Wednesday, June 30, 2010

BAGI PARA PENDIDIK GENERASI ISLAMI

Wahai pendidik para generasi yang melahirkan para tokoh…

Wahai engkau yang dimuliakan Allah dengan diembani tugas sebagaimana tugas para nabi dan rasul. (semoga keselamatan dan kesejahteraan bagi mereka). Salam sejahtera, rahmat Allah dan berkahNya semoga tercurah pada kalian. Waba’du.

Wahai orang yang dimuliakan Allah dengan al-Islam. Ingatlah, bahwa pendidik muslim mengemban misi paling mulia serta menunaikan amanah paling agung, dan bahwa kebaikan risalahnya diambil dari kemuliaan risalah itu sendiri. Terlebih panutannya dalam misi tersebut adalah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, guru sekalian manusia sekaligus pendidik mereka. Siapakah orang yang lebih mulia profesinya dari para pendidik? Adakah para pegawai (pekerja) dan pedagang? Ataukah para insinyur dan pengusaha? Atau mungkin dokter dan petani?

Seluruh mereka dan lainnya yang menyebar di tengah masyarakat, tak lain adalah produk tarbiyah para pendidik juga. Hasil didikan dari para pendidik, mereka bisa menjadi seperti sekarang dan karenanya pula mereka bisa eksis. Dari itulah para pendidik merasa bahagia diliputi bangga manakala melihat anak-anak didik mereka menjadi seperti mereka; insinyur, dokter, ahli seni dan praktisi dan begitu seterusnya…

Wahai orang yang mengemban tugas mempersiapkan generasi bagi umat dan mendidik para calon tokoh masa depan yang nantinya mereka diharapkan memegang kendali dan tugas-tugas kenegaraan, membangun peradaban umat serta mengemban misinya…. Ingatlah, engkau adalah pondasi, landasan utama serta batu pertama dalam bangunan peradaban umat. Engkau mengemban tanggung jawab secara penuh. Maka jadilah engkau orang yang mampu (ahli) dalam penunaian risalah agung ini, yang urgensitasnya sebagaimana digambarkan secara jelas oleh seorang penyair:

Tahukah ia, orang yang paling mulia

Yaitu yang berhasil membangun pribadi pribadi serta akal akal pikiran

Juga ucapan penyair lain:

Menurut pandangan dan penglihatanku

Seorang pendidik adalah laksana cahaya

orang yang bingung mendapat petunjuk denganya

Sekiranya tanpa pendidik, peradaban kita tak bisa bertambah maju

Dan tidak akan meninggi ihwalnya

Wahai nahkoda kapal yang mahir, yang ia harus menahkodai kapalnya dengan teliti disertai perhatian serius dan penuh agar ia sampai ke pulau tujuan bersama para penumpangnya dengan selamat dan aman… Ingatlah bahwa mendidik adalah seni sekaligus ilmu serta misi yang sangat agung dan luhur bagi siapa saja yang diberi taufiq oleh Allah untuk mampu mengembanya. Terlebih, tarbiyah tersebut sangat ditentukan dan bergantung kepada sang guru untuk mengetahui kondisi murid-muridnya serta pelbagai problematika yang mereka hadapi, kebaikan sikap serta pemahaman mereka kepada kondisi-kondisi murid. Maka dari itu, berupayalah sekuat tenaga -semoga Allah memberikan keberkahanNya kepadamu- untuk menyempurnakan tugas utamamu (sebagai pendidik), yaitu dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan tidak menyia-nyiakannya. Tempatkanlah selalu -di depan pelupuk matamu- perintah takwa kepada Allah serta perasaan selalu diawasi Allah (Muraqabatullah) di setiap waktu dan tempat.

Alangkah indah ucapan salah seorang penyair:

Jika di suatu hari engkau sedang sendirian

Jangan katakan, ‘ Aku seorang diri ‘ akan tetapi katakan

Selalu ada yang mengawasiku.

Jangan sangka Allah lengah dalam sekejab

Dan Jangan kira apa yang kau sembunyikan terlewat dari pengawasan-Nya.

Hai orang yang memayahkan dirinya serta mengorbankan sejumlah waktunya, mengorbankan banyak dan lebih banyak lagi, demi mengemban risalah yang dibawanya, yang di tengah itu ia menjumpai pelbagai kendala dan beragam rintangan… Janganlah engkau lupa bahwa semua itu akan ada pahalanya -Insya Allah- selagi kau lakukan dengan ikhlas untuk Allah semata dan engkau mampu bersabar dan hanya berharap balasanNya saja. Tidak ada pekerjaan yang tidak mengandung kepayahan dan tidak ada kesuksesan tanpa didahului begadang di malam hari. Betapa indahnya bait syair yang menggambarkan profesi mengajar dan mendidik berikut:

Betapa baik profesi mengajar jika tanpa rintangan

Orang yang buruk akhlaknya, orang bodoh ataupun sombong

Atau yang memiliki kedunguan yang tidak mengerti pelajaranya

Ia memiliki ucapan ucapan prosa seperti bait bait

Wahai orang yang merasa tinggi dan mulia di atas sahabat-sahabatnya yang bekerja di bidang-bidang lain atau di luar kependidikan…. Cukuplah kecintaanmu pada profesi tersebut sebagai modal tertinggi yang engkau boleh merasa bangga dan mulia karenanya, juga penghormatan serta penghargaan yang anda dapatkan ke mana saja engkau pergi dan di mana saja engkau berada, dari mereka yang dulunya menjadi murid-muridmu sementara sekarang telah menjadi orang-orang berhasil dan penting. Dan ingatlah bahwa anak-anak yang sekarang sedang duduk di depanmu di atas bangku-bangku studi adalah generasi masa depan yang dinantikan dan diharapkan serta bangunan-bangunan yang dipersiapkan untuk masa depan yang cerah -insya Allah-.

Ketahuilah, bahwa para pelajar adalah laksana medali di dadamu. Jika seseorang merasa bangga dengan satu medali yang diraihnya setelah mampu melakukan suatu amal dan karya besar nan mulia yang ia lakukan dalam jangka waktu yang lama, maka sang pendidik setiap hari menyandang satu medali. Jika medali medali orang lain di kalungkan di leher-leher mereka, maka medali-medali sang pendidik akan selalu hidup di dalam hati dan jiwanya. Perasaanya mengkonstruksikan medali-medali tersebut. Ia (sang pendidik) tadi melihat kedudukan pentingnya di jiwa-jiwa orang lain, karena mereka mengakui keutamaan serta menghormati harga dirinya. Sebagaimana seorang penyair pernah berucap:

Wahai sang pencipta generasi

Kami tak memiliki bendera putih selain produkmu

Jika bukan karena jasamu, tidaklah sang khatib fasih lisanya

Dan tidaklah sang penyair dapat bersenandung dengan keinginan keinginanya

Wahai orang yang menaruhkan seluruh hidupnya di dunia pendidikan, yang mengarunginya dengan akal dan hatinya dan yang tiada rela menggantinya dengan suatau apapun… Janganlah engkau menjadi obor yang menerangi jalan bagi orang lain, sementara ia membakar dirinya sendiri. Akan tetapi jadilah pelita yang menerangi jalan bagi orang lain dan tidak melupakan kebaikan dirinya dan sifat memberinya. Jalan terbaik untuk mewujudkan hal tersebut, engkau harus menjadi suri teladan baik bagi murid-muridmu dalam hal iltizam pada nilai-nilai kebenaran, sikap obyektifitas, sifat menghargai diri, sifat adil dan tidak berlaku zalim. Juga hendaknya engkau menjadi teladan dalam hal interaksi dengan orang lain yang didasarkan pada pondasi-pondasi yang kokoh berupa kebaikan dan ketakwaan. Alangkah bagusnya ucapan sang penyair:

Aku melihat, mengajar adalah semulia profesi

Konsekwensinya adalah terberat

Maka hendaklah sang pendidik selalu bertakwa kepada Allah

Terhadap sebagian orang orang yang diajarnya

Sebagai penutup, rasa terima kasihku yang besar, salamku yang deras mengalir, do’aku yang penuh keikhlasan bagimu wahai sang pendidik. Semoga Allah selalu menganugerahi taufiq, hidayah, kelurusan jalan, serta bimbingan dalam seluruh perjalananmu yang diberkahi serta perjuanganmu yang panjang dalam rangka mengemban misi agung (mengajar dan mendidik) yang dengan itu engkau akan menjadi pusat perhatian.

Serta pusat simpati di zaman ini dan bahkan di setiap zaman. Salawat serta salam semoga terlimpahkan kepada Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
Dipetik dari buku "Rasaa'il Tarbawiyah" karya Shalih bin Ali Abu 'Arrad asy-Syahri yang telah diterjemahkan dan dan diterbitkan oleh Pustaka At-Tibyan dengan judul "Mutiara Nasehat Menuju Pribadi Muslim Ideal"(by. Ircham Nizel)

Dahsyatnya NERAKA....!

Sebuah pengingat....

Kitab Suci Al-Qur’an seringkali menggambarkan berbagai bentuk penyesalan para penghuni Neraka. Salah satu di antara bentuk penyesalan itu berkaitan dengan urusan ”ketaatan”. Kelak para penghuni Neraka pada saat tengah mengalami penyiksaan yang begitu menyengsarakan berkeluh kesah penuh penyesalan mengapa mereka dahulu sewaktu di dunia tidak mentaati Allah dan RasulNya. Kemudian mereka menyesal karena telah menyerahkan kepatuhan kepada para pembesar, pemimpin, Presiden, Imam, Amir, Qiyadah dan atasan mereka yang ternyata telah menyesatkan mereka dari jalan yang lurus. Akhirnya, karena nasi telah menjadi bubur, mereka hanya bisa mengharapkan agar para mantan pimpinan mereka itu diazab oleh Allah dua kali lipat daripada azab yang mereka terima. Bahkan penghuni Neraka akhirnya mengharapkan agar para mantan pimpinan mereka itu dikutuk dengan kutukan yang sebesar-besarnya. Semoga Allah melindungi kita dari penyesalan demikian. Na’udzubillahi min dzaalika..!

”Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami ta`at kepada Allah dan ta`at (pula) kepada Rasul". Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta`ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar".(QS AlAhzab ayat 66-68)

Gambaran di atas merupakan suatu gambaran yang sungguh mengenaskan. Bagaimana kumpulan manusia yang sewaktu di dunia begitu menghormati dan mempercayai para pembesar dan pemimpin mereka, tiba-tiba setelah sama-sama dimasukkan Allah ke dalam derita Neraka mereka baru sadar ternyata telah ditipu oleh para pemimpin tersebut sehingga berbalik menjadi pembenci dan pengutuk para mantan pembesar dan pemimpin tersebut. Mereka terlambat menyadari jika telah dikelabui dan disesatkan dari jalan yang benar. Mereka terlambat menyadari bahwa sesungguhnya para pemimpin dan pembesar itu tidak pernah benar-benar mengajak dan mengarahkan mereka ke jalan yang mendatangkan keridhaan dan rahmat Allah.

Itulah sebabnya tatkala Allah menyuruh orang-orang beriman mentaati Allah dan RasulNya serta ”ulil amri minkum” (para pemimpin di antara orang-orang beriman) saat itu juga Allah menjelaskan kriteria ”ulil amri minkum” yang sejati. Yaitu mereka yang di dalam kepemimpinannya bilamana menghadapi perselisihan pendapat maka Allah (Al-Qur’an) dan RasulNya (As-Sunnah/Al-Hadits) menjadi rujukan mereka dalam menyelesaikan dan memutuskan segenap perkara.

