Hari Raya ‘Idul Fitri seluruh umat Islam di dunia ini akan segera merayakan hari yang biasa dianggap ‘kemenangan’ tersebut. Perayaan rutin setiap tahun ini menjadi momen sangat penting setelah berpuasa selama sebulan pada bulan Ramadhan. Seluruh umat Islam merayakannya dengan suka dan cita, tak berbeda yang rajin puasa maupun yang hanya alakadarnya.
Sebagaimana sudah maklum, selain Hari Raya ‘Idul Fitri, umat Islam juga punya Hari Raya ‘Idul Adha pada 10 Dzulhijjah. Dalam literatur-literatur Islam klasik, hari raya ini disebut ‘idulAkbar (hari raya besar), sementara ‘idul fitri hanya disebut sebagai ‘idulAshgar (hari raya kecil).. Sebagaimana hari-hari besar lain, ‘idul fitri tentu memiliki makna umum sebagai hari libur nasional sekaligus makna khusus yang dirasakan umat Islam. Paling tidak, ‘idul fitri dianggap sebagai hari kemenangan mengalahkan hawa nafsu dengan berpuasa sebulan penuh.
Erat kaitannya dengan Hari Raya ‘idul fitri adalah zakat fitrah yang wajib dikeluarkan setiap individu Muslim. Kalimat kedua dari dua terma ini (‘idul fitri dan zakat fitrah) adalah kalimat yang berasal dari bahasa Arab fithrah yang berarti natural atau dalam bahasa Indonesianya biasa diterjemahkan sebagai segala sesuatu yang suci, bersifat asal, atau pembawaan (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 1997)..
Sisi etimologis ‘Idul fitri terdiri dari dua kata. Pertama, kata ‘id yang dalam bahasa Arab bermakna `kembali’, dari asal kata ‘ada. Ini menunjukkan bahwa Hari Raya ‘idul fitri ini selalu berulang dan kembali datang setiap tahun. Ada juga yang mengatakan diambil dari kata ‘adah yang berarti kebiasaan, yang bermakna bahwa umat Islam sudah biasa pada tanggal 1 Syawal selalu merayakannya (Ibnu Mandlur, Lisaanul Arab).
Dalam Alquran diceritakan, ketika para pengikut Nabi Isa tersesat, mereka pernah berniat mengadakan ‘id (hari raya atau pesta) dan meminta kepada Nabi Isa agar Allah SWT menurunkan hidangan mewah dari langit (lihat QS Al Maidah 112-114). Mungkin sejak masa itulah budaya hari raya sangat identik dengan makan-makan dan minum-minum yang serba mewah. Dan ternyata Allah SWT pun mengkabulkan permintaan mereka lalu menurunkan makanan.(QS Al-Maidah: 115).
Jadi, tidak salah dalam pesta Hari Raya ‘idul fitri masa sekarang juga dirayakan dengan menghidangkan makanan dan minuman mewah yang lain dari hari-hari biasa. Dalam hari raya tak ada larangan menyediakan makanan, minuman, dan pakaian baru selama tidak berlebihan dan tidak melanggar larangan. Apalagi bila disediakan untuk yang membutuhkan.
Abdur Rahman Al Midani dalam bukunya Ash-Shiyam Wa Ramadhân Fil Kitab Was Sunnah (Damaskus), menjelaskan beberapa etika merayakan ‘idul fitri. Di antaranya di situ tertulis bahwa untuk merayakan ‘idul fitri umat Islam perlu makan secukupnya sebelum berangka ke tempat shalat Id, memakai pakaian yang paling bagus, saling mengucapkan selamat dan doa semoga Allah SWT menerima puasanya, dan memperbanyak bacaan takbir. Kata yang kedua adalah Fitri. Fitri atau fitrah dalam bahasa Arab berasal dari kata fathara yang berarti membedah atau membelah, bila dihubungkan dengan puasa maka ia mengandung makna `berbuka puasa’
(Ifthaar). Kembali kepada fitrah ada kalanya ditafsirkan kembali kepada keadaan normal, kehidupan manusia yang memenuhi kehidupan jasmani dan ruhaninya secara seimbang. Sementara kata fithrah sendiri bermakna `yang mula-mula diciptakan Allah SWT` (Dawam Raharjo, Ensiklopedi Alquran: hlm 40, 2002). Berkaitan dengan fitrah manusia, Allah SWT berfirman dalam Alquran: “Dan ketika Tuhanmu mengeluarkan anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu?.
Mereka menjawab:”Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (QS. Al A`râf: 172).” Ayat ini menjelaskan bahwa seluruh manusia pada firtahnya mempunya ikatan primordial yang berupa pengakuan terhadap ketuhanan Allah SWT. Dalam hadis, Rasulallah SAW juga mempertegas dengan sabdanya: “Setiap anak Adam dilahirkan dalam keadaan fitrah: kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi (HR. Bukhari).” Hadits ini memperjelas kesaksian atau pengakuan seluruh manusia yang disebutkan Alquran di atas.
Sisi terminologi Kendati dalam literatur-literatur Islam klasik, ‘idul fitri disebut sebagai ‘idulAshgar (hari raya yang kecil) sementara ‘idulAdhha adalah ‘idulAkbar (hari raya yang besar), umat Islam di Tanah Air selalu terlihat lebih semarak merayakan ‘idul fitri dibandingkan hari-hari besar lainnya, bahkan hari raya ‘idulAdha sekalipun. Momen ‘idul fitri dirayakan dengan aneka ragam acara, dimulai dengan shalat Id berjamaah di lapangan terbuka hingga halal bi halal antarkeluarga yang kadang memanjang hingga akhir bulan Syawal.
Dalam terminologi Islam, ‘idul fitri secara sederhana adalah hari raya yang datang berulang kali setiap tanggal 1 Syawal yang menandai puasa telah selesai dan kembali diperbolehkan makan minum di siang hari. Artinya, kata fitri disitu diartikan `berbuka atau berhenti puasa` yang identik dengan makan-makan dan minum-minum. Maka tidak salah apabila ‘idul fitri pun disambut dengan pesta makan-makan dan minum-minum mewah yang tak jarang terkesan diada-adakan oleh sebagian keluarga.
Terminologi ‘idul fitri seperti ini harus dijauhi dan dibenahi, sebab selain kurang mengekspresikan makna ‘idul fitri sendiri, juga terdapat makna yang lebih mendalam lagi. ‘idul fitri seharusnya dimaknai sebagai `kepulangan seseorang kepada fitrah asalnya yang suci` sebagaimana ia baru saja dilahirkan dari rahim ibu. Secara metafor, kelahiran kembali ini berarti seorang Muslim yang selama sebulan melewati Ramadhan dengan puasa, qiyam, dan segala ragam ibadahnya harus mampu kembali berislam, tanpa benci, iri, dengki, serta bersih dari segala dosa dan kemaksiatan.
‘Idul fitri berarti kembali pada naluri kemanusian yang murni, kembali pada keberagamaan yang lurus, dan kembali dari seluruh praktik busuk yang bertentangan dengan jiwa manusia yang masih suci. Kembali dari segala kepentingan duniawi yang tidak islami. Inilah makna ‘idul fitri yang asli.
Adalah kesalahan besar apabila ‘idul fitri dimaknai dengan `perayaan kembalinya kebebasan makan dan minum` sehingga yang tadinya dilarang makan siang, setelah hadirnya ‘idul fitri akan balas dendam., atau dimaknai sebagai kembalinya kebebasan berbuat maksiat yang tadinya dilarang dan ditinggalkan. Kemudian, karena Ramadhan sudah usai maka kemaksiatan kembali ramai-ramai digalakkan. Ringkasnya, kesalahan itu pada akhirnya menimbulkan sebuah fenomena umat yang saleh musiman, bukan umat yang berupaya mempertahankan kefitrian dan nilai ketaqwaan. By. Ircham J. NiZel
Suatu kali Rasulullah saw melaksanakan shalat idul Fitri lebih siang dari biasanya, bukan karena beliau lupa, apalagi tertidur setelah shalat subuh. Beliau terlambat ke tempat berkumpulnya jama’ah shalat Id karena beberapa saat menjelang keberangkatannya, beliau mendapati seorang anak yang bermurung durja di tengah teman-temannya yang lagi asyik bermain dan bersuka cita.
Mendapati situasi seperti itu beliau menghampiri anak tersebut, lalu didekapnya dan dielus-elus kepalanya. Setelah cukup mendapatkan kehangatan, beliau lalu bertanya, wahai anakku, mengapa kamu bersedih hati di saat teman-temanmu bersuka ria? Di mana rumahmu? Siapa orangtuamu? Dengan mata nanar anak kecil itu menjawab, ayahku telah lama mati dalam suatu peperangan membela agama Islam, sedang ibuku menikah lagi dengan lelaki lain dan tak lagi menghiraukanku.
Rasulullah saw mendekap lebih hangat lagi, lalu bertanya: maukah kau jadikan aku sebagai ayahmu, ‘Aisyah sebagai ibumu, sedang Fathimah dan Ali sebagai bibi dan pamanmu? Beliau lalu membimbing anak itu ke rumah lalu meminta agar ‘Aisyah memandikannya, membersihkan kotorannya, dan memberinya pakaian terbaik yang dimilikinya. Anak kecil yang berpakaian dekil dan berwajah muram itu seketika berubah penampilannya. Ia kini kelihatan bersih dengan rambut yang tersisir rapih. Pakainnya bagus dan wajahnya berubah menjadi ceria. Ia keluar dari rumah Rasulullah saw sambil berteriak-teriak kepada teman-temannya, akulah anak yang hari ini paling bahagia. Muhammad telah menjadi ayahku, ‘Aisyah menjadi ibuku, sedang Fathimah dan Ali menjadi bibi dan pamanku. Sungguh tak terkira bahagianya anak itu. Kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Di hari idul fitri seperti ini seharusnya tak seorangpun bersedih hati. Semua gembira Semua bahagia. Lebih-lebih anak kecil, mestinya mereka semua bersuka cita. Kalau satu anak yatim saja dapat menghentikan langkah Rasulullah saw menuju tempat shalat idul fitri sampai anak tersebut turut berbahagia, lalu mengapa puluhan dan ratusan anak yang mengalami nasib yang sama tidak mampu menggerakkan hati kita untuk peduli, menyantuni, dan membahagiakan mereka?
Melalui puasa kita di didik dan di latih untuk peduli dan berbagi. Puasa tidak saja menahan lapar dan haus di siang hari, tapi di balik haus dan lapar itu kita dihantarkan untuk ikut berempati merasakan langsung sebagian dari penderitaan saudara-saudara kita, para fuqara dan masakin.
Islam adalah agama atau satu satunya agama yang paling banyak mengingatkan ummatnya tentang fuqara dan masakin. Bahkan orang-orang yang tidak peduli kepada mereka tegas-tegas disebutnya sebagai orang yang mendustaan agama. Allah berfirman:
”Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS Al- Maaun :1- 7)
Kedermawanan adalah sikap mulia dan terpuji, sementara kikir adalah perbuatan jahat dan hina. Seorang mukmin tak mungkin menjadi kikir, sebab ia yakin bahwa semua yang diberikan kepadanya adalah amanat dari Allah swt. Rizki dan karunia itu tidak untuk dimakan sendiri, tapi ia senantiasa mengingat ”kanan-kiri”. Ia sadar bahwa di dalam hartanya terdapat hak orang lain yang harus dikeluarkan. Untuk itu ia selalu peduli dan mau berbagi.
Rasulullah bersabda: ”Maafkanlah kesalahan orang yang murah hati (dermawan). Sesungguhnya Allah menuntun tangannya jika ia terpeleset. Orang yang dermawan dekat kepada Allah, dekat kepada manusia, dan dekat pada surga. Orang yang bodoh tapi dermawan lebih disukai Allah daripada orang alim (ahli ibadah) tapi kikir.” (HR. Thabrani)
Ketahuilah bahwa di dunia ini banyak orang yang malang, di antara mereka ada yang malang karena ulah mereka sendiri, tapi tidak sedikit yang malang karena nasib. Mereka menjadi yatim, misalnya bukan karena kemauan mereka sendiri. Mereka yatim karena bapaknya telah dipanggil Allah swt. Tidak ada seorang anakpun yang menginginkan menjadi yatim, tapi taqdir Allah yang menentukan.
Di hari yang fitri ini marilah kita semua bersilaturrahim, menyambung tali kasih di antara kita. Mari kita kunjungi saudara-saudara kita yang dekat maupun yang jauh, terutama kerabat yang miskin. Mereka biasanya minder mendatangi kita khawatir dikira meminta-minta.
Tanyakan kepada mereka tentang anak-anaknya, apakah mereka semua telah sekolah. Jika Anda mendapati mereka tidak sekolah, angkatlah ia sebagai anak asuh Anda. Tanyakan pula tentang pendidikan agama mereka. Jangan sampai dari lingkungan keluarga kita terdapat orang-orang yang menetang agama.
Silaturrahim kita baru bermakna jika kita tidak sekadar berkunjung, bertemu, dan bertatap muka. Silaturrahim kita baru berarti jika di dalamnya kita menjalin tali kasih dan tali saying, menolong saudara kita yang kurag mampu, membantu saudara kita yang perlu bantuan, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi saudara yang lebih muda.
Dalam al-Qur’an banyak kita dapati perintah bersilaturrahim, di antaranya Allah berfirman:
”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga dekat akan haknya, (juga kepada) orang miskin dan orang-orang dalam perjalanan dan janganah kamu menghambur-hamburkan hartamu (secara boros).” (QS Al-Isra: 26)
Dalam ayat yang lain Allah berfirman: ”Dan bertaqwalah kepada Allah, dimana kamu saling meminta antara satu dengan yang lain dengan (menyebut nama)-Nya, dan (peliharalah hubungan) keluarga, sesungguhnya Allah mengawasi kalian semua.” (An-Nisaa: 1)
Sungguh banyak manfaat bersilaturrahim. Selain mendatangkan kebahagiaan, silaturrahim juga mendatangkan rizki dan memperpanjang usia. Membangun silaturrahim tak ubahnya seperti membangun jejaring bisnis. Dari silaturrahim lahirlah koneksi, dari koneksi muncullah oportunity (kesempatan). Dari oportunity itu akan melahirkan rizki. Razki itu bisa berupa uang, kebahagiaan, juga kesehatan atau umur panjang. Mengingat pentingnya silaturrahim ini, maka jangan sekali-kali kita mencoba untuk memutuskannya. Allah tidak menyukainya.
”Orang-orang yang merusak perjanjian Allah setelah dikokohkannya, dan memutus sesuatu yang Allah telah memerintahkan untuk menyambungnya, dan berbuat kerusakan di muka bumi, mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-Baqarah: 27)
Sebagai bagian akhir dari tulisan ini kami ingin menukil sebuah hadits Qudsi berikut ini:
Dari Abdurrahman bin Auf ia berkata, saya mendengar rasulullah saw bersabda bahwa Allah berfirman (dalam hadits Qudsy): ”Aku adalah Allah. Aku adalah Ar-Rahim (maha Pengasih). Aku ciptakan kerabat dan aku keluarkan untuknya nama dari nama-Ku. Maka barangsiapa menyambungnya, Aku akan menyambungnya. Barangsiapa yang memutuskannya, maka Aku akan memutuskannya pula.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi). (Irch.).
DALAM MEWARNAI IDUL FITRI
Suatu kali Rasulullah saw melaksanakan shalat idul Fitri lebih siang dari biasanya, bukan karena beliau lupa, apalagi tertidur setelah shalat subuh. Beliau terlambat ke tempat berkumpulnya jama’ah shalat Id karena beberapa saat menjelang keberangkatannya, beliau mendapati seorang anak yang bermurung durja di tengah teman-temannya yang lagi asyik bermain dan bersuka cita.
Mendapati situasi seperti itu beliau menghampiri anak tersebut, lalu didekapnya dan dielus-elus kepalanya. Setelah cukup mendapatkan kehangatan, beliau lalu bertanya, wahai anakku, mengapa kamu bersedih hati di saat teman-temanmu bersuka ria? Di mana rumahmu? Siapa orangtuamu? Dengan mata nanar anak kecil itu menjawab, ayahku telah lama mati dalam suatu peperangan membela agama Islam, sedang ibuku menikah lagi dengan lelaki lain dan tak lagi menghiraukanku.
Rasulullah saw mendekap lebih hangat lagi, lalu bertanya: maukah kau jadikan aku sebagai ayahmu, ‘Aisyah sebagai ibumu, sedang Fathimah dan Ali sebagai bibi dan pamanmu? Beliau lalu membimbing anak itu ke rumah lalu meminta agar ‘Aisyah memandikannya, membersihkan kotorannya, dan memberinya pakaian terbaik yang dimilikinya. Anak kecil yang berpakaian dekil dan berwajah muram itu seketika berubah penampilannya. Ia kini kelihatan bersih dengan rambut yang tersisir rapih. Pakainnya bagus dan wajahnya berubah menjadi ceria. Ia keluar dari rumah Rasulullah saw sambil berteriak-teriak kepada teman-temannya, akulah anak yang hari ini paling bahagia. Muhammad telah menjadi ayahku, ‘Aisyah menjadi ibuku, sedang Fathimah dan Ali menjadi bibi dan pamanku. Sungguh tak terkira bahagianya anak itu. Kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Di hari idul fitri seperti ini seharusnya tak seorangpun bersedih hati. Semua gembira Semua bahagia. Lebih-lebih anak kecil, mestinya mereka semua bersuka cita. Kalau satu anak yatim saja dapat menghentikan langkah Rasulullah saw menuju tempat shalat idul fitri sampai anak tersebut turut berbahagia, lalu mengapa puluhan dan ratusan anak yang mengalami nasib yang sama tidak mampu menggerakkan hati kita untuk peduli, menyantuni, dan membahagiakan mereka?
Melalui puasa kita di didik dan di latih untuk peduli dan berbagi. Puasa tidak saja menahan lapar dan haus di siang hari, tapi di balik haus dan lapar itu kita dihantarkan untuk ikut berempati merasakan langsung sebagian dari penderitaan saudara-saudara kita, para fuqara dan masakin.
Islam adalah agama atau satu satunya agama yang paling banyak mengingatkan ummatnya tentang fuqara dan masakin. Bahkan orang-orang yang tidak peduli kepada mereka tegas-tegas disebutnya sebagai orang yang mendustaan agama. Allah berfirman:
”Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS Al- Maaun :1- 7)
Kedermawanan adalah sikap mulia dan terpuji, sementara kikir adalah perbuatan jahat dan hina. Seorang mukmin tak mungkin menjadi kikir, sebab ia yakin bahwa semua yang diberikan kepadanya adalah amanat dari Allah swt. Rizki dan karunia itu tidak untuk dimakan sendiri, tapi ia senantiasa mengingat ”kanan-kiri”. Ia sadar bahwa di dalam hartanya terdapat hak orang lain yang harus dikeluarkan. Untuk itu ia selalu peduli dan mau berbagi.
