Tuesday, August 25, 2009

Bermunajatlah


BANGUNLAH UNTUK BERMUNAJAT
Tidur memang perlu. Tetapi di dalarn tidur ada perjuangan lain; perjuangan untuk bangun. Alangkah indahnya tuntunan Islam. Dalam setiap ajarannya, selalu ada manfaat yang berlipat-lipat, seperti halnya ajaran dalam tidur. Tidak saja di dalamnya ada ajaran tentang keseimbangan tubuh, tapi juga tuntunan lain yang sangat banyak. Di antara tuntunan itu adalah ajaran untuk bangun dan tidur di malam hari. Rasulullah saw bersabda “Hendaklah kamu bangun malam karena itu adalah kebiasaan amalan orang-orang yang shalih sebalum kamu. Sesungguhnya bangun malam itu mendekatkan diri kepada Allah, menutup segala dosa, menghilangkan penyakit dari tubuh dan menjauhi kekejian.” (HR. Tarmidzi).
Pada sepertiga malam terakhir, justru saat-saat paling istimewa bagi siapa saja yang ingin bermunajat kepada Allah. Saat itu Allah turun ke langit bumi dan memberi kesempatan kepada hamba-hamba-Nya untuk bermunajat, meminta dan memohon segala macam kebaikan. “Adakah yang berdo’a kepada-Ku, biar Aku perkenankan? Adakah yang meminta kepada-Ku, biar Aku berikan? Adakah yang memohon ampun kepada-Ku, biar Aku ampuni?” begitu firman Allah dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhan.
Tanpa mengatakan bahwa tujuan shalat malam adalah demi kesehatan, ternyata dampak shalat malam bagi ketahanan tubuh memang ada. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Mohammad Sholeh dosen Fakultas Tarbiyah lAIN Sunan Ampel Surabaya, dalam melakukan penelitian terhadap para siswa SMU Lukmanul Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya yang secara rutin memang menunaikan shalat tahajjud. Salah satu kesimpulannya, shalat tahajjud yang dilakukan dipenghujung malam yang sunyi, dapat mendatangkan ketenangan. Sementara ketenangan itu sendiri terbukti mampu meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi resiko terkena penyakit jantung dan meningkatkan usia harapan hidup.
Malam hari, adalah saat-saat yang dinantikan hamba-hamba yang shalih. Mereka tidak bisa membayangkan apa jadinya bila hari tanpa malam. Dalam riwayat lain, Rasulullah mengabarkan “Sesungguhnya pada waktu malam ada waktu tertentu, yang tidak seorang pun memohon kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat tepat pada waktu itu, kecuali pasti akan diberikan. Dan, itu berlaku untuk setiap malam”. (HR Muslim).
Kelak, orang-orang yang masuk surga akan bernostalgia tentang masa lalunya. Kala dahulu di dunia mereka selalu bangun shalat malam dan bermunajat kepada Allah swt. “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa ada di dalam surga dan dekat dengan air yang mengalir, sambil mengambil apa yang diberi oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum ini di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.” (QS. Adz-Dzanat: 15-18).
Kerenanya, bagi seorang mukmin, “tidur” sekali lagi hanya seperlunya. Terlebih Rasulullah saw. Imam lbnu Qayyim pernah berkata, “Siapa yang meneliti cara tidur dan jaga Rasulullah saw akan mendapati bahwa tidur Rasulullah adalah yang paling seimbang dan paling bermanfaat untuk badan dan untuk memberi kekuatan. Rasulullah tidak pernah tidur lebih dari kadar yang diperlukan, tetapi tidak pernah pula mencegah dirinya dari kadar keperluannya.
Ketika suatu hari Umar bin Khatab menangis, karena melihat Rasulullah saw tidur di atas selembar tikar yang sudah usang, sehingga tubuh beliau berbekas garis-garisnya, Rasulullah bertanya, “Mengapa engkau menangis?’ Umar berkata, “Bagaimana Kisra (Maharaja Parsi) dan kaisar (Maharaja Romawi) sama tidur di atas sutera tebal dan tipis, sedang engkau sebagai Rasulullah sampai membekas dilambung engkau hamparan tikar? Mendengar itu Rasulullah saw menghiburnya. Wahai Umar, Tidakkah engkau rela jika dunia ini mereka miliki sedang kita akan memiliki akhirat?. Tradisi bermunajat kepada Allah itu tidak akan pernah hilang sampai kapan pun. Banyak kisah orang-orang shalih dalam soal bangun malam ini, bahkan yang dekat dengan zaman kita saat ini. Satu di antaranya adalah apa yang dikisahkan Syaikh Umar Tilmisani, murid pejuang besar asal Mesir, Hasan al-Banna, sekaligus Mursyid (Ketua Umum) Jama’ah lkhwanul Muslimin. ”Pada waktu itu kami sedang melakukan acara Raker di luar kota. Selesai acara rapat waktu itu kira-kira pukul 12 malam. Kami semua sangat lelah dikarenakan antusias dan kesungguhan kami didalam acara rapat kerja tersebut. Kebetulan kami mendapat kamar yang sama dengan Imam Hasan Al-Banna. Saya sudah sangat penat sekali, dan ingin langsung istirahat tidur, agar besok tidak terlambat waktu shalat shubuh. Kami berbaring di tempat tidur masing-masing, kisah Umar Tilmisani.
Ia menambahkan, “Tidak beberapa Iama Imam Hasan Al-Banna memanggil saya, Umar, sudah tidur? Saya jawab, “labbaika, belum Mursyid.’ Beliau tidak berkata apa-apa lagi. Tak beberapa lama kemudian, beliau bertanya lagi hal yang sama, Umar, kamu sudah tidur? Saya jawab, “Labbaika, belum Mursyik dalam hati saya bertanya-tanya mengapa beliau melakukan hal ini?, lama beliau terdiam, tiba-tiba beliau memanggil lagi Karena sudah sangat penat, akhirnya saya tidak menjawab, biar sangka sudah tidur lelap. Tiba-tiba beliau bangun pelan-pelan sekali, berjalan sambil menenteng teropahnya ke kamar mandi. Di sana saya mendengar ia dengan sangat hati-hati berwudhu, agar percikan airya tidak membangunkan saya. Kemudian beliau mengambil tempat disudut kamar, menghadap kiblat, dan shalat malam (qiyamul lail) beberapa rakaat.
Maka, berjuanglah untuk bisa tidur dengan tenang. tetapi jangan lupa, berjuang pulalah untuk bangun. Akan selalu ada orang-orang shalih, dahulu, kini dan sampai akhir zaman nanti yang akan tetap konsisten melakukan munajat malam. Maka, tak ada yang lebih membahagiakan melebihi mereka yang bisa menjadi bagian dari orang-orang shalih itu. By. Ircham J. NiZel



No comments: