Saturday, August 29, 2009

Puasa Secara Ethik


PUASA DITINJAU DARI SEGI ETHIK
Puasa adalah sebuah perjalanan spiritual yang terkandung nilai-nilai moral maupun nilai-nilai rohani, dan hal ini amat ditekankan oleh al-Qur’an dan Hadits. Nabi Muhammad saw bersabda sebagai berikut : “Barangsiapa tidak menghentikan ucapan bohong dan perbuatan kotor, Allah tidak membutuhkan sama sekali akan puasanya yang ia lakukan dengan pantang makan dan minum” (HR. Bukhori). Hal ini berlaku pula bagi semua Rukun Islam. Orang yang melakukan shalat itu, tetapi tak memperhatikan jiwa shalat yang menjadi tujuan shalat itu, ia dikutuk oleh al-Qur’an dengan firnannya yang terang sebagai berikut : “Celakalah mereka yang bershalat yang tak mengingat (akan tujuan) shalat mereka” (Q.S. 107:4-5). Dalam hadits lainnya, segi ethik puasa, diuraikan dengan kata-kata sebagai berikut: “Puasa adalah perisai; maka hendaklah orang yang berpuasa jangan mengucapkan kata-kata kotor, dan jangan pula melakukan perbuatan keji (la yajhal); dan jika salah seorang mengajak bertengkar atau memaki-maki kepadanya, hendaklah ia berkata: Aku sedang puasa. Demi Tuhan Yang menguasai jiwaku! Sesungguhnya bau mulut orang yang puasa itu menurut Allah lebih harurn daripada bau minyak kasturi” (HR. Bukhori). Bukan karena pantang makan dan minum yang membuat bau-mulut orang puasa harum, tetapi yang membuat bau harum ialah karena ia menjauhkan diri dari ucapan kotor dan segala macam perbuatan keji sampai-sampai ia tak mau membalas maki-maki orang yang memaki-maki kepadanya. Jadi, orang yang berpuasa bukan saja mengalami disiplin jasmani berupa mengekang hawa-nafsu, dan menahan lapar dan dahaga, serta menahan hawa nafsu berhubungan badan, melainkan benar-benar mengalami disiplin moral berupa menjauhkan diri dari segala macam ucapan kotor dan perbuatan keji. Puasa bukan saja melatih disiplin jasmani, melainkan pula melatih disiplin moral dan disiplin rohani. Sebagaimana diuraikan seterang-terangnya dalam Hadits tersebut, puasa itu tak ada artinya dalam penglihatan Allah, jika orang yang puasa tak menjauhkan diri, bukan saja dari makan dan minum, melainkan pula dari ucapan bohong, ucapan kotor berbuat serong, atau berbuat keji. Selanjutnya, nilai disiplin moral yang terdapat dalam puasa, dipertinggi lagi dengan memberi tekanan khusus agar dalam bulan Ramadhan, orang suka berbuat baik kepada sesamanya. Sehubungan dengan ini, dalam hadits diuraikan sebuah contoh yang dilakukan oleh Nabi. “Rasulullah saw adalah orang yang paling murah-hati di antara sekalian manusia; dan beliau lebih bermurah hati lagi dalam bulan Ramadhan” (HR. Bukhori). Dalam riwayat lainnya diterangkan bahwa jika bulan Ramadhan tiba, “Nabi saw menggunakan itu untuk membebaskan semua tawanan dan memberi sedekah kepada orang minta-minta”. Bulan Ramadhan sebagai bulan untuk menaruh perhatian terhadap kaum miskin dan kaum lapar. Uraian tersebut di atas menambah jelasnya arti suatu Hadits yang berbunyi sebagai berikut : “Jika bulan Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dirantai” (HR. Bukhori). Ini berlaku bagi orang yang menjalankan puasa jasmani dan rohani. Setan-setan dirantai, karena ia dapat mengalahkan dan mengendalikan hawa nafsu, yang dengan meniupkan bisikan jahat kepada hawa nafsu, setan-setan itu menjerumuskan manusia dalam lembah kejahatan. Pintu-pintu neraka ditutup, karena, ia menjauhi segala macam kejahatan, yang ini adalah sumber neraka bagi manusia. Pintu-pintu Surga dibuka, karena ia menaikkan tingkatan rohani di atas keinginan-keinginan jasmani, dan mengabdikan diri kepada kepentingan sesama manusia. Puasa mendatangkan ampunan dan dosa barangsiapa menjalankan puasa karena iman (kepada Allah) dan karena mencari ridla-Nya, disertai dengan niat, ia akan diampuni dosanya. Tak ada ragu-ragu sedikitpun bahwa puasa seperti itu, yakni, puasa yang dilakukan karena iman kepada Allah, dan dilakukan sebagai disiplin rohani untuk mencari ridha Ilahi, disertai dengan niat yang baik, ini merupakan praktek taubat yang bernilai tinggi bertaubat sungguh-sungguh, maka dosa yang sudah-sudah akan diampuni, karena ia telah mengubah haluan hidupnya. masih ada arti lain lagi tentang dibukanya pintu Surga pada bulan Ramadhan bagi orang puasa, yaitu bahwa puasa Ramadhan tepat sekali untuk meningkatkan keroharian kita atau untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana firman Allah sebagai beriku: “Dan apabila hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, sesungguhnya Aku ini dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a tatkala ia berdo’a kepada-Ku” (Q.S. 2 : 186). Menurut ayat ini, jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dibuka dalam bulan ramadhan dan pendekatan ini harus dilakukan dengan jalan berdo’a. Itulah sebabnya mengapa Nabi saw menggunakan bulan ramadhan sebagai bulan yang khusus untuk menjalankan shalat Tahajjud. Dan beliau juga menganjurkan kepada para pengikut beliau supaya selama bulan ramadhan, bangun malam untuk menjalankan shalat Tahajjud. By. Ircham J. NiZel




No comments: