Puasa adalah sebuah perjalanan spiritual yang terkandung nilai-nilai moral maupun nilai-nilai rohani, dan hal ini amat ditekankan oleh al-Qur’an dan Hadits. Nabi Muhammad saw bersabda sebagai berikut : “Barangsiapa tidak menghentikan ucapan bohong dan perbuatan kotor, Allah tidak membutuhkan sama sekali akan puasanya yang ia lakukan dengan pantang makan dan minum” (HR. Bukhori). Hal ini berlaku pula bagi semua Rukun Islam. Orang yang melakukan shalat itu, tetapi tak memperhatikan jiwa shalat yang menjadi tujuan shalat itu, ia dikutuk oleh al-Qur’an dengan firnannya yang terang sebagai berikut : “Celakalah mereka yang bershalat yang tak mengingat (akan tujuan) shalat mereka” (Q.S. 107:4-5). Dalam hadits lainnya, segi ethik puasa, diuraikan dengan kata-kata sebagai berikut: “Puasa adalah perisai; maka hendaklah orang yang berpuasa jangan mengucapkan kata-kata kotor, dan jangan pula melakukan perbuatan keji (la yajhal); dan jika salah seorang mengajak bertengkar atau memaki-maki kepadanya, hendaklah ia berkata: Aku sedang puasa. Demi Tuhan Yang menguasai jiwaku! Sesungguhnya bau mulut orang yang puasa itu menurut Allah lebih harurn daripada bau minyak kasturi” (HR. Bukhori). Bukan karena pantang makan dan minum yang membuat bau-mulut orang puasa harum, tetapi yang membuat bau harum ialah karena ia menjauhkan diri dari ucapan kotor dan segala macam perbuatan keji sampai-sampai ia tak mau membalas maki-maki orang yang memaki-maki kepadanya. Jadi, orang yang berpuasa bukan saja mengalami disiplin jasmani berupa mengekang hawa-nafsu, dan menahan lapar dan dahaga, serta menahan hawa nafsu berhubungan badan, melainkan benar-benar mengalami disiplin moral berupa menjauhkan diri dari segala macam ucapan kotor dan perbuatan keji. Puasa bukan saja melatih disiplin jasmani, melainkan pula melatih disiplin moral dan disiplin rohani. Sebagaimana diuraikan seterang-terangnya dalam Hadits tersebut, puasa itu tak ada artinya dalam penglihatan Allah, jika orang yang puasa tak menjauhkan diri, bukan saja dari makan dan minum, melainkan pula dari ucapan bohong, ucapan kotor berbuat serong, atau berbuat keji. Selanjutnya, nilai disiplin moral yang terdapat dalam puasa, dipertinggi lagi dengan memberi tekanan khusus agar dalam bulan Ramadhan, orang suka berbuat baik kepada sesamanya. Sehubungan dengan ini, dalam hadits diuraikan sebuah contoh yang dilakukan oleh Nabi. “Rasulullah saw adalah orang yang paling murah-hati di antara sekalian manusia; dan beliau lebih bermurah hati lagi dalam bulan Ramadhan” (HR. Bukhori). Dalam riwayat lainnya diterangkan bahwa jika bulan Ramadhan tiba, “Nabi saw menggunakan itu untuk membebaskan semua tawanan dan memberi sedekah kepada orang minta-minta”. Bulan Ramadhan sebagai bulan untuk menaruh perhatian terhadap kaum miskin dan kaum lapar. Uraian tersebut di atas menambah jelasnya arti suatu Hadits yang berbunyi sebagai berikut : “Jika bulan Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dirantai” (HR. Bukhori). Ini berlaku bagi orang yang menjalankan puasa jasmani dan rohani. Setan-setan dirantai, karena ia dapat mengalahkan dan mengendalikan hawa nafsu, yang dengan meniupkan bisikan jahat kepada hawa nafsu, setan-setan itu menjerumuskan manusia dalam lembah kejahatan. Pintu-pintu neraka ditutup, karena, ia menjauhi segala macam kejahatan, yang ini adalah sumber neraka bagi manusia. Pintu-pintu Surga dibuka, karena ia menaikkan tingkatan rohani di atas keinginan-keinginan jasmani, dan mengabdikan diri kepada kepentingan sesama manusia. Puasa mendatangkan ampunan dan dosa barangsiapa menjalankan puasa karena iman (kepada Allah) dan karena mencari ridla-Nya, disertai dengan niat, ia akan diampuni dosanya. Tak ada ragu-ragu sedikitpun bahwa puasa seperti itu, yakni, puasa yang dilakukan karena iman kepada Allah, dan dilakukan sebagai disiplin rohani untuk mencari ridha Ilahi, disertai dengan niat yang baik, ini merupakan praktek taubat yang bernilai tinggi bertaubat sungguh-sungguh, maka dosa yang sudah-sudah akan diampuni, karena ia telah mengubah haluan hidupnya. masih ada arti lain lagi tentang dibukanya pintu Surga pada bulan Ramadhan bagi orang puasa, yaitu bahwa puasa Ramadhan tepat sekali untuk meningkatkan keroharian kita atau untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana firman Allah sebagai beriku: “Dan apabila hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, sesungguhnya Aku ini dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a tatkala ia berdo’a kepada-Ku” (Q.S. 2 : 186). Menurut ayat ini, jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dibuka dalam bulan ramadhan dan pendekatan ini harus dilakukan dengan jalan berdo’a. Itulah sebabnya mengapa Nabi saw menggunakan bulan ramadhan sebagai bulan yang khusus untuk menjalankan shalat Tahajjud. Dan beliau juga menganjurkan kepada para pengikut beliau supaya selama bulan ramadhan, bangun malam untuk menjalankan shalat Tahajjud. By. Ircham J. NiZel
Saturday, August 29, 2009
Napak Tilas Puasa
Kata “saum” makna aslinya berpantang dalam arti sebenar-benarnya (al-imsaku ‘anil-fi’li), mencakup pula berpantang makan dan bicara serta hal-hal yang membatalkan puasa. Kata ”saum” dalam arti berpantang bicara, terdapat dalam al-Qur’an sebagai berikut: “Katakanlah aku bernazar puasa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka pada hari aku tak berbicara dengan siapapun” (Q.S. 19:26). Menurut istilah syari’at Islam “saum” atau “siyam” berarti puasa, atau berpantang makan dan minum serta berhubungan intim, mulai waktu fajar hingga matahari terbenam.
Aturan Puasa dalam agama Islam. Dalam agama Islam, aturan puasa itu ditetapkan setelah aturan shalat. Kewajiban puasa itu ditetapkan di Madinah pada tahun Hijrah kedua, dan untk menjalankan ini ditetapkanlah bulan Ramadhan. Sebelum itu, Nabi Muhammad saw biasa menjalankan puasa-sunat pada tanggal 10 bulan Muharram, dan beliau menyuruh pula supaya para Sahabat berpuasa pada hari itu; menurut Siti ‘Aisyah, tanggal 10 Muharram dijadikan pula hari puasa bagi kaum Quraisy (Shahih Bukhori. 30:1). Jadi, asal mula adanya aturan puasa dalam Islam, ini terjadi sejak zaman Nabi Muhammad saw masih di Makkah. Tetapi menurut Ibnu ‘Abbas, setelah Nabi hijrah ke Madinah, beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram; dan setelah beliau diberi tahu bahwa Nabi Musa as tentu menjalankan puasa pada hari itu untuk memperingati dibebaskannya bangsa Israel dari perbudakan raja Fir’aun, beliau lalu menyatakan bahwa kaum Muslimin lebih dekat kepada Nabi Musa as dari pada kaum Yahudi, maka beliau menyuruh agar hari itu dijadikan hari puasa (Shahih Bukhori 30:69).
Bulan Ramadhan Kaum Muslimin diwajibkan puasa 29 atau 30 hari selama bulan Ramadhan. Jumlah yang pasti, bergantung kepada terlihatnya bulan, yang ini boleh jadi setelah jangka waktu 29 atau 30 hari. Puasa dimulai dari tanggal baru bulan Ramadhan dan diakhiri pada tanggal baru bulan Syawal. Nabi Muhammad bersabda sebagai berikut: “Kita adalah bangsa yang tak pandai tulis-menulis dan berhitung; satu bulan adalah sekian dan sekian sambil mengisyaratkan dengan jari beliau, yang satu, dua puluh sembilan, yang lain tiga puluh” (HR Bukhari 30:13). Hadits lain, berbunyi sebagai berikut: “Rasulullah menerangkan bulan Ramadhan, kata beliau: Janganlah kamu puasa, samapai kamu melihat permulaan tanggal, dan jangan pula kamu berbuka (mengakhiri) puasa, sampai kamu melihat permulaan tanggal (lagi); dan jika pada saat itu kebetulan berawan, maka perkirakanlah permulaan tanggal itu” (HR. Bukhori 13:2). Ada Hadits lagi yang menerangkan bahwa apabila udara berawan, maka harus dilengkapkan tiga puluh hari (HR. Bukhori 30:11). terlihatnya tanggal baru, dapat dikuatkan oleh seorang saksi, jika ia tergolong orang yang dapat dipercaya. Diriwayatkan bahwa pada satu ketika, penduduk Madinah ragu-ragu tentang terlihatnya tanggal baru bulan Ramadhan, dan mereka mengambil keputusan tidak berpuasa, tiba-tiba datanglah seorang penduduk padang-pasir, dan ia berdiri saksi bahwa ia melihat tanggal baru. Nabi dapat menerima kesaksian dia, dan menyuruh para sahabat supaya puasa.
Terpilihnya bulan Ramadhan
Ayat al-Qur’an yang memerintahkan puasa dalam bulan Ramadhan adalah sebagai berikut: “Bulan ramadhan ialah yang dalam bulan itu diturunkan al-Qur’an, sebagai pimpinan bagi manusia, dan tanda bukti yang terang tentang pimpinan dan pemisah. Maka barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, hendaklah ia menjalankan puasa” (Q.S. 2:185). Dari uraian ayat ini terang sekali bahwa terpilihnya bulan Ramadhan sebagai bulan yang khusus untuk puasa bukanlah tanpa sebab. Pilihan itu disebabkan karena al-Qur’an diturunkan dalan bulan itu. Semua orang tahu bahwa al-Qur’an diturunkan sepotong-potong dalam jangka waktu dua puluh tiga tahun, namun dalam ayat itu dikatakan bahwa al-Qur’an diturunkan dalam bulan Ramadhan; maksudnya, ialah bahwa wahyu pertama al-Qur’an di turunkan dalam bulan itu, dan ini dibenarkan oleh sejarah. Bulan Ramadhan itulah mula pertama diturunkan Nur Ilahi dalam bathin Nabi Muhammad saw, dan pada saat itu datanglah malaikat Jibril dengan risalah agung Ilahi. Jadi, bulan yang menyaksikan pengalaman yang luar biasa dari Nabi saw, dianggap sebagai bulan yang tepat untuk melatih disiplin rohani bagi kaum Muslimi, yang ini harus dijalankan melalui puasa. Ada alasan lagi mengapa dipilihnya bulan qamariyah (lunar-mon). Untung dan ruginya suatu musim ini dirasakan oleh seluruh dunia. Bulan syamsiyah (solar month) menguntungkan sebagian dunia dengan memberinya hari yang pendek dan udara yang dingin, tetapi memberatkan belahan bumi yang lain dengan beban hari yang panjang dan udara yang panas. Bulan qamariyah lebih serasi dengan ajaran Islam yang bersifat universil, dan segala bangsa mempunyai pembagian untung-rugi yang sama. Sebaliknya, jika waktu puasa tak ditentukan dengan jelas niscaya hilanglah nilai-nilai disiplin. Justru karena terpilihnya bulan yang khusus, maka pada saat tibanya bulan itu, kaum Muslimin seluruh dunia dari ujung sini sampai ujung sana, seakan-akan digerakkan secara serempak oleh suatu getaran. Getaran yang timbul karena tibanya bulan Ramadhan, adalah gerakan yang paling besar di seluruh muka-bumi. Pada waktu mereka melihat bulan sabit yang pertama pada bulan Ramadhan yang hanya nampak sangat kecil diufuk sebelah barat, seketika itu seluruh umat Islam di Barat dan di Timur, yang kaya, yang miskin, yang tinggi, yang rendah, majikan dan pelayan, penguasa dan rakyat, yang putih, yang hitam, semuanya merubah cara hidup mereka. Tidak ada contoh gerakan massa lainnya di seluruh muka bumi yang seperti gerakan massa umat Islam pada bulan Ramadhan ; dan ini disebabkan karena ditetapkannya satu bulan yang khusus. (Wallahu a'lam) By. Ircham J. NiZelTuesday, August 25, 2009
Bermunajatlah
BANGUNLAH UNTUK BERMUNAJAT
Tidur memang perlu. Tetapi di dalarn tidur ada perjuangan lain; perjuangan untuk bangun. Alangkah indahnya tuntunan Islam. Dalam setiap ajarannya, selalu ada manfaat yang berlipat-lipat, seperti halnya ajaran dalam tidur. Tidak saja di dalamnya ada ajaran tentang keseimbangan tubuh, tapi juga tuntunan lain yang sangat banyak. Di antara tuntunan itu adalah ajaran untuk bangun dan tidur di malam hari. Rasulullah saw bersabda “Hendaklah kamu bangun malam karena itu adalah kebiasaan amalan orang-orang yang shalih sebalum kamu. Sesungguhnya bangun malam itu mendekatkan diri kepada Allah, menutup segala dosa, menghilangkan penyakit dari tubuh dan menjauhi kekejian.” (HR. Tarmidzi).
Pada sepertiga malam terakhir, justru saat-saat paling istimewa bagi siapa saja yang ingin bermunajat kepada Allah. Saat itu Allah turun ke langit bumi dan memberi kesempatan kepada hamba-hamba-Nya untuk bermunajat, meminta dan memohon segala macam kebaikan. “Adakah yang berdo’a kepada-Ku, biar Aku perkenankan? Adakah yang meminta kepada-Ku, biar Aku berikan? Adakah yang memohon ampun kepada-Ku, biar Aku ampuni?” begitu firman Allah dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhan.
Tanpa mengatakan bahwa tujuan shalat malam adalah demi kesehatan, ternyata dampak shalat malam bagi ketahanan tubuh memang ada. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Mohammad Sholeh dosen Fakultas Tarbiyah lAIN Sunan Ampel Surabaya, dalam melakukan penelitian terhadap para siswa SMU Lukmanul Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya yang secara rutin memang menunaikan shalat tahajjud. Salah satu kesimpulannya, shalat tahajjud yang dilakukan dipenghujung malam yang sunyi, dapat mendatangkan ketenangan. Sementara ketenangan itu sendiri terbukti mampu meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi resiko terkena penyakit jantung dan meningkatkan usia harapan hidup.
Malam hari, adalah saat-saat yang dinantikan hamba-hamba yang shalih. Mereka tidak bisa membayangkan apa jadinya bila hari tanpa malam. Dalam riwayat lain, Rasulullah mengabarkan “Sesungguhnya pada waktu malam ada waktu tertentu, yang tidak seorang pun memohon kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat tepat pada waktu itu, kecuali pasti akan diberikan. Dan, itu berlaku untuk setiap malam”. (HR Muslim).
Kelak, orang-orang yang masuk surga akan bernostalgia tentang masa lalunya. Kala dahulu di dunia mereka selalu bangun shalat malam dan bermunajat kepada Allah swt. “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa ada di dalam surga dan dekat dengan air yang mengalir, sambil mengambil apa yang diberi oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum ini di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.” (QS. Adz-Dzanat: 15-18).
Kerenanya, bagi seorang mukmin, “tidur” sekali lagi hanya seperlunya. Terlebih Rasulullah saw. Imam lbnu Qayyim pernah berkata, “Siapa yang meneliti cara tidur dan jaga Rasulullah saw akan mendapati bahwa tidur Rasulullah adalah yang paling seimbang dan paling bermanfaat untuk badan dan untuk memberi kekuatan. Rasulullah tidak pernah tidur lebih dari kadar yang diperlukan, tetapi tidak pernah pula mencegah dirinya dari kadar keperluannya.
Ketika suatu hari Umar bin Khatab menangis, karena melihat Rasulullah saw tidur di atas selembar tikar yang sudah usang, sehingga tubuh beliau berbekas garis-garisnya, Rasulullah bertanya, “Mengapa engkau menangis?’ Umar berkata, “Bagaimana Kisra (Maharaja Parsi) dan kaisar (Maharaja Romawi) sama tidur di atas sutera tebal dan tipis, sedang engkau sebagai Rasulullah sampai membekas dilambung engkau hamparan tikar? Mendengar itu Rasulullah saw menghiburnya. Wahai Umar, Tidakkah engkau rela jika dunia ini mereka miliki sedang kita akan memiliki akhirat?. Tradisi bermunajat kepada Allah itu tidak akan pernah hilang sampai kapan pun. Banyak kisah orang-orang shalih dalam soal bangun malam ini, bahkan yang dekat dengan zaman kita saat ini. Satu di antaranya adalah apa yang dikisahkan Syaikh Umar Tilmisani, murid pejuang besar asal Mesir, Hasan al-Banna, sekaligus Mursyid (Ketua Umum) Jama’ah lkhwanul Muslimin. ”Pada waktu itu kami sedang melakukan acara Raker di luar kota . Selesai acara rapat waktu itu kira-kira pukul 12 malam. Kami semua sangat lelah dikarenakan antusias dan kesungguhan kami didalam acara rapat kerja tersebut. Kebetulan kami mendapat kamar yang sama dengan Imam Hasan Al-Banna. Saya sudah sangat penat sekali, dan ingin langsung istirahat tidur, agar besok tidak terlambat waktu shalat shubuh. Kami berbaring di tempat tidur masing-masing, kisah Umar Tilmisani.
Ia menambahkan, “Tidak beberapa Iama Imam Hasan Al-Banna memanggil saya, Umar, sudah tidur? Saya jawab, “labbaika, belum Mursyid.’ Beliau tidak berkata apa-apa lagi. Tak beberapa lama kemudian, beliau bertanya lagi hal yang sama, Umar, kamu sudah tidur? Saya jawab, “Labbaika, belum Mursyik dalam hati saya bertanya-tanya mengapa beliau melakukan hal ini?, lama beliau terdiam, tiba-tiba beliau memanggil lagi Karena sudah sangat penat, akhirnya saya tidak menjawab, biar sangka sudah tidur lelap. Tiba-tiba beliau bangun pelan-pelan sekali, berjalan sambil menenteng teropahnya ke kamar mandi. Di sana saya mendengar ia dengan sangat hati-hati berwudhu, agar percikan airya tidak membangunkan saya. Kemudian beliau mengambil tempat disudut kamar, menghadap kiblat, dan shalat malam (qiyamul lail) beberapa rakaat.
Maka, berjuanglah untuk bisa tidur dengan tenang. tetapi jangan lupa, berjuang pulalah untuk bangun. Akan selalu ada orang-orang shalih, dahulu, kini dan sampai akhir zaman nanti yang akan tetap konsisten melakukan munajat malam. Maka, tak ada yang lebih membahagiakan melebihi mereka yang bisa menjadi bagian dari orang-orang shalih itu. By. Ircham J. NiZel
Tuesday, August 18, 2009
ESKALASI PUASA
RAMADHAN SEBAGAI ESKALASI PUASA BADANI MEN UJU
PUASA NAFSANI
Ibadah puasa yang sedang kita jalani saat ini sebagai salah satu rukun Islam, yang bertujuan agar kita menjadi bertaqwa kepada Allah. Sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Baqarah:
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”(Q.S 1:183)
Puasa adalah menahan diri dari makan dan minum serta perbuatan-perbuatan lain yang bersifat badani (fisik), sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Tetapi yang diharapkan tidak hanya menahan diri secara fisik melainkan juga secara mental (kejiwaan).
Banyak ditegaskan dalam beberapa hadist, termasuk hadist mutawatir, tentang dorongan upaya mendisiplinkan diri sehingga mampu meningkatkan kualitas puasa, dan sekedar puasa badani menjadi puasa nafsani, yang dilanjutkan menjadi puasa yang dapat mencapai nilai-nilai spiritual.
Apabila kita telah berniat puasa, kemudian menderita lapar dan haus, namun tidak mencuri untuk makan dan minum, meskipun kita sendirian, maka disitu kita mulai melihat adanya permulaan taqwa. Yaitu kita tidak mencuri makan dan minum karena kits tahu bahwa Allah melihat kita. Karena itu, puasa mempunyai efek pendidikan kejujuran. Jujur kepada Allah, kemudian jujur kepada diri sendiri, dan diharapkan jujur kepada sesama manusia. Dengan demikian puasa merupakan ibadah yang sangat ruhani, dan sangat spiritual.
Allah menyediakan waktu satu bulan dalam setahun, tidak hanya sebagai bulan suci tetapi juga sebagi bulan pensucian diri. Pada bulan itu kita berusaha membersihkan diri sendiri dengan harapan kalau kita menjadi bersih, maka pada satu syawal nanti kita kembali ke surga (paradiso) seperti yang diucapkan dalam Idul Fitri minal ‘aidin, artinya bahwa kita betul-betul termasuk mereka yang kembali ke paradiso atau kefitrahnya. Dan wall-faizin artinya sukses puasanya. Seperti yang sering diingatkan:
Aruinya: “banyak sekali orang puasa namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa haus dan lapar” (HR. Ahmad)
ini berbeda dengan sedekah yang bersifat sosial, sehingga ada indikasi dalam Al-Qur’an, seolah-olah Allah tidak peduli apa yang kita sedekahkan itu ikhlas atau tidak. Yang penting kita keluarkan sedekah itu. Allah berfirman:
Artinya: “Jika kamu menampakkan sedekahmu,, maka baik-baik saja. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. 1:271)
Yang penting dalam hal ini manusia berbuat sedekah dengan penuh keikhlasan, karena sedekah merupakan perbuatan yang berkualitas, dengan sedekah orang miskin tertolong. maka keikhlassn dalam bersedekah kita akan mendapatkan dua hal yang penting. Pertama, bila kita melakuakannya dengan ikhlas maka ridho Allah akan kita dapatkan. Kedua, sedekah menolong orang miskin yang nantinya akan berefek pada perbaikan kepada masyarakat. Jadi sedekah adalah ibadah yang sangat sosial, dimensinya sangat horizontal (hablum minal an-nas).
Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk melaksanakan berbagai bentuk kegiatan ibadah baik secara horizontal maupun vertikal. Maka dengan adanya Ramadhan diharapkan menjadi barometer untuk menuju pembangunan sumber daya insani yang berdedikasi tinggi dan berkualitas, hal ini akan terwujud apabia dapat di bina dan didayagunakan dengan baik, sehingga akan menjadi modal dasar yang efektif untuk mencapai tujuan pembangunan tersebut. (Wallahu a’lam) By. Ircham J. NiZel
Saturday, August 15, 2009
Sejarah Puasa orang2 terdahulu
Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang dilaksanakan oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Allah swt. telah mewajibkannya kepada kaum yang beriman, sebagaimana telah diwajibkan atas kaum sebelum Muhammad saw. Puasa merupakan amal ibadah klasik yang telah diwajibkan atas setiap umat-umat terdahulu.Ada empat bentuk puasa yang telah dilakukan oleh umat terdahulu, yaitu:Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang dilaksanakan oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Allah swt. telah mewajibkannya kepada kaum yang beriman, sebagaimana telah diwajibkan atas kaum sebelum Muhammad saw. Puasa merupakan amal ibadah klasik yang telah diwajibkan atas setiap umat-umat terdahulu.. Ada empat bentuk puasa yang telah dilakukan oleh umat terdahulu, yaitu: Puasanya orang-orang sufi, yakni praktek puasa setiap hari dengan maksud menambah pahala. Misalnya puasanya para pendeta Puasa bicara, yakni praktek puasa kaum Yahudi. Sebagaimana yang telah dikisahkan Allah dalam Al-Qur’an, surat Maryam ayat 26 :“Jika kamu (Maryam) melihat seorang manusia, maka katakanlah, sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk tuhan yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini” (Q.S. Maryam :26). Puasa dari seluruh atau sebagian perbuatan (bertapa), seperti puasa yang dilakukan oleh pemeluk agama Budha dan sebagian Yahudi. Dan puasa-puasa kaum-kaum lainnya yang mempunyai cara dan kriteria yang telah ditentukan oleh masing-masing kaum tersebut. Sedang kewajiban puasa dalam Islam, orang akan tahu bahwa ia mempunyai aturan yang tengah-tengah yang berbeda dari puasa kaum sebelumnya baik dalam tata cara dan waktu pelaksanaan. Tidak terlalu ketat sehingga memberatkan kaum muslimin, juga tidak terlalu longgar sehingga mengabaikan aspek kejiwaan. Hal mana telah menunjukkan keluwesan Islam. HIKMAH PUASA Diwajibkannya puasa atas ummat Islam mempunyai hikmah yang dalam. Yakni merealisasikan ketakwaan kepada Allan swt. Sebagaimana yang terkandung dalam surat al-Baqarah ayat 183:“Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kalain bertakwa.” Kadar takwa tersebut terefleksi dalam tingkah laku, yakni melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Al-Baqarah ayat 185 :“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan tersebut, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. Ayat ini menjelaskan alasan yang melatarbelakangi mengapa puasa diwajibkan di bulan Ramadhan, tidak di bulan yang lain. Allah mengisyaratkan hikmah puasa bulan Ramadhan, yaitu karena Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan yang diistimewakan Allah dengan dengan menurunkan kenikmatan terbesar di dalamnya, yaitu al-Qur’an al-Karim yang akan menunjukan manusia ke jalan yang lurus. Ramadhan juga merupakan pengobat hati, rahmah bagi orang-orang yang beriman, dan sebagai pembersih hati serta penenang jiwa-raga. Inilah nikmat terbesar dan teragung. Maka wajib bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk bersyukur kepada Sang Pemberi Nikmat tiap pagi dan sore. Bila puasa telah diwajibkan kepada umat terdahulu, maka adakah puasa yang diwajibkan atas umat Islam sebelum Ramadhan? Jumhur ulama dan sebagian pengikut Imam Syafi’i berpendapat bahwa tidak ada puasa yang pernah diwajibkan atas umat Islam sebelum bulan Ramadhan. Pendapat ini dilandaskan pada hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah :“Hari ini adalah hari Asyura’, dan Allah tidak mewajibkannya atas kalian. Siapa yang mau silahkan berpuasa, yang tidak juga boleh meninggalkannya.” Sedangkan madzhab Hanafi mempunyai pendapat lain: bahwa puasa yang diwajibkan pertamakali atas umat Islam adalah puasa Asyura’. Setelah datang Ramadhan Asyura’ dirombak (mansukh). Madzhab ini mengambil dalil hadisnya Ibn Umar dan Aisyah ra.: diriwayatkan dari Ibn ‘Amr ra. bahwa Nabi saw. telah berpuasa hari Asyura’ dan memerintahkannya (kepada umatnya) untuk berpuasa pada hari itu. Dan ketika datang Ramadhan maka lantas puasa Asyura’ beliau tinggalkan, Abdullah (Ibnu ‘Amr) juga tidak berpuasa”. (H.R. Bukhari). “Diriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa orang-orang Quraisy biasa melakukan puasa Asyura’ pada masa jahiliyah. Kemudian Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa hari Asyura’ sampai diwajibkannya puasa Ramadhan. Dan Rasul berkata, barang siapa ingin berpuasa Asyura’ silahkan berpuasa, jika tidak juga tak apa-apa”. (H.R. Bukhari dan Muslim). Pada masa-masa sebelumnya, Rasulullah biasa melakukan puasa Asyura’ sejak sebelum hijrah dan terus berlanjut sampai usai hijrah. Ketika hijrah ke Madinah beliau mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa (Asyura’), beliau pun ikut berpuasa seperti mereka dan manyerukan ke ummatnya untuk melakukan puasa itu. Hal ini sesuai dengan wahyu secara mutawattir (berkesinambungan) dan ijtihad yang tidak hanya berdasar hadis Ahaad (hadis yang diriwayatkan oleh tidak lebih dari satu orang). ”Ibn Abbas ra. meriwayatkan: ketika Nabi saw. sampai di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi sedang melakukan puasa Asyura’, lalu beliau bertanya: (puasa) apa ini? Mereka menjawab: ini adalah hari Nabi Saleh as., hari di mana Allah swt. memenangkan Bani Israel atas musuh-musuhnya, maka lantas Musa as. melakukan puasa pada hari itu. Lalu Nabi saw. berkata: aku lebih berhak atas Musa dari kalian. Lantas beliau melaksanakan puasa tersebut dan memerintahkan (kepada sahabat-sahabatnya) berpuasa. (HR. Bukhari). Puasa Ramadhan diwajibkan pada bulan Sya’ban tahun kedua hijriyah, maka lantas, sebagaimana madzhab Abi Hanifah, kewajiban puasa Asyura terombak (mansukh). Sedang menurut madzhab lainnya, kewajiban puasa Ramadhan itu hanya merombak kesunatan puasa Asyura’. Kewajiban puasa Ramadhan berlandaskan Al-qur’an, Sunnah, dan Ijma.“Diriwayatkan dari Abdullah Ibn Umar, bahwasanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda: Islam berdiri atas lima pilar: kesaksian tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, mengeluarkan zakat, haji ke Baitullah (Makkah) dan berpuasa di bulan Ramadhan.” Kata ‘al-haj’ (haji) didahulukan sebelum kata ‘al-shaum’ (puasa), itu menunjukkan pelaksanakaan haji lebih banyak menuntut pengorbanan waktu dan harta. Sedang dalam riwayat lain, kata ‘al-shaum’ didahulukan, karena kewajiban puasa lebih merata (bisa dilaksanakan oleh mayoritas umat Islam) dari pada haji. Kewajiban puasa Ramadhan sangat terang. Barang siapa yang mengingkari atau mengabaikan keberadaannya dia termasuk orang kafir, kecuali mereka yang hidup pada zaman Islam masih baru atau orang yang hidup jauh dari ulama. DEFINISI PUASA Secara etimologi, puasa berarti menahan, baik menahan makan, minum, bicara dan perbuatan. Seperti yang ditunjukkan firman Allah, surat Maryam ayat 26 :“Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa demi Tuhan yang Maha Pemurah, bahwasanya aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (Q.S. Maryam : 26) Sedangkan secara terminologi, puasa adalah menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa dengan disertai niat berpuasa. Sebagian ulama mendefinisikan, puasa adalah menahan nafsu dua anggota badan, perut dan alat kelamin sehari penuh, sejak terbitnya fajar kedua sampai terbenarnnya matahari dengan memakai niat tertentu. Puasa Ramadhan wajib dilakukan, adakalanya karena telah melihat hitungan Sya’ban telah sempurna 30 hari penuh atau dengan melihat bulan pada malam tanggal 30 Sya’ban. Sesuai dengan hadits Nabi saw. “Berpuasalah dengan karena kamu telah melihat bulan (ru’yat), dan berbukalah dengan berdasar ru’yat pula. Jika bulan tertutup mendung, maka genapkanlah Sya’ban menjadi 30 hari.”*** Wallahu a’lam By. Ircham J. NiZel
Monday, August 03, 2009
Menggugah Kecerdasan Bangsa
Mereka yang Menggugah Kecerdasan Bangsa Tak disangkal lagi, pendidikan yang dulu berfungsi membangkitkan kesadaran kaum terjajah, kini menjadi tonggak penting kemajuan bangsa. Nama-nama seperti Ki Hajar Dewantara, K.H. Ahmad Dahlan hingga K.H. Hasyim Asyari adalah pionir yang membangun masyarakat Indonesia bangkit dari keterpurukan. Semangat membangun negeri lepas dari kungkungan penjajahan menggunakan konsep pendidikan dimulai di awal abad 20. Tonggak itu dimulai dengan pendirian Taman Siswa di Yogyakarta oleh Ki Hajar Dewantara, tanggal 3 Juli 1922. Lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, Ki Hajar Dewantara memang dibesarkan lingkungan keraton Yogya. Sebagai golongan ningrat, Ki Hajar Dewantara saat itu berhak mengenyam pendidikan. Setelah tamat ELS (Sekolah Dasar Belanda), ia meneruskan pelajarannya ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera). Lantaran sakit, ia tidak bisa meneruskan pendidikannya di STOVIA. Seperti banyak pahlawan nasional lainnya, Ki Hajar Dewantara pun pernah mengalami pengasingan. Ia diasingkan ke negeri Belanda sampai tahun 1918. Sekembalinya dari sana, bersama rekan-rekan seperjuangannya, Ki Hajar mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa atau lebih dikenal dengan Perguruan Nasional Taman Siswa. Taman Siswa merupakan sebuah perguruan yang bercorak nasionalisme, menekankan rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Manusia merdeka adalah tujuan pendidikan Taman Siswa. Merdeka secara fisik, mental dan kerohanian. Namun, kemerdekaan pribadi ini dibatasi oleh ketertiban kehidupan bersama. Maksud dari didirikannya Taman Siswa sendiri adalah membangun budayanya sendiri, jalan hidup sendiri dengan mengembangkan rasa merdeka dalam hati setiap orang melalui media pendidikan yang berlandaskan aspek-aspek nasional. Sumbangsih paling terkenal dari Ki Hajar tentunya adalah semboyannya. Siapa tak kenal semboyan tut wuri handayani (yang di belakang harus memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (yang di tengah harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (yang di depan harus memberi teladan). Semboyan inilah yang dipakai oleh pendidikan kita hingga sekarang. Pendidikan Islam juga menyumbang peranan penting dalam konteks pendidikan nasional. Dimulai dari pondok pesantren hingga sekolah-sekolah madrasah, pendidikan Islam merupakan sistem pendidikan yang berasal dari akar terbawah masyarakat Indonesia. Tentu saja, jika menilik pendidikan Islam, kita tak bisa berpaling dari kontribusi yang K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’ari. Kyai Haji Ahmad Dahlan yang lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868, merupakan putra keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu. Sosok pahlawan nasional Indonesia ini mempunyai nama kecil Muhammad Darwisy. Sejak usia 15 tahun ia sudah pergi haji dan tinggal di Mekkah selama lima tahun. K.H. Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, beliau berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. “Ahmad Dahlan, sangat jelas kontribusinya,” ucap Zainal Abidin, salah satu pengurus pusat Pimpinan Pusat Muhammadiyah. K.H. Ahmad Dahlan merasa perlu memajukan umat Islam dari segi pendidikan dengan sekolah yang lebih maju dibanding yang selama ini bersifat tradisional. Kepeduliaannya pada kondisi rakyat Indonesia, memang tak langsung ia curahkan kepada pembenahan pendidikan anak negeri. Yang didirikan pertama kali waktu itu adalah Majelis Penolong Kesengsaraan Umum (sejenis Departemen Sosial sekarang –red). “Ia terinspirasi dari Surat Al Ma’un,” jelas Zainal. Tentu, kontribusinya yang kentara adalah mendirikan Muhammadiyah. Muhammadiyah didirikan pada 18 November 1912, di Kampung Kauman, Yogyakarta, untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam di bumi Nusantara. la ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk hidup menurut tuntunan Al-Qur'an dan Al-Hadits. Sejak awal pendiriannya, K.H. Ahmad Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukanlah organisasi politik, tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan. James L Peacock, antropolog Amerika dari Harvard University yang menulis buku Pembaharu dan Pembaharuan Agama, mencatat peran Muhammadiyah sebagai organisasi kesejahteraan dan pendidikan swasta yang paling menonjol di Indonesia. K.H. Ahmad Dahlan pun memprakarsai terbentuknya penampungan fakir miskin, panti asuhan yatim piatu, dan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah di Yogyakarta. Langkah ini merupakan terobosan luar biasa dan yang pertama dilakukan oleh pergerakan Islam di Indonesia. Gagasan K.H. Ahmad Dahlan yang terpenting adalah memasukkan pendidikan Agama Islam ke dalam sekolah yang dikelola oleh pemerintah. Ia sendiri pernah menjadi pengajar agama Islam di Kweekschool Jetis-Yogyakarta sekitar tahun 1910. Walaupun masih bersifat ekstra kurikuler, namun peristiwa tersebut menandai pertama kalinya agama Islam diajarkan di sekolah. Sementara itu, perjuangan K.H. Hasyim Asy’ari sedikit berbeda dari metode ke-Islam-annya. Bisa dibilang, K.H. Hasyim Asy’ari adalah ulama yang bersifat kontekstual pada masanya. Meski dalam sejarahnya ia mengenal dengan baik Wahabiyyah dan aliran Salafiyyah yang diajarkan Ibn Taimiyyah dengan murid-muridnya, namun K.H. Hasyim Asy'ari urung mengajarkannya. Sebab, sesuai sejarah saat itu, bahwa pembaharuan yang didasarkan pada pemikiran Muhammad Abdul Wahab dan gerakan salafi yang pada ajaran Ibn Taimiyyah telah menimbulkan perselisihan antara umat Islam di Indonesia. Pijakan penting dalam dunia Islam nusantara terjadi pada tahun 1926. Saat itu, Kyai Hasyim Asyari mendirikan organisasi Islam Nadhlatul Ulama (NU), yang berarti kemenangan ulama. Organisasi ini merupakan salah satu organisasi Islam terbesar Indonesia, selain Muhammadiyah tentunya. “KH Hasyim merupakan figur yang cerdas dan tegas,” kenang Solahuddin Wahid, pengasuh pondok pesantren Tebuireng, Jombang. “Berdakwah merupakan salah satu tujuan hidupnya,” tegas Solahuddin. Hal ini dibuktikan ketika K.H. Hasyim Asy’ari pulang dari Mekkah dengan mendirikan pesantren Tebuireng di Jombang, tahun 1899. Pada waktu itu, Tebuireng merupakan sebuah desa yang penuh dengan rumah pelacuran dan tempat minum-minum keras. Ia mempunyai tujuan menjadikan pesantren sebagai agen perubahan sosial. K.H. Hasyim Asy'ari menganggap pesantren lebih dari sekedar tempat pendidikan atau lembaga moral dan religius. Fungsinya bisa juga sebagai sarana untuk membuat perubahan mendasar dalam masyarakat secara luas. Kelak ponpes ini menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. Dalam berdakwah K.H. Hasyim Asy'ari sangat memperhitungkan keadaan sosial dan masyarakat pada saat itu. Ia berdakwah sesuai dengan kebutuhan dan keperluan masyarakat sambil tetap mempertimbangkan aspek tradisi keagamaan. Misalnya, penekanan materi dalam berdakwah adalah masalah ukhuwah dan ahl sunnah wa al-jama`ah di samping beberapa hal lainnya. K.H. Hasyim Asy'ari mencoba mempertahankan ahl sunnah wa al-jamaah (aswaja) sebagai ide utama dalam berdakwah, dengan pertimbangan karena aswaja adalah bagian dari kehidupan yang sudah ada sejak munculnya Islam di Indonesia. Wallau a’lam(by. Irch. J. NiZel)
REZEKI Kuasa Allah
REZEKI ULAT DI DASAR LAUT “Jangan berputus asa pada rezeki Allah”, itulah pesan Ustadz Imam Ahmad. Pesan imam ini bukan tanpa bukti. Diceritakan tentang kisah Rasulullah mengenai seekor ulat yan hidup di dasar laut atas rezeki Allah. Saat itu Rasulullah sedang mengadakan walimatul ursy dengan seorang wanita sebagai isterinya. Ketika para sahabat yang diundang menyaksikan makanan yang dijamukan Rasulullah, mereka memperbincangkan dari mana Rasulullah akan menghidupi istri-istrinya. Jamuan walimahnya saja semacam itu. Usai shalat, Rasulullah lalu menceritakan tentang rezeki kepada para sahabat yang diundang itu. “ini kisah yang disampaikan oleh Malaikat Jibril, boleh aku bercerita?”, tanya Nabi. Lalu berceritalah Nabi tentang Nabi Su1aiman yang sedang shalat ditepi pantai. Sulaiman melihat seekor semut berjalan di atas air sambil membawa daun hijau seraya memanggil katak. Maka muncullah katak lalu menggendong semut menuju dasar laut. Apa yang terjadi di dasar laut? Semut menceritakan bahwa di dasar laut itu berdiam seekor ulat yang soal rezekinya di pasrahkan kepada semut itu. “Sehari dua kali aku diantar Malaikat ke dasar laut memberl makanan kepada ulat”, kata semut. “siapa Malaikat itu?”, tanya Sulaimah. Ya yang menjelma menjadi katak itu,” jawabnya. setiap usai menerima kirirnan daun hijau dan memakannya, si ulat mcngucapkan syukur kepada Allah. “Maha besar Allah yang mentakdirkan aku hidup didalan laut,” kata ulat. di akhir ceritanya, Rasulullah lalu berkata, “Jika ulat yang tinggal didasar laut saja Allah masih tetap memberinya makan, apakah Allah tega menterlantarkan ummat Muhammad soal rezeki dan rahmat-Nya?, tandas Rasulullah. By. Ircham J. NiZel
Subscribe to:
Comments (Atom)






