Friday, March 09, 2012

PENETAPAN KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL 
(KKM)


ANALISIS PENCAPAIAN KKM


RAMBU-RAMBU
·         KKM direncanakan dan ditetapkan pada awal tahun pel;ajaran
·         KKM ditetapkan oleh forum MGMP Madrasah
·         Nilai KKM dinyatakan dalam bentuk bilangan bulat dengan rentang 0-100
·         Nilai ketuntasan belajar  maksimal adalah 100
·         Madrasah dapat menetapkan KKM di bawah nilai ketntasan belajar maksimal
·         Nilai KKM dicantumkan dalam Laporah Hasil Belaja Peserta Didik

LANGKAH-LANGKAH ATAU CARA-CARA SEBAGAI BERIKUT :

KKM INDIKATOR  --------  KKM KD  --------  KKM SK  --------  KKM MP

KRITERIA PENETAPAN KKM
·         Kompleksitas ( kesulitan atau kerumitan)
·         Daya Dukung
·         Intake siswa
PENETAPAN KKM
Menggunakan format A

MENAFSIRKAN KRITERIA MENJADI NILAI

            A. Dengan memberikan poin pada setiap kriteria yang ditetapkan :
                 1. Kompleksitas      :           Tinggi              = 1
                                                :           Sedang                        = 2
                                                :           Rendah            = 3
                 2. Daya Dukung      :           Tinggi              = 3
                                                :           Sedang                        = 2
                                                :           Rendah            = 1
                 3. Intake                 :           Tinggi              = 3
                                                :           Sedang                        = 2
                                                :           Rendah            = 1

Jika indikator memiliki Kriteria : kompleksitas rendah, daya dukung tinggi dang intake peserta didik sedang   --------   misalnya :
            ( 3 + 3 + 2) X 100 = 88.89 dibulatkan menjadi 89
                        9


            B. Dengan menggunakan rentang nilai pada setiap kriteria, misalnya :
                 1. Kompleksitas      :           - Tinggi                        = 50 – 64
                                                            - Sedang          = 65 – 80
                                                            - Rendah          = 81 – 100

                 2. Daya Dukung      :           - Tinggi                        = 80 – 100
                                                            - Sedang          = 65 – 80
                                                            - Rendah          = 50 – 64

                 3. Intake                 :           - Tinggi                        = 81 – 100
                                                            - Sedang          = 65 – 80
                                                            - Rendah          = 50 – 64

Jika indikator memiliki kriteria : kompleksitas sedang, daya dukung tinggi dan intake sedang
-------   nilainya adalah rata-rata setiap nilai dari kriteria  yang ditentukan.

Dalam menentukan rentang nilai dan menentukan nilai dari setiap kriteria perlu kesepaka-
tan forum MGMP di Madrasah.

            C. Dengan memberikan pertimbangan professional judgement pada setiap kriteria
                 untuk menetapkan nilai  :

     1. Kompleksitas                  :           - Tinggi
- Sedang
- Rendah

                 2. Daya Dukung                  :           - Tinggi
                                                                        - Sedang
                                                                        - Rendah

                 3. Intake                             :           - Tinggi
                                                                        - Sedang
                                                                        - Rendah         

Contoh :
Jika indikator memiliki kriteria  : kompleksitas rendah, daya dukung tinggi dan intake peserta didik sedang -----------  maka dapat dikatakan ada dua komponen yang mempengaruhi
untuk dapat  mencapai ketuntasan maksimal 100 yaitu kompleksitas rendah dan daya dukung tinggi, jadi guru dapat mengurangi nilai menjadi antara 90 – 80.








TINGKAT KOMPLEKSITAS

Tingkat Kompleksitas  :  kesulitan dan kerumitan setiap IP / KD yang harus dicapai oleh peserta didik.

Tingkat kompleksitas tinggi , apabila dalam pelaksanaan  menuntut :
·         Guru
-          Memahami kompetensi yang harus dicapai peserta didik
-          Kreatif dan inovatif dalam melaksanakan pembelajaran
·         Waktu
-          Cukup lama karena perlu pengulangan
·         Penalaran dan kecermatan peserta didik yang tinggi


KEMAMPUAN SUMBER DAYA PENDUKUNG

·         Ketersediaan tenaga
·         Sarana dan prasarana pendidikan yang sangat dibutuhkan
·         Biaya operasional pendidikan
·         Mnajemen Madrasah
·         Kepedulian stakeholdres Madrasah

INTAKE (TINGKAT KEMAMPUAN RATA-RATA) PESERTA DIDIK

·         KKM kelas 1 dapat didasarkan pada hasil seleksi PSB, tes seleksi masuk atau psikotes
·         KKM kelas 2 dan 3 didasarkan pada tingkat pencapaian KKM peserta didik pada semester  atau kelas sebelumnya

TUJUAN ANALISIS
Mengetahui tingkat ketercapaian KKM yang telah ditetapkan

MANFAAT ANALISIS
Sebagai dasar untuk menetapkan KKM pada tahun berikutnya

·         Analisis Pencapaian Ketuntasan Belajar Peserta Didik  Per KD
·         Rekapitulasi Pencapaian Ketuntasan Belajar Minimal
(by. Ircham Nizel)

Thursday, March 08, 2012

SELAMAT DATANG DI NIZEL ZONE


KAMI MASIH DALAM PROSES 

SILAHKAN MASUK

JANGAN LUPA KASIH KOMENTARNYA 
YA..........! THANK'S

Macam-macam Strategi Pemasaran Pendidikan


            
      Produk
Produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau keinginan pasar bersangkutan. Produk yang ditawarkan tersebut meliputi barang fisik, jasa, organisasi, dan ide. Jadi, produk bisa berupa manfaat tangible maupun manfaat intangible yang dapat memuaskan pelanggan.

Harga (Biaya Pendidikan)
Agar dapat sukses dalam memasarkan suatu produk, organisasi pendidikan harus menetapkan harga/biaya pendidikan secara tepat. Harga merupakan satu-satunya unsur pemasaran yang memberikan pemasukan atau pendapatan bagi institusi pendidikan, sedangkan ketiga unsur lainnya (produk, distribusi informasi, dan promosi) menyebabkan timbulnya biaya (pengeluaran). Disamping itu merupakan unsur pemasaran yang bersifat fleksibel, artinya dapat diubah dengan cepat. Berbeda halnya dengan karakteristik produk atau komitmen terhadap sistem distribusi informasi.
Harga dalam dunia pendidikan bisa diungkapkan dengan berbagai istilah. Misalnya iuran SPP, komisi, gaji, honorarium dan sebagainya. dalam pandangan konsumen, harga seringkali digunakan sebagai indicator nilai bilamana harga tersebut dihubungkan dengan manfaat yang dirasakan atas suatu produk.

Strategi Distribusi Informasi
Strategi distribusi informasi berkenaan dengan penentuan dan manajemen saluran distribusi dipergunakan oleh organisasi atau produsen untuk memasarkan produk-produknya sehingga produk-produk tersebut dapat sampai ditangan konsumen yang menjadi sasaran dalam jumlah dan jenis yang dibutuhkan pada waktu yang diperulukan, dan tempat yang tepat. Berikut beberapa  strategi distribusi yang bisa digunakan antara lain:
a.      Strategi Saluran Distribusi Berganda
Saluran distribusi yang berbeda mungkin dibutuhkan untuk mencapai segemen-segmen pelanggan yang berbeda dalam pasar yang luas. Oleh karena itu beberapa perusahaan menerapkan strategi saluran distribusi berganda (multiple channel strategy) yaitu penggunaan lebih dari satu saluran yang berbeda untuk melayani beberapa segemen pelanggan. Tujuannya dalah untuk memperoleh akses yang optimal pada setiap segemen pelanggan. Dengan menerapkan strategi ini institusi pendidikan dapat meningkatkan cakupan pasar, menurukan biaya saluran dan lebih menyeragamkan penjualan.
b.      Strategi Modifikasi Saluran Distribusi
Strategi modifikasi saluran distribusi (channel modification strategy) adalah strategi mengubah susunan saluran distribusi yang ada berdasarkan evaluasi dan peninjauan ulang. Sistem distribusi memang perlu secara terus-menerus ditinjau dan diatur kembali untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan keadaan di pasar.
c.       Strategi Pengendalian Saluran Distribusi
Yang dimaksud dengan strategi pengendalian saluran distribusi (channel control strategy) adalah menguasai semua anggota dalam saluran distribusi agar dapat mengendalikan kegiatan mereka secara terpusat kearah pencapaian tujuan bersama. Adapun tujuan dari strategi pengendalian saluran distribusi adalah:
1)      Untuk meningkatkan pengendalian
2)      Memperbaiki ketidak efisienan
3)      Mengetahui efektivitas biaya melalui kurva pengalaman
4)      Mencapai skala ekonomis.


d.      Strategi Manajemen Konflik Dalam Saluran Distribusi
Konsep sistem pada distribusi mensyaratkan adanya kerjasama antar saluran meskipun demikian di dalam saluran selalu timbul struktur kekuatan sehingga diantara anggota saluran sering terjadi gontok-gontokan. Konflik tersebut dapat bersifat horizontal dan vertikal. Konflik juga dapat timbul antara saluran yang satu dengan saluran yang lain (dalam kasus organisasi menggunakan lebih dari satu saluran distribusi) yang menjual produk yang sama atau yang membawa informasi yang sama ke pasar sasaran yang sama.
Dalam pemasaran kita temukan ada yang berorientasi pada “profit organitation” dan ada pemasaran yang beroreintasi pada “non profit organitation”. Mengenai lembaga pendidikan adalah termasuk ke dalam non profit organization. lembaga pendidikan adalah sebuah kegiatan yang melayani konsumen, berupa murid, siswa, mahasiswa dan juga masyarakat umum yang dikenal sebagai “stakeholder”. Lembaga pendidikan pada hakekatnya bertujuan memberi layanan. Jadi strategi pemasaran jasa pendidikan berarti rencana yang komprehesif pada kegiatan lembaga pendidikan dalam memberi layanan jasa pendidikan yang memuaskan kepada pengguna dengan cara memperhatikan konsep, model, produk, biaya pendidikan dan strategi distribusi informasi jasa lembaga pendidikan.(by. Ircham Nizel)
Sekolah Dalam Lingkup Pemasaran


Pemasaran merupakan fungsi yang memiliki kontak yang paling besar  dengan lingkungan eksternal, padahal lembaga pendidikan memiliki kendali yang terbatas terhadap lingkungan eksternal. Oleh karena itu pemasaran memainkan peranan penting dalam pengembangan strategi. Strategi pemasaran pendidikan merupakan pernyataan mengenai bagaimana suatu merek atau produk mencapai tujuannya.
Lingkungan pendidikan dalam hal ini sekolah mengalami perubahan besar, yaitu lingkungan global pendidikan atau sering diistilahkan dengan globalisasi pendidikan. Globalisasi berarti suatu proses keterbukaan yang seluas-luasnya, bebas dari keterbelengguan cultural, bebas dari ketertutupan. Globalisasi dengan ciri pasar bebasnya tidak hanya menjual barang produksi industri saja, melainkan juga sumber daya manusia yang siap kerja. Oleh karena itu kualitas menjadi acuan utama. Barang (produk pendidikan) yang tidak berkualitas akan dicampakkan oleh konsumen, persaingan pasar semacam ini menuntut barang dagangan yang berkualitas. Masyarakat sudah mulai mempertanyakan dan memilih sekolah-sekolah berkualitas, karena mereka takut putra-putrinya tidak mampu bahkan kalah bersaing di era globalisasi ini.
Pemasaran, yang lebih dikenal dengan istilah asing “marketing” adalah suatu metode baru untuk memajukan dan mengembangkan potensi sebuah organisasi dengan memusatkan sasaran atau target, terutama pada masyarakat yang benar-benar memutuhkan dan menginginkan organisasi kita, dan tujuan dari pemasaran adalah membantu pengelola suatu organisasi untuk memutuskan produk apa yang mesti ditawarkan terlebih dahulu.
Mula-mula pemasaran dikenal dan dikembangkan oleh perusahaan multi nasional besar dengan kekuatan ekonomi super. Tapi sekarang, setiap perusahaan dan bahkan setiap orang telah menggunakannya, tidak ketinggalan pula organisasi-organisasi non-profit seperti lembaga pendidikan yang berfungsi sebagai pencetak biro jasa masa depan telah memanfaatkan segi keunggulan pemasaran untuk meningkatkan kerjasama atau transaksi mereka dengan pembeli, langganan dan publik. Suatu organisasi yang memutuskan tetap eksis dan suvive digelanggang persaingan yang ketat ini, mau tidak mau, tidak akan sukses tanpa memiliki strategi pemasaran yang baik.
Dalam dunia bisnis, pendidikan termasuk dalam suatu organisasi atau perusahaan yang bergerak di bidang jasa. Bisnis jasa sangat kompleks, karena banyak elemen yang mempengaruhinya, seperti sistem internal organisasi, lingkungan fisik, kontak personal, iklan, tagihan dan pembayaran, komentar dari mulut ke mulut dan sebagainya. Oleh karena itu pemasaran jasa tidak hanya membutuhkan pemasaran eksternal, tetapi juga pemasaran internal dan pemasaran interaktif. Dan begitu dalam strategi pemasaran  pendidikan haruslah menerapkan tiga model pemasaran jasa dengan tujuan agar terjadi keserasian dan bisa mencegah terjadinya kesalah pahaman antar komponen fungsi menajemen dalam pendidikan tersebut. Model-model tersebut yaitu:


Pemasaran Eksternal
Pemasaran eksternal menggambarkan aktivitas normal yang dilakukan oleh organisasi pendidikan dalam mempersiapkan produk, menetapkan harga, melakukan distribusi informasi dan mempromosikan produk jasa yang bernilai superior kepada para pelanggan dalah hal ini wali murid. Bila ini bisa dilakukan dengan baik, maka para wali murid sebagai pelanggan akan terikat dengan organisasi, sehingga keuntungan jangka panjang bisa terjamin.


Pemasaran Internal
Pemasaran internal menggambarkan tugas yang diemban organisasi dalam rangka melatih dan memotivasi para guru, karyawan dan para murid sebagai asset utama organisasi agar dapat melayani para pelanggan dengan baik. Yang tak kalah pentingnya adalah pemberian penghargaan atau reward dan pengakuan yang sepadan dan manusiawi. Aspek ini membangkitkan motivasi, moral kerja, rasa bangga, loyalitas, dan rasa memiliki setiap orang dalam organisasi, yang pada gilirannya dapat memerikan kontribusi besar bagi organisasi dan bagi pelanggan yang dilayani.


 Pemasaran Interaktif
Pemasaran interaktif menggambarkan interaksi antara pelanggan dalam hal ini para wali murid dengan para karyawan (guru dan staff) dan juga dengan pemimpin organisasi (kepala sekolah). Diharapkan stiap sumber daya manusiawi organisasi yang loyal, bermotivasi tinggi, dan diberdayakan (empowered) dapat memberikan Total Quality Service kepada setiap pelanggan dan calon pelanggan. Bila ini terealisasi, maka pelanggan yang puas akan menjalin hubungan berkesinambungan dengan personil dan organisasi yang bersangkutan, dan bahkan bisa menjadi sarana dan media pemasaran organisasi (by Ircham Nizel)


Tahapan Penerapan dalam Persaingan Antar Sekolah 

Tahapan persiapan strategi persaingan antar sekolah memerlukan tahapan yang terkait dengan SDM, sarana dan prasarana anggaran, dan stakeholders. Secara  garis besar pentahapan tersebut dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:
1.      Tahap sosialisasi
Tahapan sosialisasi penting dilakukan karena kecenderungan masyarakat untuk menerima suatu konsep perubahan tidak mudah, banyak perubahan baik personal maupun organisasi memerlukan pengetahuan dan keterampilan baru agar dapat beradaptasi dengan lebih baik dalam lingkungan yang baru. Dalam mengefektifkan pencapaian tujuan perubahan, maka dperlukan kejelasan tujuan dan cara yang tepat baik menyangkut aspek proses maupun pengembangan. Faktor-faktor yang terlibat dalam mengelola perubahan mencakup; lingkungan eksternal, manusia/perorangan, tujuan, kebiasaan, hasil, dan proses.  
2.      Tahap piloting (uji coba)
Agar penerapan strategi ini tidak mengundang resiko. Perlu dikeluarkan piloting atau model uji coba. Efektifitas model uji coba memerlukan persyaratan dasar, yaitu:
a.       Akseptibilitas. Artinya dapat diterima oleh masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan.
b.      Akuntabilitas. Artinya dapat dipertanggung jawabkan, baik secara konsep, operasional maupun pendanaannya.
c.       Replikabilitas. Artinya dapat diujicobakan di sekolah lain, sehingga perlakuan yang diberikan kepada sekolah uji coba dapat dilaksanakan di sekolah lain ketika mencapai tahap masal.
d.      Sustainabilitas. Artinya program tersebut dapat terus dikembangkan meskipun uji coba telah selesai.

3.      Tahap desiminasi
Proses desiminasi model memerlukan pentahapan disebabkan akan sangat ditentukan  dalam efektifitas pelaksaan oleh anggaran yang cukup memadahi, fasilitas, dan anggaran keuangan.
Tabel VI
Komponen-komponen school-based

Manajemen
PBM
SDM
Sumber daya dan Administrasi
Menyediakan manajemen/organi-sasi/kepemimpinan sekolah
Mempromosikan kualitas belajar sekolah
Menyebarkan staf dan menempatkan personal yang dapat memenuhi keperluan semua siswa
Mengidentifikasi sumberdaya yang diperlukan dan mengalokasikan sumberdaya tersebut sesuai dengan kebutuhan
Menyusun rencana sekolah dan merumuskan kebijakan
Menyusun kurikulum yang cocok dan tanggap terhadap kebutuhan semua siswa
Memilih staf yang memiliki wawasan school-based strategies
Mengelola alokasi dana sekolah
Mengelola operasional sekolah
Menawarkan pengajaran yang efektif
Menyediakan kegiatan untuk pengembangan profesi pada semua staf
Menyediakan dukungan administrative
Menjamin adanya komunikasi yang efektif antara sekolah dan masyarakat terkait (school community)
Menyediakan program pengembangan pribadi siswa
Menjamin kesejahteraan staf dan siswa
Mengelola pemeliharaan gedung dan sarana lainnya
Mendorong partisipasi masyarakat

Mengatur review/pembahasan penampilan skolah (school performance)

Menjamin akan terpeliharanya sekolah yang bertanggungjawab (accountability)




(by. Ircham Nizel)


Persaingan bisnis Antar Sekolah
Telah menjadi realitas, bahwa persaingan antar sekolah dewasa ini semakin atraktif. Hal ini tentunya menjadi sinyal positif dalam hal peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan. Kebijakan pemerintah yang memberikan perhatian besar di sektor pendidikan, membuka peluang lebih berinovasinya institusi pendidikan. Sekolah-sekolah kini telah mengubah mindset-nya dengan mulai merevisi beberapa programnya.

Konsep input, proses dan output menjadi obyek kajian yang telah dimantapkan. Tidak mengherankan, jika inovasi-inovasi tersebut menjadi sebuah telaahan marketing yang menarik. Marketing dewasa ini bukan hanya monopoli institusi pendidikan yang profit oriented, namun pula trennya telah diadopsi institusi pendidikan negeri. Upaya untuk menggaet input yang lebih capable dan matang (calon siswa potensial), telah menjadi tuntutan yang wajib dipenuhi, dalam rangka mendukung proses pembelajaran dan kompetisi antar sekolah. Dengan input yang qualified tersebut, maka guru akan lebih mampu untuk melakukan akselerasi, bukan malah menggampangkan proses belajar mengajar.
Konsep pemasaran pendidikan dewasa ini memang telah berevolusi menjadi sebuah kajian yang lebih dewasa. Inovasi pemasaran lembaga pendidikan (sekolah) memang lagi kreatif-kreatifnya. Panitia penerimaan siswa baru tidak hanya difungsikan sekadar mengurusi hal administrasi dan seleksi ketat semata, namun mereka diefektifkan jauh-jauh hari sebelum tahun ajaran baru untuk mengedukasi dan melakukan kampanye terhadap target-targetnya (calon siswa potensial). Dalam hal ini, tentunya mereka awali dengan melakukan riset mengenai tren masyarakat konsumen pendidikan. Dan pada tahap selanjutnya adalah berinovasi untuk mengedukasi pasar dan menghasilkan input yang sesuai standar target yang telah ditetapkan sebelumnya.
Kini sekolah-sekolah memang harus lebih aktif untuk menggaet input-input yang berkualitas. Hal ini dalam rangka kompetisi tadi. Tak heran jika pilihan berinovasi dengan memajukan waktu perekrutan calon siswa dan membuka jalur khusus siswa berprestasi, menjadi strategi baru bagi sekolah-sekolah yang lebih bonafide, dalam konteks pemasaran lembaganya.
Strategi komunikasi pemasaran dibeberapa sekolah swasta, bahkan telah dilakukan secara profesional dengan memasang artikel satu halaman full di media. Suatu terobosan unik untuk mengedukasi calon konsumennya. Tentunya strategi ini memerlukan budget yang tidak sedikit. Namun untuk sebuah kemenangan kompetisi, akselerasi peningkatan kualitas dan profesionalisme manajemen sekolah, bukankah ini sesuatu yang patut untuk dicoba ?
Perilaku konsumen pendidikan (siswa) memang masih cenderung loyal atau masih primordial dalam konteks pendidikan. Ini adalah kekuatan tersendiri untuk pemasaran brand lembaga pendidikan. Ditunjang dengan interland yang belum terlalu valuable kualitas pendidikannya, pasar pendidikan cenderung masih sangat prospektif.
Siswa (termasuk orangtuanya) tidak lagi hanya sekadar melihat pertimbangan lamanya sekolah berdiri, jarak dari rumah ke sekolah dan guru-gurunya saja, melainkan ada faktor-faktor motivasi lain dalam hal memutuskan target sekolah yang dipilih. Dalam konteks ini, positioning sebuah institusi pendidikan merupakan aspek perhatian besar dari konsumennya (siswa).
Sekolah-sekolah yang memposisikan dirinya sebagai sekolah unggulan, andalan ataupun favorit yang diregulasi pemerintah tentu memiliki bargaining position yang lebih baik. Namun trend siswa dewasa ini ternyata tidak hanya melihat positioning sekolah unggulan, andalan dan favorit sebagai satu-satunya pertimbangan untuk memutuskan bersekolah di lembaga tersebut.
Pertimbangan positioning sekolah gaul dan bonafide ternyata menjadi fenomena baru dalam pemasaran lembaga pendidikan. Hal ini penting mendapat respon manajemen sekolah. Berkualitas, disiplin namun tetap gaul cenderung pula menjadi idealisme remaja. Sekolah bonafide, dengan infrastruktur yang lebih mendukung, ruangan ber-AC, fasilitas teknologi yang memadai, kini memang suatu tuntutan pasar yang menjadi kewajiban untuk dieksekusi oleh sekolah, dalam rangka memasarkan lembaganya.
Hal ini karena ternyata perilaku konsumen pendidikan (siswa) relatif ingin suasana dinamis dalam lingkungan sekolahnya, sehingga sekolah lagi-lagi dituntut menawarkan inovasi dalam content of product yang ditawarkannya. Content tersebut termasuk pula seberapa besar apresiasi manajemen sekolah terhadap aktifitas kesiswaan yang kreatif dan dinamis.
Jadi, intinya adalah bagaimana menciptakan qualistyle di sekolah, bukan sekadar lifestyle.
Kepuasan konsumen pendidikan terhadap kinerja sekolah menjadi keniscayaan untuk menjadi telaah evaluasi. Over promise and under delivery adalah kesalahan pemasaran. Ketidak sesuaian ekspektasi konsumen dan realitas yang ada, akan membentuk citra buruk sekolah. Hal ini patut diwaspadai karena masyarakat kita juga memiliki kemampuan socializing        yang kuat.
Komunikasi negatif melalui word of mouth dalam event dan forum sosial akan sangat efektif memberikan pencitraan buruk kepada sekolah, jika memang terjadi ketidakpuasan tadi. Oleh karena itu, harus ada quality assurance dari sekolah untuk siswa dan calon siswa (terutama siswa potensial) terhadap produk yang ditawarkan oleh sekolah itu.(by. Ircham Nizel)

