Monday, April 26, 2010
Tips dan Triks Bersemangat Salat Malam Bag.2
Merasakan bahwa Tuhanmu Yang Mahaluhur memanggilmu untuk salat.
Hal lain yang dapat membuat Anda bersemangat dalam bermunajat kepada Yang Maha Pengasih di tengah gelapnya malam adalah merasakan bahwa Tuhan Anda Yang Mahaluhur memanggil Anda untuk salat di hadapan-Nya, padahal Dia tidak membutuhkan ketaatan Anda. Apakah Anda tidak mau menjawab panggilan langit dan bermunajat kepada Tuhan Anda di tengah kegelapan malam agar menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat? Dalam firman-Nya, Allah Swt. memerintahkan Nabi Saw., para sahabat dan umatnya untuk melaksanakan salat malam. Allah berfirman,
Artinya, “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-lahan,” (QS Al-Muzzammil [73]: 1 - 4).
Sa’ad bin Hisyam bin Amir bertanya kepada Aisyah r.a. “Beritahulah aku tentang salat Rasulullah Saw?” Beliau balik bertanya, “Tidakkah engkau membaca “Yâ ayyuhal muzzammil”?” Aku menjawab, “Ya.” Beliau berkata, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan salat malam pada awal surat ini. Maka Nabi Saw. dan para sahabatnya pun mengerjakan salat malam selama setahun, karena Allah menahan pengakhirannya dua belas bulan di langit, sehingga Allah menurunkan pada akhir surat ini keringanan. Jadilah salat malam itu sunah setelah pernah menjadi wajib,” (HR Muslim).
As-Suhaili berkata, “Pada penamaan Beliau Saw. dengan nama ini (Al-Muzzammil), terdapat dua faidah, yaitu pertama, adanya kasih sayang dan perhatian. Kedua, peringatan bagi setiap orang yang tidur berselimut agar sadar untuk salat malam dan berzikir kepada Allah.”
Rasul Saw. telah memberitahu kita bahwa Tuhan kita memanggil dan mengajak kita pada setiap malam untuk mengerjakan salat dan bermunajat kepada-Nya.
Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi Saw. bersabda, "Tuhan kita Swt. turun setiap malam ke langit dunia ketika tinggal sepertiga malam yang akhir dan berkata, ‘Barang siapa berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doanya. Barang siapa meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku akan mengampuninya,” (HR Bukhari Muslim) (By. Ircham J. NiZel)
Tuesday, April 20, 2010
Tips dan Triks Bersemangat Shalat Malam Bag. 1
“Wahai jiwa, ikhlaslah!, maka engkau akan merdeka”. Itulah motto kaum salaf pilihan. Itu tidak mengherankan, karena ikhlas kepada Allah Swt. adalah ruh ketaatan, inti pendekatan, kunci diterimanya segala kebaikan dan sebab pertolongan Tuhan alam semesta. Pada niat, keikhlasan dan kejujuran terhadap Allah dalam kehendak baik-Nya terdapat pertolongan Allah terhadap hamba-Nya yang beriman.
Dalam firman-Nya, Allah Azza wa jalla telah memerintahkan kita untuk ikhlas dalam berbuat,
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS. Al-Bayyinah : 5).
Allah juga telah memperingatkan kita akan akhir menyedihkan yang akan menimpa orang yang mengerjakan ketaatan, tapi tidak karena mengharap ridha Allah. Seperti menginginkan pujian, pangkat, derajat, dan ketenaran di antara manusia.
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Al-Zumar : 65).
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Al-Zumar : 65).
Rasul Saw. telah memberitahu kita tentang siksaan pedih yang sedang menunggu orang yang melakukan ketaatan karena pamer, mencari dunia dan ketenaran.
“Dari Ubay bin Ka’ab ra, bahwasanya Nabi Saw bersabda, “Berilah kegembiraan umat ini dengan keagungan, agama, keluhuran, pertolongan, dan kekuatan di bumi. Maka barang siapa yang melakukan perbuatan akhirat untuk dunia di antara mereka maka tiada bagian baginya di akhirat.” (HR. Ahmad dan Hakim).
“Dari Ubay bin Ka’ab ra, bahwasanya Nabi Saw bersabda, “Berilah kegembiraan umat ini dengan keagungan, agama, keluhuran, pertolongan, dan kekuatan di bumi. Maka barang siapa yang melakukan perbuatan akhirat untuk dunia di antara mereka maka tiada bagian baginya di akhirat.” (HR. Ahmad dan Hakim).
Orang-orang salaf kita pun mendorong untuk ikhlas dalam beramal semata-mata karena Allah. Muthorrif bin al-Syahir rahimahullah berkata, “Bagusnya pekerjaan terletak pada bagusnya hati, dan bagusnya hati terletak pada bagusnya niat, dan barangsiapa membersihkan maka akan dibersihkan, dan barang siapa memperkeruh maka akan diperkeruh.”
Abu Ali al-Rudzbari rahimahullah berkata, “ Ilmu itu terhenti pada pengamalan, dan amal itu terhenti pada keikhlasan, sedangkan ikhlas kepada Allah akan memberikan pemahaman tentang Allah Azza wa jalla. Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Amal yang paling bermanfaat adalah engkau mangasingkan diri dari manusia dalam melakukannnya dengan ikhlas, dan dari dirimu dengan menyaksikan anugerah, maka engkau tidak bisa melihat dirimu di dalamnya, engkau juga tidak melihat para makhluk.
Orang-orang salaf kita yang mulia selalu menjaga agar ketaatan mereka murni karena Allah, tidak pamer di dalamnya dan mencari popularitas. Demikian juga halnya dalam masalah shalat malam. Seorang lelaki bertanya kepada Tamim al-Dari radhiallahuanhu, “Bagaimana salat Anda pada malam hari?” maka Tamim pun marah besar dan berkata, “Demi Allah, satu rakaat yang ku kerjakan pada tengah malam di kesunyian lebih aku cintai dari pada aku salat sepanjang malam kemudian aku ceritakan pada manusia.”
Ayub al-Sakhtiyani rahimahulllah melakukan salat sepanjang malam, maka ketika fajar menyingsing ia kembali terlentang di tempat tidurnya dan ketika shubuh menjelang, dia mengangkat suaranya seakan-akan ia baru bangun pada saat itu. (By. Ircham J. NiZel)
Abu Ali al-Rudzbari rahimahullah berkata, “ Ilmu itu terhenti pada pengamalan, dan amal itu terhenti pada keikhlasan, sedangkan ikhlas kepada Allah akan memberikan pemahaman tentang Allah Azza wa jalla. Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Amal yang paling bermanfaat adalah engkau mangasingkan diri dari manusia dalam melakukannnya dengan ikhlas, dan dari dirimu dengan menyaksikan anugerah, maka engkau tidak bisa melihat dirimu di dalamnya, engkau juga tidak melihat para makhluk.
Orang-orang salaf kita yang mulia selalu menjaga agar ketaatan mereka murni karena Allah, tidak pamer di dalamnya dan mencari popularitas. Demikian juga halnya dalam masalah shalat malam. Seorang lelaki bertanya kepada Tamim al-Dari radhiallahuanhu, “Bagaimana salat Anda pada malam hari?” maka Tamim pun marah besar dan berkata, “Demi Allah, satu rakaat yang ku kerjakan pada tengah malam di kesunyian lebih aku cintai dari pada aku salat sepanjang malam kemudian aku ceritakan pada manusia.”
Ayub al-Sakhtiyani rahimahulllah melakukan salat sepanjang malam, maka ketika fajar menyingsing ia kembali terlentang di tempat tidurnya dan ketika shubuh menjelang, dia mengangkat suaranya seakan-akan ia baru bangun pada saat itu. (By. Ircham J. NiZel)
Wednesday, April 07, 2010
PENDIDIKAN INDONESIA YANG MEMPRIHATINKAN
Era pasar bebas ditandai dengan tuntutan dunia kerja yang semakin tinggi terhadap tenaga kerja yang berkualitas. Dan untuk rnendapatkan tenaga kerja yang berkualitas harus dilihat dari kualitas sistem pendidikan yang ada disuatu Negara. Artinya jika suatu Negara memiliki sistem pendidikan yang baik maka sistem itu akan mampu melahirkan tenaga kerja yang baik pula. Begitu juga sebaliknya, jika sistern pendidikan disuatu Negara jelek, maka ia tidak mampu melahirkan tenaga kerja yang berkualitas.
Dan berbicara masalah sistem pendidikan maka tidak bisa lepas dari pembicaraan tentang institusi-institusi yang terkait dengan pendidikan itu sendiri, seperti tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, biaya, anak didik., masyarakat lingkungan serta pemerintah yang jelas sangat diperlukan peranannya. Dari sekian banyak subsistem yang memberikan konstribusi terhadap kualitas proses dan output pendidikan, subsistem tenaga kependidikan telah memainkan peran yang esensial. Itulah sebabnya setiap adanya inovasi pendidikan, khususnya dalam kurikulum dan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang hasilnya dari upah pendidikan selalu bermuara pada faktor guru (pendidik) hal ini menunjukkan betapa eksisnya peran guru dalam pendidikan.
Berbagai pendapat menyatakan bahwa masalah mutu pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal dan negara-negara lain. Hal ini dapat dilihat dari daya saing SDM Indonesia yang masih jauh tertinggal dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Di lihat dari tingkat pendidikan yang dimiliki angkatan tenaga Indonesia masih rendah. Menurut data yang dipublikasikan oleh United Nations Development Program (UNDP) yang memuat angka indeks kualitas SDM (Human Development Indeks - HDI) Tahun 2005 menyebutkan bahwa Indonesia berada pada posisi 110 dari 177 negara di dunia yang di survey. Keadaan tersebut jauh berada di bawah negara-negara tetangga seperti Australia yang berada di urutan ke-3, Singapura ke-25, Korea ke-28, Brunei Darussalam ke-33, Malaysia ke-61, Thailand ke-73, Filipina ke-84, dan China ke-85 sedangkan Timor Leste yang dulu merupakan bagian dari Indonesia meupakan urutan ke-140.
Banyak siswa tidak lulus Ujian Nasional (UN), hasil Ujian Nasional tahun 2005 tingkat SMA di Propinsi Nusa Tenggara Timur 55,91 % tidak lulus dan merupakan angka tertinggi tahun 2005 di Negara Kesatuan Republik Indonesia, disusul oleh Propinsi Papua 55, 02 %, jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Propinsi Jawa Barat siswa tidak lulus SMA sederajat 7,53 %, demikian juga Propinsi Sulawesi Utara 7,39 % tidak lulus. Demikian pula di Yogyakarta 13 Sekolah Lanjutan Tingkat Atas memiliki angka kelulusan 0 %, dan di Semarang 4 sekolah yang semua siswanya tidak lulus, Martinis Yamin (mengutip dari majalah Tempo Edisi 11-17 Juli 2005; 25). Prosentase kelulusan disetiap Propinsi tidak merata. Contohnya. keberhasilan UAN Propinsi Jambi menempati urutan ke-20 dari 33 Propinsi di Indonesia. Jika. dilihat secara keseluruhan hasil UAN untuk SMP, Bengkulu memegang rekor tertinggi 34,97 %, disusul Nanggroe Aceh Darussalam 33,68 %. Bandingkan dengan Propinsi DKI Jakarta yang memiliki angka kelulusan 3,83%.
Rendahnya kualitas pendidikan tersebut merupakan dampak dari rendahnya tenaga kependidikan di Indonesia. Prosesntase guru menurut kelayakan mengajar pada tahun 2002-2003 di berbagai satuan pendidikan sebagai berikut: Untuk SD yang layak mengajar hanya 21,07 % (Negeri) dan 28,94% (Swasta). Untuk SMP 54,12 % (Negeri) dan 60,99 % (Swasta). Untak SMA yang layak mengajar 55,29 % (Negeri) dan 64,73 % (Swasta).
Keadaan yang lebih memprihatinkan dialami oleh sebagian Madrasah. Menurut hasil penelitian di Jakarta Tahun 2001, separuh dari guru Madrasah di Jakarta tidak berkualitas. Hal ini ditandai dengan banyaknya guru dan tenaga pendidikan yang “Salah kamar” (Mismatch) dan “kualitas keilmuan yang tidak memadai” (unqualified atau underqualified). Hanya sekitar 20 % dari total guru Madrasah yang layak (qualified); selebihnya 20 % mismatch; dan 60 % belum atau tidak layak (underqualified atau unqualified).
Sehubungan dengan fakta-fakta tentang keadaan penelitian di Indonesia di atas, maka Harwina Bahar dalam bukunya “Diktat Pemikiran Pendidikan Islam” mengutip pendapat Syaukani tentang hal-hal yang belum diperhatikan oleh pernerintah dalam meningkatkan pendidikan adalah dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Aspek-aspek pemerataan pendidikan, dalam hal ini pemerintah diharapkan menjamin pemerataan dan kesempatan bagi seluruh anak dan sernua lapisan masyarakat untuk mendapat kesempatan belajar dan mengenyam pendidikan.
2. Mengagendakan anggaran pendidikan ke depan.
3. Segitiga kemitraan antara pemerintah, pendidikan dan dunia bisnis.
4. Kesemestaan paradigma pendidikan link and match.
Wallahu a’lam By: Ircham J. Nizel
BUDAYA BACA KEPADA MASYARAKAT PEMBACA
Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi (iptek), telah menuntut kepada masyarakat dunia agar mengikuti perkembangan yang selalu ada. Sifat iptek yang sangat dinamis, banyak menyisakan masyarakat yang tidak banyak disentuh oleh peradaban baru ciptaan iptek. Menjadi semakin terpuruk ke belakang. Kondisi demikian memperbesar disparitas kemajuan antara satu komunitas masyarakat dengan masyarakat yang lain.
Tekad pemerintah untuk menutupi segala kekurangan yang ada telah banyak dilakukan, mulai dari Program Keluarga Harapan (PKH), Subsidi Beras Untuk Rakyat Miskin (RASKIN), Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS), Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri) sampai Kridet Usaha Rakyat (KUR) yang khususnya ditujukan bagi masyarakat dibawah garis standar kewajaran.
Tekad pemerintah untuk menutupi segala kekurangan yang ada telah banyak dilakukan, mulai dari Program Keluarga Harapan (PKH), Subsidi Beras Untuk Rakyat Miskin (RASKIN), Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS), Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri) sampai Kridet Usaha Rakyat (KUR) yang khususnya ditujukan bagi masyarakat dibawah garis standar kewajaran.
Tetapi kunci untuk meningkatkan sumber daya manusia, yakni pendidikan belum mendapatkan perhatian yang penuh, dibanding dengan bidang lainnya meski sudah ada Bantuan Operasional Sekolah (BOS), namun dalam pelaksanaannya masih sebatas lingkungan sekolah saja. Sedangkan dilingkungan lain masih terasa belum mencukupi sebut saja seperti lingkungan karangtaruna Desa, Masjid-masjid, Taman Hiburan Rakyat (THR) atau tempat-tempat strategis lainnya yang bisa mudah diakses oleh masyarakat. Belum ada semacam taman bacaan untuk masyarakat yang berada dibawah garis standar kewajaran. Sedangkan pendidikan merupakan bidang yang perlu mendapatkan akselerasi yang tangguh. Sehingga dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur serta masyarakat yang berdaya, dapat terealisir dalam jangka pendek.
Pada sisi lain budaya masyarakat kita yang masih mempergunakan bahasa lisan sebagai budaya umum, maka perlu dicarikan alternatif yang lebih cepat mengakses informasi yang valid dan realible. Upaya yang sangat mendasar untuk mendorong kemajuan pendidikan dan pemberian informasi yang akurat adalah dengan mendirikan Perpustakaan baik dilingkungan desa, masjid-masjid, taman hiburan masyarakat dan lain sebagainya. Apalagi pertanggungjawaban dari lisan kurang bisa dirasakan untuk kegiatan yang bersifat ilmiah. Disinilah letak informasi dan data lebih dapat dipertanggungjawabkan kepada para penggunanya. Lebih dari itu, perpustakaan akan membawa masyarakat untuk bisa lebih menghasilkan karya-karya yang sistematis dan logis, maka tidak heran jika intelectuall exercise menjadi wadah yang memadai. Karenanya kebutuhan akan buku dan informasi lainnya merupakan condition sine quo (syarat mutlak) dalam memberikan pengertian dan pemahaman kepada masyarakat. By. Ircham J. Nizel
PENDIDIKAN SEKS REMAJA MASIH TABUKAH … ?
Usia remaja adalah usia yang rawan, dan seringkali menerima apa saja yang datangnya dari luar, dimana kemampuan berpikir logis mulai berkembang. Kemajuan teknologi yang bermanfaat bagi pendidikan akan mempercepat perkembangan daya tangkap dan pemahamannya, namun kemampuan menyaring dan memilih yang baik dan buruk belum tumbuh sempuma, kecenderungan untuk meniru masih tinggi, segala bentuk tingkah laku dalam kehidupan banyak terpengaruhi oleh hal-hal yang terlihat, terbaca dan terdengar. Apabila yang disajikan dalam bentuk yang positif maka, hal tersebut tidak jadi masalah. Akan tetapi, lain halnya apabila yang disajikan dalam bentuk yang negatif tentunya akan berpengaruh kepada tingkah laku dan kepribadiannya. Oleh karena itu perlunya diberikan pendidikan yang menyeluruh baik itu pendidikan yang berupa pendidikan agama atau pendidikan lainnya yang diberikan oleh orang tua atau orang dewasa lainnya.
Pendidikan merupakan salah satu hal yang penting dalam pembentukan karakter manusia, Dalam perkembangan istilah pendidikan atau pedagogis berarti bimbingan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa.
Selanjutnya, pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang agar ia menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.
Pembinaan moral yang dilakukan dalam pendidikan salah satunya adalah
dengan memberikan pendidikan seks yang benar pada anak. Pendidikan seks yang dimaksud adalah pendidikan seks yang berdasarkan kepada ajaran-ajaran Islam.
Berbicara mengenai pendidikan seks tidak terlepas dari sikap pro dan
kontra. Alasan mereka yang bersikap kontra adalah mereka menganggap bahwa seks merupakan masalah yang tabu untuk dibicarakan. Mereka menganggap bahwa seks itu jorok, cabul, dan porno. Namun demikian, banyak dari ilmuwan yang menganggap penting memberikan pendidikan seks yang benar bagi generasi muda. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran mereka terhadap anggapan yang salah dari para pelajar, yang menganggap bahwa seks adalah sesuatu hal yang dianggap permainan. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa adanya usaha untuk memberikan pendidikan seks yang sesuai dengan ajaran Islam maka, tidak mustahil akan tercipta keadaan a moral dan seks bebas.
Pendidikan seks merupakan suatu proses kegiatan yang berlangsung secara dialogis, realistis, jujur, terbuka, dan bukan dikter moral belaka. Pendidikan seks memberikan pengetahuan yang nyata, menempatkan seks pada cara melihat yang pas, berhubungan dengan self-esteem (rasa penghargaan terhadap diri), penanaman rasa percaya diri, dan difokuskan pada peningkatan ke mampuan dalam mengambil keputusan.
Pendidikan seks juga membantu mereka mengenali anggota tubuh
jasmaninya sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan dirinya.
Kebanyakan orang tua menganggap bahwa pendidikan seks itu hanya berisi tentang pemberian informasi alat kelamin dan berbagai macam posisi dalam berhubungan seks. Hal ini tentunya membuat kawatir para orang tua, apalagi dengan pemberian informasi seperti itu justru kita cenderung untuk mencobanya. Hal inilah yang perlu diluruskan.
Remaja perlu mendapatkan informasi atau pendidikan seks karena mereka sedang mengalami masa pubertas, mempunyai dorongan atau keinginan yang kuat tentang perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Biasanya hal tersebut dialami oleh remaja awal atau mereka yang berusia 12- 16 tahun. Selain itu, mulai timbul rasa ketertarikan pada lawan jenis. Dipihak lain, arus informasi memberikan tawaran yang mengarah pada seksual yang vulgar. Maka, pendidikan seks diperlukan untuk memberikan penjelasan yang lengkap dan benar soal seks. Dengan demikian, saat kita digempur oleh informasi seks yang vulgar, ditambah rasa ingin tahu yang besar, kita tidak kebablasan. Akan tetapi, yang lebih penting lagi adalah menjaga hawa nafsu kita dari pengaruh yang ditimbulkan oleh seks dengan jalan berpuasa atau menyalurkannya dengan jalan pernikahan. Dengan pernikahan kesucian seksual pun dapat terjaga sehingga masalah seksual yang dianggap hina dan kotor, dianggap mulia oleh Islam. By. Ircham J. Nizel
Referensi
1.Sudirman N.,dkk., Ilmu Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosda Kaiya, 1992
2.Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: PT. A1-Ma’rif, 1992
3.Hj. Nur Uhbiyat, Ilmu Pendidikan Islam 2, Bandung: CV. Pustaka Setia, cet ke-1.
Pendidikan merupakan salah satu hal yang penting dalam pembentukan karakter manusia, Dalam perkembangan istilah pendidikan atau pedagogis berarti bimbingan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa.
Selanjutnya, pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang agar ia menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.
Pembinaan moral yang dilakukan dalam pendidikan salah satunya adalah
dengan memberikan pendidikan seks yang benar pada anak. Pendidikan seks yang dimaksud adalah pendidikan seks yang berdasarkan kepada ajaran-ajaran Islam.
Berbicara mengenai pendidikan seks tidak terlepas dari sikap pro dan
kontra. Alasan mereka yang bersikap kontra adalah mereka menganggap bahwa seks merupakan masalah yang tabu untuk dibicarakan. Mereka menganggap bahwa seks itu jorok, cabul, dan porno. Namun demikian, banyak dari ilmuwan yang menganggap penting memberikan pendidikan seks yang benar bagi generasi muda. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran mereka terhadap anggapan yang salah dari para pelajar, yang menganggap bahwa seks adalah sesuatu hal yang dianggap permainan. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa adanya usaha untuk memberikan pendidikan seks yang sesuai dengan ajaran Islam maka, tidak mustahil akan tercipta keadaan a moral dan seks bebas.