Rasulullah bersabda: ”Maafkanlah kesalahan orang yang murah hati (dermawan). Sesungguhnya Allah menuntun tangannya jika ia terpeleset. Orang yang dermawan dekat kepada Allah, dekat kepada manusia, dan dekat pada surga. Orang yang bodoh tapi dermawan lebih disukai Allah daripada orang alim (ahli ibadah) tapi kikir.” (HR. Thabrani)
Ketahuilah bahwa di dunia ini banyak orang yang malang, di antara mereka ada yang malang karena ulah mereka sendiri, tapi tidak sedikit yang malang karena nasib. Mereka menjadi yatim, misalnya bukan karena kemauan mereka sendiri. Mereka yatim karena bapaknya telah dipanggil Allah swt. Tidak ada seorang anakpun yang menginginkan menjadi yatim, tapi taqdir Allah yang menentukan.
Di hari yang fitri ini marilah kita semua bersilaturrahim, menyambung tali kasih di antara kita. Mari kita kunjungi saudara-saudara kita yang dekat maupun yang jauh, terutama kerabat yang miskin. Mereka biasanya minder mendatangi kita khawatir dikira meminta-minta.
Tanyakan kepada mereka tentang anak-anaknya, apakah mereka semua telah sekolah. Jika Anda mendapati mereka tidak sekolah, angkatlah ia sebagai anak asuh Anda. Tanyakan pula tentang pendidikan agama mereka. Jangan sampai dari lingkungan keluarga kita terdapat orang-orang yang menetang agama.
Silaturrahim kita baru bermakna jika kita tidak sekadar berkunjung, bertemu, dan bertatap muka. Silaturrahim kita baru berarti jika di dalamnya kita menjalin tali kasih dan tali saying, menolong saudara kita yang kurag mampu, membantu saudara kita yang perlu bantuan, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi saudara yang lebih muda.
Dalam al-Qur’an banyak kita dapati perintah bersilaturrahim, di antaranya Allah berfirman:
”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga dekat akan haknya, (juga kepada) orang miskin dan orang-orang dalam perjalanan dan janganah kamu menghambur-hamburkan hartamu (secara boros).” (QS Al-Isra: 26)
Dalam ayat yang lain Allah berfirman: ”Dan bertaqwalah kepada Allah, dimana kamu saling meminta antara satu dengan yang lain dengan (menyebut nama)-Nya, dan (peliharalah hubungan) keluarga, sesungguhnya Allah mengawasi kalian semua.” (An-Nisaa: 1)
Sungguh banyak manfaat bersilaturrahim. Selain mendatangkan kebahagiaan, silaturrahim juga mendatangkan rizki dan memperpanjang usia. Membangun silaturrahim tak ubahnya seperti membangun jejaring bisnis. Dari silaturrahim lahirlah koneksi, dari koneksi muncullah oportunity (kesempatan). Dari oportunity itu akan melahirkan rizki. Razki itu bisa berupa uang, kebahagiaan, juga kesehatan atau umur panjang. Mengingat pentingnya silaturrahim ini, maka jangan sekali-kali kita mencoba untuk memutuskannya. Allah tidak menyukainya.
”Orang-orang yang merusak perjanjian Allah setelah dikokohkannya, dan memutus sesuatu yang Allah telah memerintahkan untuk menyambungnya, dan berbuat kerusakan di muka bumi, mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-Baqarah: 27)
Sebagai bagian akhir dari tulisan ini kami ingin menukil sebuah hadits Qudsi berikut ini:
Dari Abdurrahman bin Auf ia berkata, saya mendengar rasulullah saw bersabda bahwa Allah berfirman (dalam hadits Qudsy): ”Aku adalah Allah. Aku adalah Ar-Rahim (maha Pengasih). Aku ciptakan kerabat dan aku keluarkan untuknya nama dari nama-Ku. Maka barangsiapa menyambungnya, Aku akan menyambungnya. Barangsiapa yang memutuskannya, maka Aku akan memutuskannya pula.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi). (Irch.).
DALAM MEWARNAI IDUL FITRI
Suatu kali Rasulullah saw melaksanakan shalat idul Fitri lebih siang dari biasanya, bukan karena beliau lupa, apalagi tertidur setelah shalat subuh. Beliau terlambat ke tempat berkumpulnya jama’ah shalat Id karena beberapa saat menjelang keberangkatannya, beliau mendapati seorang anak yang bermurung durja di tengah teman-temannya yang lagi asyik bermain dan bersuka cita.
Mendapati situasi seperti itu beliau menghampiri anak tersebut, lalu didekapnya dan dielus-elus kepalanya. Setelah cukup mendapatkan kehangatan, beliau lalu bertanya, wahai anakku, mengapa kamu bersedih hati di saat teman-temanmu bersuka ria? Di mana rumahmu? Siapa orangtuamu? Dengan mata nanar anak kecil itu menjawab, ayahku telah lama mati dalam suatu peperangan membela agama Islam, sedang ibuku menikah lagi dengan lelaki lain dan tak lagi menghiraukanku.
Rasulullah saw mendekap lebih hangat lagi, lalu bertanya: maukah kau jadikan aku sebagai ayahmu, ‘Aisyah sebagai ibumu, sedang Fathimah dan Ali sebagai bibi dan pamanmu? Beliau lalu membimbing anak itu ke rumah lalu meminta agar ‘Aisyah memandikannya, membersihkan kotorannya, dan memberinya pakaian terbaik yang dimilikinya. Anak kecil yang berpakaian dekil dan berwajah muram itu seketika berubah penampilannya. Ia kini kelihatan bersih dengan rambut yang tersisir rapih. Pakainnya bagus dan wajahnya berubah menjadi ceria. Ia keluar dari rumah Rasulullah saw sambil berteriak-teriak kepada teman-temannya, akulah anak yang hari ini paling bahagia. Muhammad telah menjadi ayahku, ‘Aisyah menjadi ibuku, sedang Fathimah dan Ali menjadi bibi dan pamanku. Sungguh tak terkira bahagianya anak itu. Kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Di hari idul fitri seperti ini seharusnya tak seorangpun bersedih hati. Semua gembira Semua bahagia. Lebih-lebih anak kecil, mestinya mereka semua bersuka cita. Kalau satu anak yatim saja dapat menghentikan langkah Rasulullah saw menuju tempat shalat idul fitri sampai anak tersebut turut berbahagia, lalu mengapa puluhan dan ratusan anak yang mengalami nasib yang sama tidak mampu menggerakkan hati kita untuk peduli, menyantuni, dan membahagiakan mereka?
Melalui puasa kita di didik dan di latih untuk peduli dan berbagi. Puasa tidak saja menahan lapar dan haus di siang hari, tapi di balik haus dan lapar itu kita dihantarkan untuk ikut berempati merasakan langsung sebagian dari penderitaan saudara-saudara kita, para fuqara dan masakin.
Islam adalah agama atau satu satunya agama yang paling banyak mengingatkan ummatnya tentang fuqara dan masakin. Bahkan orang-orang yang tidak peduli kepada mereka tegas-tegas disebutnya sebagai orang yang mendustaan agama. Allah berfirman:
”Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS Al- Maaun :1- 7)
Kedermawanan adalah sikap mulia dan terpuji, sementara kikir adalah perbuatan jahat dan hina. Seorang mukmin tak mungkin menjadi kikir, sebab ia yakin bahwa semua yang diberikan kepadanya adalah amanat dari Allah swt. Rizki dan karunia itu tidak untuk dimakan sendiri, tapi ia senantiasa mengingat ”kanan-kiri”. Ia sadar bahwa di dalam hartanya terdapat hak orang lain yang harus dikeluarkan. Untuk itu ia selalu peduli dan mau berbagi.
Rasulullah bersabda: ”Maafkanlah kesalahan orang yang murah hati (dermawan). Sesungguhnya Allah menuntun tangannya jika ia terpeleset. Orang yang dermawan dekat kepada Allah, dekat kepada manusia, dan dekat pada surga. Orang yang bodoh tapi dermawan lebih disukai Allah daripada orang alim (ahli ibadah) tapi kikir.” (HR. Thabrani)
Ketahuilah bahwa di dunia ini banyak orang yang malang, di antara mereka ada yang malang karena ulah mereka sendiri, tapi tidak sedikit yang malang karena nasib. Mereka menjadi yatim, misalnya bukan karena kemauan mereka sendiri. Mereka yatim karena bapaknya telah dipanggil Allah swt. Tidak ada seorang anakpun yang menginginkan menjadi yatim, tapi taqdir Allah yang menentukan.
Di hari yang fitri ini marilah kita semua bersilaturrahim, menyambung tali kasih di antara kita. Mari kita kunjungi saudara-saudara kita yang dekat maupun yang jauh, terutama kerabat yang miskin. Mereka biasanya minder mendatangi kita khawatir dikira meminta-minta.
Tanyakan kepada mereka tentang anak-anaknya, apakah mereka semua telah sekolah. Jika Anda mendapati mereka tidak sekolah, angkatlah ia sebagai anak asuh Anda. Tanyakan pula tentang pendidikan agama mereka. Jangan sampai dari lingkungan keluarga kita terdapat orang-orang yang menetang agama.
Silaturrahim kita baru bermakna jika kita tidak sekadar berkunjung, bertemu, dan bertatap muka. Silaturrahim kita baru berarti jika di dalamnya kita menjalin tali kasih dan tali saying, menolong saudara kita yang kurag mampu, membantu saudara kita yang perlu bantuan, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi saudara yang lebih muda.
Dalam al-Qur’an banyak kita dapati perintah bersilaturrahim, di antaranya Allah berfirman:
”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga dekat akan haknya, (juga kepada) orang miskin dan orang-orang dalam perjalanan dan janganah kamu menghambur-hamburkan hartamu (secara boros).” (QS Al-Isra: 26)
Dalam ayat yang lain Allah berfirman: ”Dan bertaqwalah kepada Allah, dimana kamu saling meminta antara satu dengan yang lain dengan (menyebut nama)-Nya, dan (peliharalah hubungan) keluarga, sesungguhnya Allah mengawasi kalian semua.” (An-Nisaa: 1)
Sungguh banyak manfaat bersilaturrahim. Selain mendatangkan kebahagiaan, silaturrahim juga mendatangkan rizki dan memperpanjang usia. Membangun silaturrahim tak ubahnya seperti membangun jejaring bisnis. Dari silaturrahim lahirlah koneksi, dari koneksi muncullah oportunity (kesempatan). Dari oportunity itu akan melahirkan rizki. Razki itu bisa berupa uang, kebahagiaan, juga kesehatan atau umur panjang. Mengingat pentingnya silaturrahim ini, maka jangan sekali-kali kita mencoba untuk memutuskannya. Allah tidak menyukainya.
”Orang-orang yang merusak perjanjian Allah setelah dikokohkannya, dan memutus sesuatu yang Allah telah memerintahkan untuk menyambungnya, dan berbuat kerusakan di muka bumi, mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-Baqarah: 27)
Sebagai bagian akhir dari tulisan ini kami ingin menukil sebuah hadits Qudsi berikut ini:
Dari Abdurrahman bin Auf ia berkata, saya mendengar rasulullah saw bersabda bahwa Allah berfirman (dalam hadits Qudsy): ”Aku adalah Allah. Aku adalah Ar-Rahim (maha Pengasih). Aku ciptakan kerabat dan aku keluarkan untuknya nama dari nama-Ku. Maka barangsiapa menyambungnya, Aku akan menyambungnya. Barangsiapa yang memutuskannya, maka Aku akan memutuskannya pula.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi).
Masjid dan Lingkungan Tema utama pameran arsitektur diwujudkan dengan menampilkan gambar-gambar masjid di Nusantara, dapat kita lihat bahwa betapa pentingnya masjid pada pandangan ummatnya. Masjid yang diketengahkan dibagi menjadi enam pasang, berdasarkan latar belakangnya. Menempati bagian utama dari ruang pamer dan dibuat berpasangan dengan maksud agar dapat didapat cakrawala yang lebih lebar mengingat tiap-tiap bangunan mempunyai “kepribadian” yang berbeda-beda walaupun dapat disebut satu kelompok. Masjid-Masjid Kesultanan Melayu Kesultanan Melayu tidak menganggap masjid sebagai bagian dari istana tapi lebih merupakan bangunan yang mandiri, sitilik dari tempatnya yang selalu di hadapan istana, bahkan dapat dianggap sebagai pengawal istana. Pertama Masjid Raya Deli dibangun tahu 1906 dan selesai 1909 atas prakarsa Sultan Makmun Ar-Rasjid Perkasa Alam. Masa itu Kesultanan Deli sedang makmur akibaat pelepasan konsesi tanah dan hutan pada para penanam modal dari Eropa. Bangunan ini dirancang oleh arsitek Belanda, AJ Dingemans, oelh sebab itu bentuk masjid ini dipengaruhi oleh pandangan orang Eropa terhadap arsitektur Islam pada masa itu, yaitu mengambil langgam campuran Mogul dan Magribi. Didirikan pertam kali oleh Sultan pertama Dinasti Qadriah di Pontianak 91771-1808) Masjid Sultan Abdurrahman menurut cerita, masjid ini mulai didirikan tahun 1772, walaupun prasasti di atas mimbar menyatakan tahun 1237H sebagai penyelesaian bangunannya. Letaknya kira-kira 300 meter di depan Istana Qadriah yang umurnya jauh lebih muda. Masjid-Masjid Kesultanan Bahari Jika kita pergi ke Festival Istiqlal II dan melihat foto-foto masjid-masjid yang berhadapan langsung dengan laut, perasaan kita akan diajak mengingat kembali sejarah, bahwa dahulu nenek moyang kita berjaya di laut. Keakraban mayarakat dengan laut tersirat dari tempat berdirinya masjid-masjid ini di dekat samudra, sumber kajayaan mereka. Pada masa Kesultanan Ternate dan Riau lebih berorientasi ke luar, wilayah daratnya memang tidak seberapa, tetapi jangkauan kelautannya sangat luas. Sebagai masyarakat niagawan, hubungan mereka ke luar negeri dan dengan bangsa-bangsa asing sangat intensif, bersamaan dengan itu kegiatan intelektualnyapun berkembang dengan pesat. Namun disayangkan bahwa sejarah menenutkan lain, sehingga kejayaan itu semakin surut dalam alam penjajahan. Jauh sebelum Tumasik menjadi Singapura, penguasa Singapura adalah Pualau Penyengat, Masjid Raya di Pulau Penyengat dibangun tahun 1832 oleh Sultan Abdurrahman, Yang Dipertuan Muda Kesultanan Riau. Melihat pada tahun pembuatannya kemungkinan masjid ini adalah masjid pertama di Indonesia yang menggunakan kubah sebagai penutup atapnya. Meskipun demikian, atap kubahnya masih tunduk pada tata ruang dalam yang sepenuhnya masih Melayu, yaitu pola ‘ruang’ sehingga jumlah kubahnya 17 buah, menyesuaikan jumlah rakaat dalam shoalt fardhu. Masjid-Masjid Kesultanan Jawa Masjid Agung Kasepuhan atau dikenal dengan nama Sang Cipta Rasa di Cirebon didirikan pada pertengahan abad ke-15, semasa masjid Agung Demak. Dari denah peninggalan istaana lama (Dalem Agung Pangkungwati) yang ditampilkan, dapat dilihat bahwa perletakkan masjid tidak bertautan dengan kratonnya. Masing-masing menguasai spatialnya sendiri-sendiri. Bahkan alun-alunnya pun lebih cenderung berada didalam lingkungan masjid dari pada di dalam lingkungan keraton. 300 tahun kemudian, dibangun Masjid Keraton Kesultanan Ayogyakarta Hadiningrat yang dibangun oleh Sultan Kamnegkubuwono I di Mataram. Terletak lebih kurang 300 km di pedalaman Jawa Tengah, masjid ini mewakili keadaan yang berbeda, pada masa ini masjid sudah baku menjadi kelengkapan keraton dan dibangun dengan ketrampilan yang lebih baik. Masjid-Masjid di Pedesaan Masjid Kampung Rambutin di Lombok dan Kampung Naga di Tasikmalaya, Jawa Barat mencerminkan kehidupan masyarakat pedesaan dengan pertaniannya. Keadaan ini biasanya cenderung melahirkan sikap hidup yang mengarah pada kemapanan. Namun bila dikaji lebih lanjut, dari sikap yang demikian terkandung kesalehan yang mantap. Pada pola pemukiman mereka, masjid selalu menempati bagian yang paling menonjol. Masjid-Masjid di Lingkungan Pendidikan Sudah sejak awal perkembangan Islam ,lingkungan masjid biasanya merangkap sebagai ajang pendidikan, di dalam ajaran Islam, pendidikan dan ibadah tidak pernah dipisahkan. Madrasah dan Masjid adalah satu. Ilmu akhirat selalu diimbangi dengan ilmu dunia. Ketika Pesantren Pabelan didirikan pertama kali tahun 1965 oleh Kyai Haji Hamam Dja’far, masjid ini merupaka modal pertama bagi pesantren ini. Sedang masjidnyasendiri telah ada sejak perlawanan Pangeran Diponegoro melawaj penjajah Belanda. Masuk jaman yang lebih maju, kita menuju Kampus ITB Bandung dimana terdapat Masjid Salman. Dibangun dengan konsep yang mirip tradisi istana Melayu, masjid ini pernah menjadi ‘pengawal’ kampus karena letaknya diseberang gerbang kampus ITB. Sesuai dengan citra ITB, masjidSalman ini terkenal karena bentuknya yang ‘tidak biasa’, ia mencerminkan pengaruh arsitektur modernisme yang memilih bentu-bentuk murni dan nirlambang. Masjid- Masjid dalam Lingkungan Metropolis Dalam sejarah Nusantara banyak ditemui kota-kota yang sudah sangat teratur, ketika Eropa sendiri masih diselimuti zaman kegelapan. Salah satu kota yang sejak berdirinya bersifat metropolis, dan kemudian bertahan terus sampai sekarang adalah Makassar atau Ujung Pandang, ibu kota kerajaan kembar Gowa-Talo. Dimasa penjajahan, Makassar bertahan sebagai kota terbesar di kawasan Timur Indonesia, sampai masuk alam kemerdekaan. Masa lalu Ujung Pandang diwakili oleh Masjid Katangka yang dipercaya sebagai masjid tertua di Sulawesi. Dari keletakkannya di sisi barat Bukit Tamalate, tempat kraton lama Gowa dan juga dipercaya sebagai tempat turun temurun nenek moyang orang Gowa, jelas sekali penghargaan Sultan Alauddin dan Sultan Abdullah Awalu’lislam dari Tallo yang masa itu sedang mempersiapkan perkembangan Makassar. Jadi Masjid Katangka adalah bagian penting dari pusat spiritual masyarakat Makassar ketika mereka bersiap membina metropolis Makassar abad ke-17. Diujung abad 20 ini, ketika Ujung Pandang sedang menata diri kembali untuk menjadi pusat perkembangan setengah Indonesia di sisi Timur, mome ini ditandai kembali dengan didirikannya sebuah Masjid Raya, masjid terbesar sesudah Istiqlal yang berukuran 54×54 meter persegi di atas lahan seluas 9 ha, lengkap dengan kompleks Pusat Kajian Islam, memantapkan kembali pusat spiritual masyarakat Ujung Pandang. Insya Allah nur Islam memancar kembali dengan lebih gemilang di Timur.(by. Irch. J. NiZel) Sumber dari beberapa millis)
Ngabuburit, Kegiatan Rutin Bulan Ramadhan Moment apa yang biasanya paling di tunggu saat kita menjalankan ibadah puasa Ramadhan? Tak lain adalah saat-saat menjelang berbuka puasa. Saat Ramadhan datang, ngabuburit seolah menjadi tradisi yang sayang ditinggalkan. Alih-alih menunggu waktu berbuka, saking asyiknya, kembali ke rumah pun enggan. Ternyata budaya ngabuburit di berbagai tempat di Indonesia sudah ada sejak jaman dulu. Saat ngabuburit inilah yang paling di tunggu oleh kabanyakan kaum muda. Ngabuburit berasal dari bahasa Sunda dengan akar kata burit, yakni sebuah representasi waktu yang menunjukkan mulainya malam hari. Ngabuburit artinya mengisi waktu hingga burit tiba. Istilah ini sering digunakan pada bulan puasa sebagai tren dalam menanti waktu berbuka. Dalam masyarakat Sunda hal ini sudah membudaya dan menjadi istilah baku dalam kamus. Sekarang, istilah ngabuburit sudah dipakai oleh semua orang yang mengartikannya sebagai kegiatan mengisi waktu sampai tiba saatnya berbuka puasa. Bahkan tren ini menjadi sebuah tradisi yang tak bisa dilepaskan dari bulan Ramadhan. Sebuah analisa dari Guru Besar Universitas Galuh Ciamis, Prof. Dr. Dadan Wildan Anas, M.Hum menyebutkan istilah ngabuburit ini diperkirakan sudah ada sejak abad XV. Dalam analisanya Dadan menyebutkan, pada abad ke-15, Kerajaan Mataram menata kota-kota dengan membuat sebuah pusat kegiatan masyarakat berupa sebuah alun-alun, masjid, dan pasar serta fasilitas pendukung lainnya sehingga menarik warga untuk mendatanginya. Ibarat semut merangsek gula. Karena pusat keramaian di Alun-alun, maka menjadi lokasi paling favorit untuk ngabuburit. Banyak kegiatan yang dilakukan sebagai pengisi waktu di sore hari alias ngabuburit. Program pesantren kilat yang digelar selama bulan Ramadhan misalnya, atau ziarah ke mesjid tua dan bersejarah yang ada di sekitar kita. Seperti yang diselenggarakan oleh Komunitas Jelajah Budaya (KJB) yang biasa mengadakan program wisata budaya ke mesjid-mesjid bersejarah di Kota Tua Jakarta ketika bulan Ramadhan untuk ngabuburit. Kebanyakan memang dilakukan di sore hari. Sambil ngabuburit, sekaligus juga dapat tambahan ilmu tentang sejarah bangsa dan ilmu seputar keagamaan. Tapi banyak juga aktivitas ngabuburit yang tidak ada kaitan langsung dengan nuansa keagamaan. Ya, ini sih benar-benar sekedar perintang-rintang waktu. Bisa jalan-jalan, bisa nongkrong di taman kota, baca buku, atau yang lainnya. Silakan pilih sendiri. Di setiap daerah, pelaksanaan budaya ngabuburit beda cara. Begitupun dengan orang yang tinggal di perkampungan dengan di perkotaan. Di perkampungan, budaya ngabuburit dulu diisi dengan beragam permainan rakyat, misalnya petak umpet, gatrik, dan sebagainya. Untuk memeriahkan suasana, anak-anak di daerah perkampungan biasanya bermain lodong atau jeblugan, yakni bermain perang-perangan dengan media bambu mirip sebuah meriam yang diisi dengan karbit hingga menghasilkan suara dentuman. Sedangkan di daerah perkotaan ngabuburit biasanya diiisi dengan jalan-jalan sore, nongkrong di pusat perbelanjaan, atau keliling kota dengan kendaraan. Di Jakarta misalnya, pusat-pusat perbelanjaan di daerah ini selalu ramai ketika sore di bulan Ramadhan. Lain lagi dengan komunitas dunia maya Wikimu. Mereka mengadakan ngabuburit dengan acara nonton bersama film Merah Putih, sebuah film tentang perjuangan bangsa. “Kebetulan awal bulan puasa tahun ini masih di bulan Agustus, di mana bangsa Indonesia masih riuh merayakan Hari Kemerdekaan, 17 Agustus. Karena itu, sambil menunggu saat berbuka puasa, Agenda Wikimu bulan ini adalah mengajak teman-teman untuk ngabuburit dengan menonton film Merah Putih,” tertera dalam undangan yang dilayangkan lewat jejaring internet tersebut. Acara nonton bareng ini diadakan pada hari Minggu, 23 Agustus 2009, di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), jalan Cikini Raya no 73, Jakarta. Secara ideal, ngabuburit sebaiknya diisi dengan hal-hal yang bermanfaat, dalam arti mendatangkan amal ibadah, dalam setiap detik, menit dan jam yang dilaluinya. Misalnya, membaca dan menghafal Al Qur’an, berzikir, membantu orang tua atau orang-orang lain yang membutuhkan. Namun karena Islam adalah agama yang tidak bersifat membebani, dalam perkembanganya Islam amat toleran dengan tradisi setempat yang dilakukan semasa menunggu beduk bergema. Jadi sejauh tidak mendatangkan kemaksiatan, umumnya para ulama bisa menerima hal-hal itu sebagai bagian dari aktivitas ngabuburit. Bagi kita ngabuburit di zaman sekarang ini bisa kita lakukan hal-hal yang baik seperti mendengarkan ceramah para ulama, baik secara langsung di masjid-masjid, maupun secara elektronik melalui perantaraan radio dan TV. Selain kualitasnya biasanya di atas rata-rata, ceramah yang di sampaikan melalui TV dan radio juga lebih menarik, tidak membosankan, dan topiknya pun diatur supaya beragam. Sebetulnya memang tidak ada aturan yang mengatur kegiatan apa saja yang boleh dilakukan pada saat ngabuburit. Hanya saja, jangan sampai kegiatan ngabuburit ini mengurangi nilai ibadah puasa kita. Ngabuburit hanyalah aktivitas tambahan pada saat menjalankan ibadah puasa.Tujuannya agar kita tidak bosen menunggu saat buka puasa. Yang namanya aktivitas tambahan tentu tidak boleh mengalahkan aktivitas utama. Kegiatan utama yang sangat kental aspek religiusitasnya tersisihkan oleh aktivitas sampingan yang masuk hitungan sunat saja tidak, dan bahkan ternyata malah menimbulkan banyak godaan bagi yang sedang puasa. Dalam bahasa Sunda, diungkapkan dalam frasa singkat: cul dogdog tinggal igel. Ini terbalik, dan tentu saja tidak boleh terjadi. Ngabuburit? Tidak ada yang melarang. Tapi, cari kegiatan ngabuburit yang tidak mengurangi kebaikan puasa kita. Bahkan akan lebih baik jika aktivitas itu justru menambah kebaikan, semangat dan - kalau bisa - pahala puasa kita. Selamat ngabuburit! (Wallahu a'lam). (by. Irch. J. NiZel)
Puasa adalah sebuah perjalanan spiritual yang terkandung nilai-nilai moral maupun nilai-nilai rohani, dan hal ini amat ditekankan oleh al-Qur’an dan Hadits. Nabi Muhammad saw bersabda sebagai berikut : “Barangsiapa tidak menghentikan ucapan bohong dan perbuatan kotor, Allah tidak membutuhkan sama sekali akan puasanya yang ia lakukan dengan pantang makan dan minum” (HR. Bukhori). Hal ini berlaku pula bagi semua Rukun Islam. Orang yang melakukan shalat itu, tetapi tak memperhatikan jiwa shalat yang menjadi tujuan shalat itu, ia dikutuk oleh al-Qur’an dengan firnannya yang terang sebagai berikut : “Celakalah mereka yang bershalat yang tak mengingat (akan tujuan) shalat mereka” (Q.S. 107:4-5). Dalam hadits lainnya, segi ethik puasa, diuraikan dengan kata-kata sebagai berikut: “Puasa adalah perisai; maka hendaklah orang yang berpuasa jangan mengucapkan kata-kata kotor, dan jangan pula melakukan perbuatan keji (la yajhal); dan jika salah seorang mengajak bertengkar atau memaki-maki kepadanya, hendaklah ia berkata: Aku sedang puasa. Demi Tuhan Yang menguasai jiwaku! Sesungguhnya bau mulut orang yang puasa itu menurut Allah lebih harurn daripada bau minyak kasturi” (HR. Bukhori). Bukan karena pantang makan dan minum yang membuat bau-mulut orang puasa harum, tetapi yang membuat bau harum ialah karena ia menjauhkan diri dari ucapan kotor dan segala macam perbuatan keji sampai-sampai ia tak mau membalas maki-maki orang yang memaki-maki kepadanya. Jadi, orang yang berpuasa bukan saja mengalami disiplin jasmani berupa mengekang hawa-nafsu, dan menahan lapar dan dahaga, serta menahan hawa nafsu berhubungan badan, melainkan benar-benar mengalami disiplin moral berupa menjauhkan diri dari segala macam ucapan kotor dan perbuatan keji. Puasa bukan saja melatih disiplin jasmani, melainkan pula melatih disiplin moral dan disiplin rohani. Sebagaimana diuraikan seterang-terangnya dalam Hadits tersebut, puasa itu tak ada artinya dalam penglihatan Allah, jika orang yang puasa tak menjauhkan diri, bukan saja dari makan dan minum, melainkan pula dari ucapan bohong, ucapan kotor berbuat serong, atau berbuat keji. Selanjutnya, nilai disiplin moral yang terdapat dalam puasa, dipertinggi lagi dengan memberi tekanan khusus agar dalam bulan Ramadhan, orang suka berbuat baik kepada sesamanya. Sehubungan dengan ini, dalam hadits diuraikan sebuah contoh yang dilakukan oleh Nabi. “Rasulullah saw adalah orang yang paling murah-hati di antara sekalian manusia; dan beliau lebih bermurah hati lagi dalam bulan Ramadhan” (HR. Bukhori). Dalam riwayat lainnya diterangkan bahwa jika bulan Ramadhan tiba, “Nabi saw menggunakan itu untuk membebaskan semua tawanan dan memberi sedekah kepada orang minta-minta”. Bulan Ramadhan sebagai bulan untuk menaruh perhatian terhadap kaum miskin dan kaum lapar. Uraian tersebut di atas menambah jelasnya arti suatu Hadits yang berbunyi sebagai berikut : “Jika bulan Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dirantai” (HR. Bukhori). Ini berlaku bagi orang yang menjalankan puasa jasmani dan rohani. Setan-setan dirantai, karena ia dapat mengalahkan dan mengendalikan hawa nafsu, yang dengan meniupkan bisikan jahat kepada hawa nafsu, setan-setan itu menjerumuskan manusia dalam lembah kejahatan. Pintu-pintu neraka ditutup, karena, ia menjauhi segala macam kejahatan, yang ini adalah sumber neraka bagi manusia. Pintu-pintu Surga dibuka, karena ia menaikkan tingkatan rohani di atas keinginan-keinginan jasmani, dan mengabdikan diri kepada kepentingan sesama manusia. Puasa mendatangkan ampunan dan dosa barangsiapa menjalankan puasa karena iman (kepada Allah) dan karena mencari ridla-Nya, disertai dengan niat, ia akan diampuni dosanya. Tak ada ragu-ragu sedikitpun bahwa puasa seperti itu, yakni, puasa yang dilakukan karena iman kepada Allah, dan dilakukan sebagai disiplin rohani untuk mencari ridha Ilahi, disertai dengan niat yang baik, ini merupakan praktek taubat yang bernilai tinggi bertaubat sungguh-sungguh, maka dosa yang sudah-sudah akan diampuni, karena ia telah mengubah haluan hidupnya. masih ada arti lain lagi tentang dibukanya pintu Surga pada bulan Ramadhan bagi orang puasa, yaitu bahwa puasa Ramadhan tepat sekali untuk meningkatkan keroharian kita atau untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana firman Allah sebagai beriku: “Dan apabila hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, sesungguhnya Aku ini dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a tatkala ia berdo’a kepada-Ku” (Q.S. 2 : 186). Menurut ayat ini, jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dibuka dalam bulan ramadhan dan pendekatan ini harus dilakukan dengan jalan berdo’a. Itulah sebabnya mengapa Nabi saw menggunakan bulan ramadhan sebagai bulan yang khusus untuk menjalankan shalat Tahajjud. Dan beliau juga menganjurkan kepada para pengikut beliau supaya selama bulan ramadhan, bangun malam untuk menjalankan shalat Tahajjud. By. Ircham J. NiZel
Kata “saum” makna aslinya berpantang dalam arti sebenar-benarnya (al-imsaku ‘anil-fi’li), mencakup pula berpantang makan dan bicara serta hal-hal yang membatalkan puasa. Kata ”saum” dalam arti berpantang bicara, terdapat dalam al-Qur’an sebagai berikut: “Katakanlah aku bernazar puasa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka pada hari aku tak berbicara dengan siapapun” (Q.S. 19:26). Menurut istilah syari’at Islam “saum” atau “siyam” berarti puasa, atau berpantang makan dan minum serta berhubungan intim, mulai waktu fajar hingga matahari terbenam.
Aturan Puasa dalam agama Islam. Dalam agama Islam, aturan puasa itu ditetapkan setelah aturan shalat. Kewajiban puasa itu ditetapkan di Madinah pada tahun Hijrah kedua, dan untk menjalankan ini ditetapkanlah bulan Ramadhan. Sebelum itu, Nabi Muhammad saw biasa menjalankan puasa-sunat pada tanggal 10 bulan Muharram, dan beliau menyuruh pula supaya para Sahabat berpuasa pada hari itu; menurut Siti ‘Aisyah, tanggal 10 Muharram dijadikan pula hari puasa bagi kaum Quraisy (Shahih Bukhori. 30:1). Jadi, asal mula adanya aturan puasa dalam Islam, ini terjadi sejak zaman Nabi Muhammad saw masih di Makkah. Tetapi menurut Ibnu ‘Abbas, setelah Nabi hijrah ke Madinah, beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram; dan setelah beliau diberi tahu bahwa Nabi Musa as tentu menjalankan puasa pada hari itu untuk memperingati dibebaskannya bangsa Israel dari perbudakan raja Fir’aun, beliau lalu menyatakan bahwa kaum Muslimin lebih dekat kepada Nabi Musa as dari pada kaum Yahudi, maka beliau menyuruh agar hari itu dijadikan hari puasa (Shahih Bukhori 30:69).
Bulan Ramadhan Kaum Muslimin diwajibkan puasa 29 atau 30 hari selama bulan Ramadhan. Jumlah yang pasti, bergantung kepada terlihatnya bulan, yang ini boleh jadi setelah jangka waktu 29 atau 30 hari. Puasa dimulai dari tanggal baru bulan Ramadhan dan diakhiri pada tanggal baru bulan Syawal. Nabi Muhammad bersabda sebagai berikut: “Kita adalah bangsa yang tak pandai tulis-menulis dan berhitung; satu bulan adalah sekian dan sekian sambil mengisyaratkan dengan jari beliau, yang satu, dua puluh sembilan, yang lain tiga puluh” (HR Bukhari 30:13). Hadits lain, berbunyi sebagai berikut: “Rasulullah menerangkan bulan Ramadhan, kata beliau: Janganlah kamu puasa, samapai kamu melihat permulaan tanggal, dan jangan pula kamu berbuka (mengakhiri) puasa, sampai kamu melihat permulaan tanggal (lagi); dan jika pada saat itu kebetulan berawan, maka perkirakanlah permulaan tanggal itu” (HR. Bukhori 13:2). Ada Hadits lagi yang menerangkan bahwa apabila udara berawan, maka harus dilengkapkan tiga puluh hari (HR. Bukhori 30:11). terlihatnya tanggal baru, dapat dikuatkan oleh seorang saksi, jika ia tergolong orang yang dapat dipercaya. Diriwayatkan bahwa pada satu ketika, penduduk Madinah ragu-ragu tentang terlihatnya tanggal baru bulan Ramadhan, dan mereka mengambil keputusan tidak berpuasa, tiba-tiba datanglah seorang penduduk padang-pasir, dan ia berdiri saksi bahwa ia melihat tanggal baru. Nabi dapat menerima kesaksian dia, dan menyuruh para sahabat supaya puasa.
Terpilihnya bulan Ramadhan
Ayat al-Qur’an yang memerintahkan puasa dalam bulan Ramadhan adalah sebagai berikut: “Bulan ramadhan ialah yang dalam bulan itu diturunkan al-Qur’an, sebagai pimpinan bagi manusia, dan tanda bukti yang terang tentang pimpinan dan pemisah. Maka barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, hendaklah ia menjalankan puasa” (Q.S. 2:185). Dari uraian ayat ini terang sekali bahwa terpilihnya bulan Ramadhan sebagai bulan yang khusus untuk puasa bukanlah tanpa sebab. Pilihan itu disebabkan karena al-Qur’an diturunkan dalan bulan itu. Semua orang tahu bahwa al-Qur’an diturunkan sepotong-potong dalam jangka waktu dua puluh tiga tahun, namun dalam ayat itu dikatakan bahwa al-Qur’an diturunkan dalam bulan Ramadhan; maksudnya, ialah bahwa wahyu pertama al-Qur’an di turunkan dalam bulan itu, dan ini dibenarkan oleh sejarah. Bulan Ramadhan itulah mula pertama diturunkan Nur Ilahi dalam bathin Nabi Muhammad saw, dan pada saat itu datanglah malaikat Jibril dengan risalah agung Ilahi. Jadi, bulan yang menyaksikan pengalaman yang luar biasa dari Nabi saw, dianggap sebagai bulan yang tepat untuk melatih disiplin rohani bagi kaum Muslimi, yang ini harus dijalankan melalui puasa. Ada alasan lagi mengapa dipilihnya bulan qamariyah (lunar-mon). Untung dan ruginya suatu musim ini dirasakan oleh seluruh dunia. Bulan syamsiyah (solar month) menguntungkan sebagian dunia dengan memberinya hari yang pendek dan udara yang dingin, tetapi memberatkan belahan bumi yang lain dengan beban hari yang panjang dan udara yang panas. Bulan qamariyah lebih serasi dengan ajaran Islam yang bersifat universil, dan segala bangsa mempunyai pembagian untung-rugi yang sama. Sebaliknya, jika waktu puasa tak ditentukan dengan jelas niscaya hilanglah nilai-nilai disiplin. Justru karena terpilihnya bulan yang khusus, maka pada saat tibanya bulan itu, kaum Muslimin seluruh dunia dari ujung sini sampai ujung sana, seakan-akan digerakkan secara serempak oleh suatu getaran. Getaran yang timbul karena tibanya bulan Ramadhan, adalah gerakan yang paling besar di seluruh muka-bumi. Pada waktu mereka melihat bulan sabit yang pertama pada bulan Ramadhan yang hanya nampak sangat kecil diufuk sebelah barat, seketika itu seluruh umat Islam di Barat dan di Timur, yang kaya, yang miskin, yang tinggi, yang rendah, majikan dan pelayan, penguasa dan rakyat, yang putih, yang hitam, semuanya merubah cara hidup mereka. Tidak ada contoh gerakan massa lainnya di seluruh muka bumi yang seperti gerakan massa umat Islam pada bulan Ramadhan ; dan ini disebabkan karena ditetapkannya satu bulan yang khusus. (Wallahu a'lam) By. Ircham J. NiZel
Tidur memang perlu. Tetapi di dalarn tidur ada perjuangan lain; perjuangan untuk bangun. Alangkah indahnya tuntunan Islam. Dalam setiap ajarannya, selalu ada manfaat yang berlipat-lipat, seperti halnya ajaran dalam tidur. Tidak saja di dalamnya ada ajaran tentang keseimbangan tubuh, tapi juga tuntunan lain yang sangat banyak. Di antara tuntunan itu adalah ajaran untuk bangun dan tidur di malam hari. Rasulullah saw bersabda “Hendaklah kamu bangun malam karena itu adalah kebiasaan amalan orang-orang yang shalih sebalum kamu. Sesungguhnya bangun malam itu mendekatkan diri kepada Allah, menutup segala dosa, menghilangkan penyakit dari tubuh dan menjauhi kekejian.” (HR. Tarmidzi).
Pada sepertiga malam terakhir, justru saat-saat paling istimewa bagi siapa saja yang ingin bermunajat kepada Allah. Saat itu Allah turun ke langit bumi dan memberi kesempatan kepada hamba-hamba-Nya untuk bermunajat, meminta dan memohon segala macam kebaikan. “Adakah yang berdo’a kepada-Ku, biar Aku perkenankan? Adakah yang meminta kepada-Ku, biar Aku berikan? Adakah yang memohon ampun kepada-Ku, biar Aku ampuni?” begitu firman Allah dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhan.
Tanpa mengatakan bahwa tujuan shalat malam adalah demi kesehatan, ternyata dampak shalat malam bagi ketahanan tubuh memang ada. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Mohammad Sholeh dosen Fakultas Tarbiyah lAIN Sunan Ampel Surabaya, dalam melakukan penelitian terhadap para siswa SMU Lukmanul Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya yang secara rutin memang menunaikan shalat tahajjud. Salah satu kesimpulannya, shalat tahajjud yang dilakukan dipenghujung malam yang sunyi, dapat mendatangkan ketenangan. Sementara ketenangan itu sendiri terbukti mampu meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi resiko terkena penyakit jantung dan meningkatkan usia harapan hidup.
Malam hari, adalah saat-saat yang dinantikan hamba-hamba yang shalih. Mereka tidak bisa membayangkan apa jadinya bila hari tanpa malam. Dalam riwayat lain, Rasulullah mengabarkan “Sesungguhnya pada waktu malam ada waktu tertentu, yang tidak seorang pun memohon kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat tepat pada waktu itu, kecuali pasti akan diberikan. Dan, itu berlaku untuk setiap malam”. (HR Muslim).
Kelak, orang-orang yang masuk surga akan bernostalgia tentang masa lalunya. Kala dahulu di dunia mereka selalu bangun shalat malam dan bermunajat kepada Allah swt. “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa ada di dalam surga dan dekat dengan air yang mengalir, sambil mengambil apa yang diberi oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum ini di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.” (QS. Adz-Dzanat: 15-18).
Kerenanya, bagi seorang mukmin, “tidur” sekali lagi hanya seperlunya. Terlebih Rasulullah saw. Imam lbnu Qayyim pernah berkata, “Siapa yang meneliti cara tidur dan jaga Rasulullah saw akan mendapati bahwa tidur Rasulullah adalah yang paling seimbang dan paling bermanfaat untuk badan dan untuk memberi kekuatan. Rasulullah tidak pernah tidur lebih dari kadar yang diperlukan, tetapi tidak pernah pula mencegah dirinya dari kadar keperluannya.
Ketika suatu hari Umar bin Khatab menangis, karena melihat Rasulullah saw tidur di atas selembar tikar yang sudah usang, sehingga tubuh beliau berbekas garis-garisnya, Rasulullah bertanya, “Mengapa engkau menangis?’ Umar berkata, “Bagaimana Kisra (Maharaja Parsi) dan kaisar (Maharaja Romawi) sama tidur di atas sutera tebal dan tipis, sedang engkau sebagai Rasulullah sampai membekas dilambung engkau hamparan tikar? Mendengar itu Rasulullah saw menghiburnya. Wahai Umar, Tidakkah engkau rela jika dunia ini mereka miliki sedang kita akan memiliki akhirat?. Tradisi bermunajat kepada Allah itu tidak akan pernah hilang sampai kapan pun. Banyak kisah orang-orang shalih dalam soal bangun malam ini, bahkan yang dekat dengan zaman kita saat ini. Satu di antaranya adalah apa yang dikisahkan Syaikh Umar Tilmisani, murid pejuang besar asal Mesir, Hasan al-Banna, sekaligus Mursyid (Ketua Umum) Jama’ah lkhwanul Muslimin. ”Pada waktu itu kami sedang melakukan acara Raker di luar kota. Selesai acara rapat waktu itu kira-kira pukul 12 malam. Kami semua sangat lelah dikarenakan antusias dan kesungguhan kami didalam acara rapat kerja tersebut. Kebetulan kami mendapat kamar yang sama dengan Imam Hasan Al-Banna. Saya sudah sangat penat sekali, dan ingin langsung istirahat tidur, agar besok tidak terlambat waktu shalat shubuh. Kami berbaring di tempat tidur masing-masing, kisah Umar Tilmisani.
Ia menambahkan, “Tidak beberapa Iama Imam Hasan Al-Banna memanggil saya, Umar, sudah tidur? Saya jawab, “labbaika, belum Mursyid.’ Beliau tidak berkata apa-apa lagi. Tak beberapa lama kemudian, beliau bertanya lagi hal yang sama, Umar, kamu sudah tidur? Saya jawab, “Labbaika, belum Mursyik dalam hati saya bertanya-tanya mengapa beliau melakukan hal ini?, lama beliau terdiam, tiba-tiba beliau memanggil lagi Karena sudah sangat penat, akhirnya saya tidak menjawab, biar sangka sudah tidur lelap. Tiba-tiba beliau bangun pelan-pelan sekali, berjalan sambil menenteng teropahnya ke kamar mandi. Di sana saya mendengar ia dengan sangat hati-hati berwudhu, agar percikan airya tidak membangunkan saya. Kemudian beliau mengambil tempat disudut kamar, menghadap kiblat, dan shalat malam (qiyamul lail) beberapa rakaat.
Maka, berjuanglah untuk bisa tidur dengan tenang. tetapi jangan lupa, berjuang pulalah untuk bangun. Akan selalu ada orang-orang shalih, dahulu, kini dan sampai akhir zaman nanti yang akan tetap konsisten melakukan munajat malam. Maka, tak ada yang lebih membahagiakan melebihi mereka yang bisa menjadi bagian dari orang-orang shalih itu. By. Ircham J. NiZel
Ibadah puasa yang sedang kita jalani saat ini sebagai salah satu rukun Islam, yang bertujuan agar kita menjadi bertaqwa kepada Allah. Sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Baqarah:
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”(Q.S 1:183)
Puasa adalah menahan diri dari makan dan minum serta perbuatan-perbuatan lain yang bersifat badani (fisik), sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Tetapi yang diharapkan tidak hanya menahan diri secara fisik melainkan juga secara mental (kejiwaan).
Banyak ditegaskan dalam beberapa hadist, termasuk hadist mutawatir, tentang dorongan upaya mendisiplinkan diri sehingga mampu meningkatkan kualitas puasa, dan sekedar puasa badani menjadi puasa nafsani, yang dilanjutkan menjadi puasa yang dapat mencapai nilai-nilai spiritual.
Apabila kita telah berniat puasa, kemudian menderita lapar dan haus, namun tidak mencuri untuk makan dan minum, meskipun kita sendirian, maka disitu kita mulai melihat adanya permulaan taqwa. Yaitu kita tidak mencuri makan dan minum karena kits tahu bahwa Allah melihat kita. Karena itu, puasa mempunyai efek pendidikan kejujuran. Jujur kepada Allah, kemudian jujur kepada diri sendiri, dan diharapkan jujur kepada sesama manusia. Dengan demikian puasa merupakan ibadah yang sangat ruhani, dan sangat spiritual.
Allah menyediakan waktu satu bulan dalam setahun, tidak hanya sebagai bulan suci tetapi juga sebagi bulan pensucian diri. Pada bulan itu kita berusaha membersihkan diri sendiri dengan harapan kalau kita menjadi bersih, maka pada satu syawal nanti kita kembali ke surga (paradiso) seperti yang diucapkan dalam Idul Fitri minal ‘aidin, artinya bahwa kita betul-betul termasuk mereka yang kembali ke paradiso atau kefitrahnya. Dan wall-faizin artinya sukses puasanya. Seperti yang sering diingatkan:
Aruinya: “banyak sekali orang puasa namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa haus dan lapar” (HR. Ahmad)
ini berbeda dengan sedekah yang bersifat sosial, sehingga ada indikasi dalam Al-Qur’an, seolah-olah Allah tidak peduli apa yang kita sedekahkan itu ikhlas atau tidak. Yang penting kita keluarkan sedekah itu. Allah berfirman:
Artinya: “Jika kamu menampakkan sedekahmu,, maka baik-baik saja. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. 1:271)
Yang penting dalam hal ini manusia berbuat sedekah dengan penuh keikhlasan, karena sedekah merupakan perbuatan yang berkualitas, dengan sedekah orang miskin tertolong. maka keikhlassn dalam bersedekah kita akan mendapatkan dua hal yang penting. Pertama, bila kita melakuakannya dengan ikhlas maka ridho Allah akan kita dapatkan. Kedua, sedekah menolong orang miskin yang nantinya akan berefek pada perbaikan kepada masyarakat. Jadi sedekah adalah ibadah yang sangat sosial, dimensinya sangat horizontal (hablum minal an-nas).
Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk melaksanakan berbagai bentuk kegiatan ibadah baik secara horizontal maupun vertikal. Maka dengan adanya Ramadhan diharapkan menjadi barometer untuk menuju pembangunan sumber daya insani yang berdedikasi tinggi dan berkualitas, hal ini akan terwujud apabia dapat di bina dan didayagunakan dengan baik, sehingga akan menjadi modal dasar yang efektif untuk mencapai tujuan pembangunan tersebut. (Wallahu a’lam) By. Ircham J. NiZel
Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang dilaksanakan oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Allah swt. telah mewajibkannya kepada kaum yang beriman, sebagaimana telah diwajibkan atas kaum sebelum Muhammad saw. Puasa merupakan amal ibadah klasik yang telah diwajibkan atas setiap umat-umat terdahulu.Ada empat bentuk puasa yang telah dilakukan oleh umat terdahulu, yaitu:Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang dilaksanakan oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Allah swt. telah mewajibkannya kepada kaum yang beriman, sebagaimana telah diwajibkan atas kaum sebelum Muhammad saw. Puasa merupakan amal ibadah klasik yang telah diwajibkan atas setiap umat-umat terdahulu.. Ada empat bentuk puasa yang telah dilakukan oleh umat terdahulu, yaitu: Puasanya orang-orang sufi, yakni praktek puasa setiap hari dengan maksud menambah pahala. Misalnya puasanya para pendeta Puasa bicara, yakni praktek puasa kaum Yahudi. Sebagaimana yang telah dikisahkan Allah dalam Al-Qur’an, surat Maryam ayat 26 :“Jika kamu (Maryam) melihat seorang manusia, maka katakanlah, sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk tuhan yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini” (Q.S. Maryam :26). Puasa dari seluruh atau sebagian perbuatan (bertapa), seperti puasa yang dilakukan oleh pemeluk agama Budha dan sebagian Yahudi. Dan puasa-puasa kaum-kaum lainnya yang mempunyai cara dan kriteria yang telah ditentukan oleh masing-masing kaum tersebut. Sedang kewajiban puasa dalam Islam, orang akan tahu bahwa ia mempunyai aturan yang tengah-tengah yang berbeda dari puasa kaum sebelumnya baik dalam tata cara dan waktu pelaksanaan. Tidak terlalu ketat sehingga memberatkan kaum muslimin, juga tidak terlalu longgar sehingga mengabaikan aspek kejiwaan. Hal mana telah menunjukkan keluwesan Islam. HIKMAH PUASA Diwajibkannya puasa atas ummat Islam mempunyai hikmah yang dalam. Yakni merealisasikan ketakwaan kepada Allan swt. Sebagaimana yang terkandung dalam surat al-Baqarah ayat 183:“Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kalain bertakwa.” Kadar takwa tersebut terefleksi dalam tingkah laku, yakni melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Al-Baqarah ayat 185 :“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan tersebut, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. Ayat ini menjelaskan alasan yang melatarbelakangi mengapa puasa diwajibkan di bulan Ramadhan, tidak di bulan yang lain. Allah mengisyaratkan hikmah puasa bulan Ramadhan, yaitu karena Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan yang diistimewakan Allah dengan dengan menurunkan kenikmatan terbesar di dalamnya, yaitu al-Qur’an al-Karim yang akan menunjukan manusia ke jalan yang lurus. Ramadhan juga merupakan pengobat hati, rahmah bagi orang-orang yang beriman, dan sebagai pembersih hati serta penenang jiwa-raga. Inilah nikmat terbesar dan teragung. Maka wajib bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk bersyukur kepada Sang Pemberi Nikmat tiap pagi dan sore. Bila puasa telah diwajibkan kepada umat terdahulu, maka adakah puasa yang diwajibkan atas umat Islam sebelum Ramadhan? Jumhur ulama dan sebagian pengikut Imam Syafi’i berpendapat bahwa tidak ada puasa yang pernah diwajibkan atas umat Islam sebelum bulan Ramadhan. Pendapat ini dilandaskan pada hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah :“Hari ini adalah hari Asyura’, dan Allah tidak mewajibkannya atas kalian. Siapa yang mau silahkan berpuasa, yang tidak juga boleh meninggalkannya.” Sedangkan madzhab Hanafi mempunyai pendapat lain: bahwa puasa yang diwajibkan pertamakali atas umat Islam adalah puasa Asyura’. Setelah datang Ramadhan Asyura’ dirombak (mansukh). Madzhab ini mengambil dalil hadisnya Ibn Umar dan Aisyah ra.: diriwayatkan dari Ibn ‘Amr ra. bahwa Nabi saw. telah berpuasa hari Asyura’ dan memerintahkannya (kepada umatnya) untuk berpuasa pada hari itu. Dan ketika datang Ramadhan maka lantas puasa Asyura’ beliau tinggalkan, Abdullah (Ibnu ‘Amr) juga tidak berpuasa”. (H.R. Bukhari). “Diriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa orang-orang Quraisy biasa melakukan puasa Asyura’ pada masa jahiliyah. Kemudian Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa hari Asyura’ sampai diwajibkannya puasa Ramadhan. Dan Rasul berkata, barang siapa ingin berpuasa Asyura’ silahkan berpuasa, jika tidak juga tak apa-apa”. (H.R. Bukhari dan Muslim). Pada masa-masa sebelumnya, Rasulullah biasa melakukan puasa Asyura’ sejak sebelum hijrah dan terus berlanjut sampai usai hijrah. Ketika hijrah ke Madinah beliau mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa (Asyura’), beliau pun ikut berpuasa seperti mereka dan manyerukan ke ummatnya untuk melakukan puasa itu. Hal ini sesuai dengan wahyu secara mutawattir (berkesinambungan) dan ijtihad yang tidak hanya berdasar hadis Ahaad (hadis yang diriwayatkan oleh tidak lebih dari satu orang). ”Ibn Abbas ra. meriwayatkan: ketika Nabi saw. sampai di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi sedang melakukan puasa Asyura’, lalu beliau bertanya: (puasa) apa ini? Mereka menjawab: ini adalah hari Nabi Saleh as., hari di mana Allah swt. memenangkan Bani Israel atas musuh-musuhnya, maka lantas Musa as. melakukan puasa pada hari itu. Lalu Nabi saw. berkata: aku lebih berhak atas Musa dari kalian. Lantas beliau melaksanakan puasa tersebut dan memerintahkan (kepada sahabat-sahabatnya) berpuasa. (HR. Bukhari). Puasa Ramadhan diwajibkan pada bulan Sya’ban tahun kedua hijriyah, maka lantas, sebagaimana madzhab Abi Hanifah, kewajiban puasa Asyura terombak (mansukh). Sedang menurut madzhab lainnya, kewajiban puasa Ramadhan itu hanya merombak kesunatan puasa Asyura’. Kewajiban puasa Ramadhan berlandaskan Al-qur’an, Sunnah, dan Ijma.“Diriwayatkan dari Abdullah Ibn Umar, bahwasanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda: Islam berdiri atas lima pilar: kesaksian tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, mengeluarkan zakat, haji ke Baitullah (Makkah) dan berpuasa di bulan Ramadhan.” Kata ‘al-haj’ (haji) didahulukan sebelum kata ‘al-shaum’ (puasa), itu menunjukkan pelaksanakaan haji lebih banyak menuntut pengorbanan waktu dan harta. Sedang dalam riwayat lain, kata ‘al-shaum’ didahulukan, karena kewajiban puasa lebih merata (bisa dilaksanakan oleh mayoritas umat Islam) dari pada haji. Kewajiban puasa Ramadhan sangat terang. Barang siapa yang mengingkari atau mengabaikan keberadaannya dia termasuk orang kafir, kecuali mereka yang hidup pada zaman Islam masih baru atau orang yang hidup jauh dari ulama. DEFINISI PUASA Secara etimologi, puasa berarti menahan, baik menahan makan, minum, bicara dan perbuatan. Seperti yang ditunjukkan firman Allah, surat Maryam ayat 26 :“Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa demi Tuhan yang Maha Pemurah, bahwasanya aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (Q.S. Maryam : 26) Sedangkan secara terminologi, puasa adalah menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa dengan disertai niat berpuasa. Sebagian ulama mendefinisikan, puasa adalah menahan nafsu dua anggota badan, perut dan alat kelamin sehari penuh, sejak terbitnya fajar kedua sampai terbenarnnya matahari dengan memakai niat tertentu. Puasa Ramadhan wajib dilakukan, adakalanya karena telah melihat hitungan Sya’ban telah sempurna 30 hari penuh atau dengan melihat bulan pada malam tanggal 30 Sya’ban. Sesuai dengan hadits Nabi saw. “Berpuasalah dengan karena kamu telah melihat bulan (ru’yat), dan berbukalah dengan berdasar ru’yat pula. Jika bulan tertutup mendung, maka genapkanlah Sya’ban menjadi 30 hari.”*** Wallahu a’lam By. Ircham J. NiZel