PENTINGNYA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI 
Part II

Anak adalah perwujudan cinta kasih orang dewasa yang siap atau tidak untuk menjadi orang tua. Memiliki anak, siap atau tidak, mengubah banyak hal dalam kehidupan, dan pada akhirnya mau atau tidak kita dituntut untuk siap menjadi orang tua yang harus dapat mempersiapkan anak-anak kita agar dapat menjalankan kehidupan masa depan mereka dengan baik.
Mengenal, mengetahui, memahami dunia anak memang bukan sesuatu yang mudah. Dunia yang penuh warna-warni, dunia yang segalanya indah, mudah, ceria, penuh cinta, penuh keajaiban dan penuh kejutan. Dunia yang seharusnya dimiliki oleh setiap anak anak namun dalam kepemilikanya banyak bergantung pada peranan orang tua.
Para ahli sependapat bahwa peranan orang tua begitu besar dalam membantu anak-anak agar siap memasuki gerbang kehidupan mereka. Ini berarti bahwa jika berbicara tentang gerbang kehidupan mereka, maka akan membicarakan prospek kehidupan mereka 20-25 tahun mendatang. Pada tahun itulah mereka memasuki kehidupan yang sesungguhnya. Masuk ke dalam kemandirian penuh, masuk ke dalam dunia mereka yang independen yang sudah seharusnya terlepas penuh dari orang tua di mana keputusan-keputusan hidup mereka sudah harus dapat dilakukan sendiri. Disinilah peranan orang tua sudah sangat berkurang dan sebagai orang tua, pada saat itu kita hanya dapat melihat buah hasil didikan kita sekarang, tanpa dapat melakukan perubahan apapun.
Dunia yang berkembang membuat kehidupan manusia pun berkembang. Tidak jarang saat ini orang tua muda sibuk bekerja sehingga melalaikan proses pertumbuhan anak. Pertumbuhan anak dan proses penjagaan biasanya diserahkan sepenuhnya kepada baby siter atau pembantu rumah tangga, dengan catatan pendidikan para pengasuh anak tidak sebaik orang tua.
Dengan latar belakang pendidikan yang rendah, maka banyak keterbatasan pun timbul. Pengasuh anak akan mendidik anak-anak dengan metode yang mereka dapatkan semasa kecil ditambah sedikit pendidikan yang mereka dapat semasa sekolah, sedangkan untuk mendidik seorang anak, orang tua harus terus mengikuti perkembangan yang ada.
Dengan pertimbangan ini, maka orang tua muda saat ini lebih mempercayakan perkembangan anak-anak mereka lewat dunia pendidikan  Pra-Sekolah. Pada masa sekarang ini, sebagian besar orangtua telah merencanakan pendidikan untuk anaknya sedini mungkin. Untuk itu, orang tua memilih dan mencari informasi pendidikan  Pra-Sekolah mana yang baik bagi anaknya. Dalam Undang-undang sisdiknas pasal 7 ayat 1 disebutkan bahwa : Orang tua berhak berperan serta dalam memilih satuan pendidikan dan memperoleh informasi tentang perkembangan pendidikan anaknya”.

Sehingga peranan orang tua sangat dibutuhkan dalam memilih lembaga pendidikan Pra-sekolah dan mendapatkan informasi tentang perkembangan pendidikan anaknya dalam rangka meningkatkan intelektualitas anaknya. 
Mengapa orang tua perlu meningkatkan intelektualitas anak demi mempersiapkan mereka masuk sekolah? Jawabannya, sekolah saat ini meminta persyaratan yang cukup tinggi dari kualitas seorang siswa. Masih didapat siswa yang masuk SD sudah diperkenalkan dengan berbagai macam pelajaran dan ilmu sejak dini. Anak-anak sudah harus memiliki kreativitas yang tinggi sejak kecil. Oleh sebab itu, anak-anak yang memiliki intelektualitas yang tinggi akan lebih mudah menerima dengan baik semua yang diajarkan. Mereka akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi, lebih mudah beradaptasi, lebih mudah menerima hal-hal yang baru, atau intelektualitas anak bisa dikembangkan jauh sebelum mereka masuk            ke sekolah.
Namun biaya pendidikan yang semakin tahun semakin bertambah mahal, menjadi pertimbangan bagi orang tua dalam memilih tempat yang akan mereka percayakan untuk mendidik anak-anak mereka. Karena pertimbangan ini, maka beberapa sekolah menyediakan pilihan bagi siswanya. Pilihan tersebut salah satunya adalah program paket pembiayaan pendidikan yang memudahkan orang tua serta membantu para orang tua untuk dapat menabung pada masa yang akan datang.
Adanya program paket dan harga paket pembiayaan pendidikan memberikan dampak positif bagi perkembangan sekolah, disamping juga memberikan keuntungan bagi orang tua. Dampak positif yang dapat dirasakan oleh pihak sekolah sebagai pihak penyelenggara pendidikan dalam pelaksanaan program ini adalah murid tidak akan hilang pada saat mereka lulus pada jenjang tersebut, karena secara otomatis melalui program paket ini mereka telah terdaftar pada jenjang selanjutnya. Program Paket yang ditawarkan biasanya antara lain:
1.      Pra-Kelompok Bermain s/d TK
2.      Pra-Kelompok Bermain s/d SD
3.      Kelompok Bermain s/d TK
4.      Kelompok Bermain s/d SD
5.      TK  s/d  SD
6.      SD s/d SMP
7.      SMP s/d SMA

Dari program paket ini, maka diharapkan orang tua dapat mendaftarkan dan memasukkan anak-anaknya ke lembaga-lembaga pendidikan yang menawarkan program ini, sehingga orang tua akan lebih bisa merencanakan pembiayaan pendidikan untuk anaknya yang terarah tanpa mengesampingkan kebutuhan pendidikan anak.(by. Ircham Nizel)