”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisaa ayat 59)

Benar, Islam sangat menganjurkan kita semua supaya taat kepada pemimpin, namun pemimpin yang seperti apa? Apakah patut kita mentaati para pembesar dan pemimpin bilamana mereka tidak pernah menjadikan AlQur’an dan As-Sunnah sebagai rujukan untuk menyelesaikan berbagai problema yang muncul? Mereka lebih percaya kepada hukum dan aturan bikinan manusia, bikinan para legislator, daripada meyakini dan mengamalkan ketentuan-ketentuan Allah dan RasulNya. Pantaslah bilamana masyarakat yang sempat menghormati dan mempercayai para pembesar dan pemimpin seperti ini sewaktu di dunia kelak akan menyesal ketika sudah masuk Neraka. Bahkan mereka akan berbalik menyerang dan memohon kepada Allah agar para ulil amri gadungan tersebut diazab dan dikutuk...!

Tetapi kesadaran dan penyesalan di saat itu sudah tidak bermanfaat sama sekali untuk memperbaiki keadaan. Sehingga Allah menggambarkan bahwa pada saat mereka semuanya telah divonis menjadi penghuni Neraka lalu para pengikut dan pemimpin berselisih di hadapan Allah sewaktu di Padang Mahsyar. Para pengikut menuntut pertanggungjawaban dari para pembesar, namun para pembesar itupun cuci tangan dan tidak mau disalahkan. Para pemimpin saat itu baru mengakui bahwa mereka sendiri tidak mendapat petunjuk dalam hidupnya sewaktu di dunia, sehingga wajar bila merekapun tidak sanggup memberi petunjuk sebenarnya kepada rakyat yang mereka pimpin. Mereka mengatakan bahwa apakah mau berkeluh kesah ataupun bersabar sama saja bagi mereka. Hal itu tidak akan mengubah keadaan mereka barang sedikitpun. Baik pemimpin maupun rakyat sama-sama dimasukkan ke dalam derita Neraka.

”Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: "Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja? Mereka menjawab: "Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri". (QS Ibrahim ayat 21)

Allah menggambarkan bahwa kumpulan pengikut taqlid dan pemimpin sesat ini adalah kumpulan orang-orang zalim. Para pemimpin sesat akan berlepas diri dari para pengikut taqlidnya. Sedangkan para pengikut taqlid bakal menyesal dan berandai-andai mereka dapat dihidupkan kembal ke dunia sehingga mereka pasti berlepas diri, tidak mau loyal dan taat kepada para pemimpin sesat tersebut. Tetapi semuanya sudah terlambat.


”Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka.” (QS Al-Baqarah ayat 165-167)

Akbar Tanjung; Pengabdian Tiada Henti

Sejarah politik Indonesia, dengan berbagai era yang ada tidak terlepas dari bagian sejarah hidup seorang Akbar Tanjung. Dia menjadi bagian dari pelaku sejarah atas perubahan rezim yang ada. Kiprah dan perilaku politiknya sangat santun sehingga disegani oleh kawan dan lawan politiknya. Akbar Tanjung adalah tokoh fenomenal, ia sering dikategorikan sebagai figur politisi profesional yang memiliki pemikiran dan langkah-langkah politik yang lebih mengedepankan jalur kompromi atau kerjasama; bukan dengan cara menabuh genderang perang.

Lahir di di Sibolga tanggal 14 Agustus 1945, Akbar Tanjung belajar di Sekolah Rakyat (SR) di Medan dan pendidikan SMP Perguruan Cikini dan SMA Kanisius. Selanjutnya ia memilih kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Pergumulannya dengan dunia politik  dalam membangun ketokohannya dimulai sejak ia aktif dalam gerakan mahasiswa/pemuda, tahun 1964 mulai aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), pilihannya untuk aktif di- HMI, bermula dari rasa kagumnya saat SMA, sebagai organisasi kemahasiswaan, HMI  memiliki prinsip perjuangan dan militansi tinggi terutama pada saat HMI mengalami tekanan-tekanan baik politik maupun fisik dari kekuatan komunis yaitu PKI dan organisasi under bow-nya. “Itulah pertama kalinya saya masuk dunia aktivis tentunya saya mulai banyak belajar membaca situasi dan keadaan yang terjadi”, tuturnya kepada Reporter TMN.

Kemudian Akbar juga berperan aktif dalam  dalam gerakan mahasiswa pada saat pengganyangan G 30 S /PKI  tahun 1966 melalui Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia Universitas Indonesia (KAMI-UI) dan Laskar Ampera Arief Rahman Hakim. Tidak berhenti sampai disitu,  Tahun 1967-1968 Akbar dipercaya menjadi  Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia, berlanjut kemudian menjadi Ketua Umum Pengurus Besar HMI. Organisasi mahasiswa ekstrakampus di tahun 1972-1974, dan menjadi nakhoda di DPP KNPI pada tahun 1978-1981

Kiprahnya yang cemerlang di organisasi kepemudaan membuat langkah Akbar  semakin lempang dalam menapaki jalur politik. Menurut Akbar,  jiwanya terpanggil untuk masuk dunia politik melalui Golkar pada tahun 1974, Bagi Akbar, Golkar adalah partai politik yang mempunyai prinsip nilai-nilai Pancasila dan perjuangan NKRI, Golkar juga merupakan partai yang terbuka dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, dan mempunyai orientasi untuk mensejahterakan rakyat melalui pembangunan nasional. setelah 3 tahun aktif di Golkar, Akbar  dipercaya menjadi anggota DPR pada tahun 1977 dan menduduki posisi Wakil Sekretaris Jenderal DPP Golkar di tahun 1983-1988. Karir Politiknya kemudian berlanjut dengan dipercaya oleh presiden untuk menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olah raga, kemudian menjadi Menteri Perumahan.

Ketika rezim berganti, Soeharto berhenti dan digantikan oleh B.J. Habibie, Akbar dipercaya sebagai Menteri Sekretaris Negara. Kiprah politik Akbar terus berlanjut dengan terpilihnya menjadi Ketua Golkar pada Munas tahun 1998.

Sebagai politisi yang ditempa oleh pengalaman, Akbar sangat ulet, berani dan konsisten dalam memperjuangkan apa yang menjadi keyakinannya. Ini terbukti, ketika Akbar menjadi orang nomor satu di Golkar, beliau mampu untuk membenahi Golkar di tengah caci maki dan hujatan. Pada waktu itu Golkar memang sedang mengalami krisis kepercayaan yang sangat serius dari masyarakat akibat terjadinya perubahan yang demikian besar dan adanya reformasi dalam bidang kehidupan berpolitik. Banyak orang-orang Golkar yang berkecil hati, tidak berani tampil di hadapan massa, bahkan ada yang langsung keluar meninggalkan Golkar. Sementara Akbar berani, walaupun banyak ejekan yang ditujukan kepadanya. Tetapi dengan keuletan, konsistensi, kesabaran, ketulusan dan keikhlasan, Akbar pelan tetapi pasti membenahi Golkar, sampai kemudian, ternyata melalui suatu pemilihan umum yang demokratis, Golkar masih dipercaya oleh rakyat.

