Ngabuburit, Kegiatan Rutin Bulan Ramadhan Moment apa yang biasanya paling di tunggu saat kita menjalankan ibadah puasa Ramadhan? Tak lain adalah saat-saat menjelang berbuka puasa. Saat Ramadhan datang, ngabuburit seolah menjadi tradisi yang sayang ditinggalkan. Alih-alih menunggu waktu berbuka, saking asyiknya, kembali ke rumah pun enggan. Ternyata budaya ngabuburit di berbagai tempat di Indonesia sudah ada sejak jaman dulu. Saat ngabuburit inilah yang paling di tunggu oleh kabanyakan kaum muda. Ngabuburit berasal dari bahasa Sunda dengan akar kata burit, yakni sebuah representasi waktu yang menunjukkan mulainya malam hari. Ngabuburit artinya mengisi waktu hingga burit tiba. Istilah ini sering digunakan pada bulan puasa sebagai tren dalam menanti waktu berbuka. Dalam masyarakat Sunda hal ini sudah membudaya dan menjadi istilah baku dalam kamus. Sekarang, istilah ngabuburit sudah dipakai oleh semua orang yang mengartikannya sebagai kegiatan mengisi waktu sampai tiba saatnya berbuka puasa. Bahkan tren ini menjadi sebuah tradisi yang tak bisa dilepaskan dari bulan Ramadhan. Sebuah analisa dari Guru Besar Universitas Galuh Ciamis, Prof. Dr. Dadan Wildan Anas, M.Hum menyebutkan istilah ngabuburit ini diperkirakan sudah ada sejak abad XV. Dalam analisanya Dadan menyebutkan, pada abad ke-15, Kerajaan Mataram menata kota-kota dengan membuat sebuah pusat kegiatan masyarakat berupa sebuah alun-alun, masjid, dan pasar serta fasilitas pendukung lainnya sehingga menarik warga untuk mendatanginya. Ibarat semut merangsek gula. Karena pusat keramaian di Alun-alun, maka menjadi lokasi paling favorit untuk ngabuburit. Banyak kegiatan yang dilakukan sebagai pengisi waktu di sore hari alias ngabuburit. Program pesantren kilat yang digelar selama bulan Ramadhan misalnya, atau ziarah ke mesjid tua dan bersejarah yang ada di sekitar kita. Seperti yang diselenggarakan oleh Komunitas Jelajah Budaya (KJB) yang biasa mengadakan program wisata budaya ke mesjid-mesjid bersejarah di Kota Tua Jakarta ketika bulan Ramadhan untuk ngabuburit. Kebanyakan memang dilakukan di sore hari. Sambil ngabuburit, sekaligus juga dapat tambahan ilmu tentang sejarah bangsa dan ilmu seputar keagamaan. Tapi banyak juga aktivitas ngabuburit yang tidak ada kaitan langsung dengan nuansa keagamaan. Ya, ini sih benar-benar sekedar perintang-rintang waktu. Bisa jalan-jalan, bisa nongkrong di taman kota, baca buku, atau yang lainnya. Silakan pilih sendiri. Di setiap daerah, pelaksanaan budaya ngabuburit beda cara. Begitupun dengan orang yang tinggal di perkampungan dengan di perkotaan. Di perkampungan, budaya ngabuburit dulu diisi dengan beragam permainan rakyat, misalnya petak umpet, gatrik, dan sebagainya. Untuk memeriahkan suasana, anak-anak di daerah perkampungan biasanya bermain lodong atau jeblugan, yakni bermain perang-perangan dengan media bambu mirip sebuah meriam yang diisi dengan karbit hingga menghasilkan suara dentuman. Sedangkan di daerah perkotaan ngabuburit biasanya diiisi dengan jalan-jalan sore, nongkrong di pusat perbelanjaan, atau keliling kota dengan kendaraan. Di Jakarta misalnya, pusat-pusat perbelanjaan di daerah ini selalu ramai ketika sore di bulan Ramadhan. Lain lagi dengan komunitas dunia maya Wikimu. Mereka mengadakan ngabuburit dengan acara nonton bersama film Merah Putih, sebuah film tentang perjuangan bangsa. “Kebetulan awal bulan puasa tahun ini masih di bulan Agustus, di mana bangsa Indonesia masih riuh merayakan Hari Kemerdekaan, 17 Agustus. Karena itu, sambil menunggu saat berbuka puasa, Agenda Wikimu bulan ini adalah mengajak teman-teman untuk ngabuburit dengan menonton film Merah Putih,” tertera dalam undangan yang dilayangkan lewat jejaring internet tersebut. Acara nonton bareng ini diadakan pada hari Minggu, 23 Agustus 2009, di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), jalan Cikini Raya no 73, Jakarta. Secara ideal, ngabuburit sebaiknya diisi dengan hal-hal yang bermanfaat, dalam arti mendatangkan amal ibadah, dalam setiap detik, menit dan jam yang dilaluinya. Misalnya, membaca dan menghafal Al Qur’an, berzikir, membantu orang tua atau orang-orang lain yang membutuhkan. Namun karena Islam adalah agama yang tidak bersifat membebani, dalam perkembanganya Islam amat toleran dengan tradisi setempat yang dilakukan semasa menunggu beduk bergema. Jadi sejauh tidak mendatangkan kemaksiatan, umumnya para ulama bisa menerima hal-hal itu sebagai bagian dari aktivitas ngabuburit. Bagi kita ngabuburit di zaman sekarang ini bisa kita lakukan hal-hal yang baik seperti mendengarkan ceramah para ulama, baik secara langsung di masjid-masjid, maupun secara elektronik melalui perantaraan radio dan TV. Selain kualitasnya biasanya di atas rata-rata, ceramah yang di sampaikan melalui TV dan radio juga lebih menarik, tidak membosankan, dan topiknya pun diatur supaya beragam. Sebetulnya memang tidak ada aturan yang mengatur kegiatan apa saja yang boleh dilakukan pada saat ngabuburit. Hanya saja, jangan sampai kegiatan ngabuburit ini mengurangi nilai ibadah puasa kita. Ngabuburit hanyalah aktivitas tambahan pada saat menjalankan ibadah puasa.Tujuannya agar kita tidak bosen menunggu saat buka puasa. Yang namanya aktivitas tambahan tentu tidak boleh mengalahkan aktivitas utama. Kegiatan utama yang sangat kental aspek religiusitasnya tersisihkan oleh aktivitas sampingan yang masuk hitungan sunat saja tidak, dan bahkan ternyata malah menimbulkan banyak godaan bagi yang sedang puasa. Dalam bahasa Sunda, diungkapkan dalam frasa singkat: cul dogdog tinggal igel. Ini terbalik, dan tentu saja tidak boleh terjadi. Ngabuburit? Tidak ada yang melarang. Tapi, cari kegiatan ngabuburit yang tidak mengurangi kebaikan puasa kita. Bahkan akan lebih baik jika aktivitas itu justru menambah kebaikan, semangat dan - kalau bisa - pahala puasa kita. Selamat ngabuburit! (Wallahu a'lam).
(by. Irch. J. NiZel)

No comments:
Post a Comment