Monday, August 03, 2009

Menggugah Kecerdasan Bangsa

Mereka yang Menggugah Kecerdasan Bangsa Tak disangkal lagi, pendidikan yang dulu berfungsi membangkitkan kesadaran kaum terjajah, kini menjadi tonggak penting kemajuan bangsa. Nama-nama seperti Ki Hajar Dewantara, K.H. Ahmad Dahlan hingga K.H. Hasyim Asyari adalah pionir yang membangun masyarakat Indonesia bangkit dari keterpurukan. Semangat membangun negeri lepas dari kungkungan penjajahan menggunakan konsep pendidikan dimulai di awal abad 20. Tonggak itu dimulai dengan pendirian Taman Siswa di Yogyakarta oleh Ki Hajar Dewantara, tanggal 3 Juli 1922. Lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, Ki Hajar Dewantara memang dibesarkan lingkungan keraton Yogya. Sebagai golongan ningrat, Ki Hajar Dewantara saat itu berhak mengenyam pendidikan. Setelah tamat ELS (Sekolah Dasar Belanda), ia meneruskan pelajarannya ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera). Lantaran sakit, ia tidak bisa meneruskan pendidikannya di STOVIA. Seperti banyak pahlawan nasional lainnya, Ki Hajar Dewantara pun pernah mengalami pengasingan. Ia diasingkan ke negeri Belanda sampai tahun 1918. Sekembalinya dari sana, bersama rekan-rekan seperjuangannya, Ki Hajar mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa atau lebih dikenal dengan Perguruan Nasional Taman Siswa. Taman Siswa merupakan sebuah perguruan yang bercorak nasionalisme, menekankan rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Manusia merdeka adalah tujuan pendidikan Taman Siswa. Merdeka secara fisik, mental dan kerohanian. Namun, kemerdekaan pribadi ini dibatasi oleh ketertiban kehidupan bersama. Maksud dari didirikannya Taman Siswa sendiri adalah membangun budayanya sendiri, jalan hidup sendiri dengan mengembangkan rasa merdeka dalam hati setiap orang melalui media pendidikan yang berlandaskan aspek-aspek nasional. Sumbangsih paling terkenal dari Ki Hajar tentunya adalah semboyannya. Siapa tak kenal semboyan tut wuri handayani (yang di belakang harus memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (yang di tengah harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (yang di depan harus memberi teladan). Semboyan inilah yang dipakai oleh pendidikan kita hingga sekarang. Pendidikan Islam juga menyumbang peranan penting dalam konteks pendidikan nasional. Dimulai dari pondok pesantren hingga sekolah-sekolah madrasah, pendidikan Islam merupakan sistem pendidikan yang berasal dari akar terbawah masyarakat Indonesia. Tentu saja, jika menilik pendidikan Islam, kita tak bisa berpaling dari kontribusi yang K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’ari. Kyai Haji Ahmad Dahlan yang lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868, merupakan putra keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu. Sosok pahlawan nasional Indonesia ini mempunyai nama kecil Muhammad Darwisy. Sejak usia 15 tahun ia sudah pergi haji dan tinggal di Mekkah selama lima tahun. K.H. Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, beliau berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. “Ahmad Dahlan, sangat jelas kontribusinya,” ucap Zainal Abidin, salah satu pengurus pusat Pimpinan Pusat Muhammadiyah. K.H. Ahmad Dahlan merasa perlu memajukan umat Islam dari segi pendidikan dengan sekolah yang lebih maju dibanding yang selama ini bersifat tradisional. Kepeduliaannya pada kondisi rakyat Indonesia, memang tak langsung ia curahkan kepada pembenahan pendidikan anak negeri. Yang didirikan pertama kali waktu itu adalah Majelis Penolong Kesengsaraan Umum (sejenis Departemen Sosial sekarang –red). “Ia terinspirasi dari Surat Al Ma’un,” jelas Zainal. Tentu, kontribusinya yang kentara adalah mendirikan Muhammadiyah. Muhammadiyah didirikan pada 18 November 1912, di Kampung Kauman, Yogyakarta, untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam di bumi Nusantara. la ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk hidup menurut tuntunan Al-Qur'an dan Al-Hadits. Sejak awal pendiriannya, K.H. Ahmad Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukanlah organisasi politik, tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan. James L Peacock, antropolog Amerika dari Harvard University yang menulis buku Pembaharu dan Pembaharuan Agama, mencatat peran Muhammadiyah sebagai organisasi kesejahteraan dan pendidikan swasta yang paling menonjol di Indonesia. K.H. Ahmad Dahlan pun memprakarsai terbentuknya penampungan fakir miskin, panti asuhan yatim piatu, dan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah di Yogyakarta. Langkah ini merupakan terobosan luar biasa dan yang pertama dilakukan oleh pergerakan Islam di Indonesia. Gagasan K.H. Ahmad Dahlan yang terpenting adalah memasukkan pendidikan Agama Islam ke dalam sekolah yang dikelola oleh pemerintah. Ia sendiri pernah menjadi pengajar agama Islam di Kweekschool Jetis-Yogyakarta sekitar tahun 1910. Walaupun masih bersifat ekstra kurikuler, namun peristiwa tersebut menandai pertama kalinya agama Islam diajarkan di sekolah. Sementara itu, perjuangan K.H. Hasyim Asy’ari sedikit berbeda dari metode ke-Islam-annya. Bisa dibilang, K.H. Hasyim Asy’ari adalah ulama yang bersifat kontekstual pada masanya. Meski dalam sejarahnya ia mengenal dengan baik Wahabiyyah dan aliran Salafiyyah yang diajarkan Ibn Taimiyyah dengan murid-muridnya, namun K.H. Hasyim Asy'ari urung mengajarkannya. Sebab, sesuai sejarah saat itu, bahwa pembaharuan yang didasarkan pada pemikiran Muhammad Abdul Wahab dan gerakan salafi yang pada ajaran Ibn Taimiyyah telah menimbulkan perselisihan antara umat Islam di Indonesia. Pijakan penting dalam dunia Islam nusantara terjadi pada tahun 1926. Saat itu, Kyai Hasyim Asyari mendirikan organisasi Islam Nadhlatul Ulama (NU), yang berarti kemenangan ulama. Organisasi ini merupakan salah satu organisasi Islam terbesar Indonesia, selain Muhammadiyah tentunya. “KH Hasyim merupakan figur yang cerdas dan tegas,” kenang Solahuddin Wahid, pengasuh pondok pesantren Tebuireng, Jombang. “Berdakwah merupakan salah satu tujuan hidupnya,” tegas Solahuddin. Hal ini dibuktikan ketika K.H. Hasyim Asy’ari pulang dari Mekkah dengan mendirikan pesantren Tebuireng di Jombang, tahun 1899. Pada waktu itu, Tebuireng merupakan sebuah desa yang penuh dengan rumah pelacuran dan tempat minum-minum keras. Ia mempunyai tujuan menjadikan pesantren sebagai agen perubahan sosial. K.H. Hasyim Asy'ari menganggap pesantren lebih dari sekedar tempat pendidikan atau lembaga moral dan religius. Fungsinya bisa juga sebagai sarana untuk membuat perubahan mendasar dalam masyarakat secara luas. Kelak ponpes ini menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. Dalam berdakwah K.H. Hasyim Asy'ari sangat memperhitungkan keadaan sosial dan masyarakat pada saat itu. Ia berdakwah sesuai dengan kebutuhan dan keperluan masyarakat sambil tetap mempertimbangkan aspek tradisi keagamaan. Misalnya, penekanan materi dalam berdakwah adalah masalah ukhuwah dan ahl sunnah wa al-jama`ah di samping beberapa hal lainnya. K.H. Hasyim Asy'ari mencoba mempertahankan ahl sunnah wa al-jamaah (aswaja) sebagai ide utama dalam berdakwah, dengan pertimbangan karena aswaja adalah bagian dari kehidupan yang sudah ada sejak munculnya Islam di Indonesia. Wallau a’lam(by. Irch. J. NiZel)

No comments: