut diwaspadai karena
masyarakat kita juga memiliki kemampuan socializing
yang kuat.
Komunikasi negatif melalui word of mouth dalam event
dan forum sosial akan sangat efektif memberikan pencitraan buruk kepada
sekolah, jika memang terjadi ketidakpuasan tadi. Oleh karena itu, harus ada quality
assurance dari sekolah untuk siswa dan calon siswa (terutama siswa
potensial) terhadap produk yang ditawarkan oleh sekolah itu. (by. Ircham Nizel)
No comments:
Post a Comment