Bagi Akbar sendiri, tantangan dan rintangan yang dihadapi oleh seseorang  yang menjadi pemimpin tidak terlepas dari kualifikasi kepemimpinan yang dimilikinya. Menurut Akbar  seorang pemimpin harus memiliki prinsip-prinsip sebagai pemimpin yang selalu memberikan arahan-arahan yang menjadi acuan dan panutan masyarakat. Oleh karena itu seyogya seorang pemimpin harus mempunyai sifat-sifat kepemimpinan. Sebagai seorang muslim sifat-sifat kepemimpinannya  sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, yaitu harus jujur, amanah, fathonah (yang mempunyai kecerdasan), dan tabliq (mampu membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat yang dipimpin), setelah itu pemimpin juga harus mempunyai komitmen yang kuat untuk melaksanakan kepemimpinannya agar dapat berjalan secara efektif dan dapat memberikan suatu keberhasilan. punya visi yang dapat memberikan  gagasan-gagasan, dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, memiliki ide revisioner,  memiliki kapabilitas, integritas, aksepbilitas, elektabilitas yang dijadikan sebagai teladan sehingga dengan kapabilitasnya masyarakat dapat menerimanya.

Kepemimpinan ini telah dipraktikan oleh para founding father kita yang mempunyai semangat juang yang tinggi (pengorbanan), rasa persatuan, dan penghormatan terhadap keberagaman dan kemajemukan,   meski berbeda secara pemahaman politik, agama, suku, tetapi secara individu para pemimpin kita nampak betul tetap memperlihatkan hubungan yang rasa saling menghormati sehingga masyarakat tetap saling bersatu tidak terjadi pergolakan-pergolakan dimasyarakat. Dan tidak kalah penting adalah semangat religius dan kebersamaan yang diperlihatkan oleh para pemimpin terdahulu dalam menjalankan roda kepemimpinan.

Pelajaran penting dari pendahulu inilah, yang menjadi inspirasi Akbar untuk mematangkan dirinya sehingga dikenal piawai dalam memimpin maupun berpolitik dan dengan pengalamannya ini pula Akbar berusaha menyatukan segenap potensi budaya bangsa dalam payung modern nation state bernama Indonesia. Bagi Akbar Indonesia sebagai sebuah Negara telah final dengan bentuk NKRI karena Indonesia, negara besar, jumlah pulau dan penduduknya banyak, terdiri dari beragam suku, bangsa, agama, dan ras. Pengikatnya adalah bentuk negara kesatuan dan untuk mengikat rasa kesatuan tersebut, kita memiliki suatu konsensus nasional  yaitu pancasila, dengan Pancasila maka Indonesia akan dapat diwujudkan dalam semangat yang ditegakkan oleh para pendiri bangsa yaitu semangat persatuan. Karenanya perlu mentransformasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bernegara dan berbangsa, tugas ini bukan hanya oleh pemerintah saja, tapi juga para tokoh dan pemimpin nasional, tokoh masyarakat serta semua elemen bangsa yang memiliki tanggung jawab yang sama dalam mentransfer dan mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila. Dengan teraplikasikannya nilai-nilai Pancasila ini,  maka semangat persatuan akan merasuk kedalam sanubari anak bangsa dan dengan itu persatuan dapat ditegakkan.



Kontribusi Akbar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak melulu melalui kendaraan partai politik  an sich, pasca 1998 wajah perpolitikan Indonesia tengah berproses menuju negara demokratis yang sesunguhnya dan perkembangan inilah yang mendorong Akbar untuk mendirikan Akbar Tandjung Institute ( AT Institute), lembaga ini didirikan tahun 2005 tak berapa lama setelah ia berhasil meraih gelar doktor ilmu politik dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Akbar mendambakan AT Institute hadir menjadi wadah tempat belajar sosial-politik yang bersih. memberikan kontribusi berarti kepada masyarakat menuju era demokrasi dengan berbagai kegiatan yang memberikan pencerahan politik seperti diskusi, penerbitan buletin dan berbagai pencerahan lainnya.

Pengabdian Akbar yang tiada henti kepada bangsa dan negara Indonesia merupakan sumbangsih yang sangat berharga dalam perpolitikan Indonesia, barangkali tak terlalu berlebihan jika figur Akbar Tandjung merupakan politikus yang hebat, terlebih jika dilihat dari kapabilitas dan  leadership-nya (Ircham-TMN)