Pendidikan seks merupakan suatu proses kegiatan yang berlangsung secara dialogis, realistis, jujur, terbuka, dan bukan dikter moral belaka. Pendidikan seks memberikan pengetahuan yang nyata, menempatkan seks pada cara melihat yang pas, berhubungan dengan self-esteem (rasa penghargaan terhadap diri), penanaman rasa percaya diri, dan difokuskan pada peningkatan ke mampuan dalam mengambil keputusan.
Pendidikan seks juga membantu mereka mengenali anggota tubuh
jasmaninya sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan dirinya.
Kebanyakan orang tua menganggap bahwa pendidikan seks itu hanya berisi tentang pemberian informasi alat kelamin dan berbagai macam posisi dalam berhubungan seks. Hal ini tentunya membuat kawatir para orang tua, apalagi dengan pemberian informasi seperti itu justru kita cenderung untuk mencobanya. Hal inilah yang perlu diluruskan.
Remaja perlu mendapatkan informasi atau pendidikan seks karena mereka sedang mengalami masa pubertas, mempunyai dorongan atau keinginan yang kuat tentang perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Biasanya hal tersebut dialami oleh remaja awal atau mereka yang berusia 12- 16 tahun. Selain itu, mulai timbul rasa ketertarikan pada lawan jenis. Dipihak lain, arus informasi memberikan tawaran yang mengarah pada seksual yang vulgar. Maka, pendidikan seks diperlukan untuk memberikan penjelasan yang lengkap dan benar soal seks. Dengan demikian, saat kita digempur oleh informasi seks yang vulgar, ditambah rasa ingin tahu yang besar, kita tidak kebablasan. Akan tetapi, yang lebih penting lagi adalah menjaga hawa nafsu kita dari pengaruh yang ditimbulkan oleh seks dengan jalan berpuasa atau menyalurkannya dengan jalan pernikahan. Dengan pernikahan kesucian seksual pun dapat terjaga sehingga masalah seksual yang dianggap hina dan kotor, dianggap mulia oleh Islam. By. Ircham J. Nizel
Referensi
1.Sudirman N.,dkk., Ilmu Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosda Kaiya, 1992
2.Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: PT. A1-Ma’rif, 1992
3.Hj. Nur Uhbiyat, Ilmu Pendidikan Islam 2, Bandung: CV. Pustaka Setia, cet ke-1.
Tuesday, April 06, 2010
GERAKAN PEMBAHARUAN DI MINANGKABAU
Minangkabau merupakan suatu daerah dan bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menarik untuk diteliti, karena garis keturunan ditarik dari garis keturunan ibu (matrilineal) mulai dari lingkungan yang terkecil, dari keluarga sampai kepada yang lebih besar seperti Nagari. Keturunan menurut garis keturunan ibu ini merupakan ajaran adat Minangkabau, yang memberikan corak berbeda dengan daerah-daerah lain dalam wilayah Indonesia , yang mengambil keturunan berdasarkan garis keturunan bapak, atau bapak dari ibu. Begitu juga dengan pembagian harta pusako tinggi, yang diberikan kepada anak perempuan.
Daerah Minangkabau bahagian terbesarnya merupakan termasuk ke dalarn Propinsi Sumatera Barat sekarang. Minangkabau mempunyai daerah-daerah yang terdiri dari daerah asal (darek) dan daerah rantau. Yang dirnaksud dengan daerah darek adalah daerah tempat mulai berkembangnya orang Minangkabau. Daerah darek ini dikenal dengan sebutan Luhak Nan Tigo, yaitu Luhak Agarn, Luhak Limo Puluh Kota, dan Luhak Tanah Datar. Sedangkan yang dimaksud dengan daerah rantau adalah daerah-daerah jajahan kerajaan Minangkabau atau daerah-daerah peeluasan Minangkabau seperti, daerah Kampar di Propinsi Riau, sarnpai ke Negeni Sembilan Malaysia . Narnun sekarang daerah Sumatera Barat identik dengan Minang, karena asal berkernbangnya Minangkabau berada dalarn wilayah propinsi Sumatera Barat.
Adat Minangkabau merupakan adat yang telah larna berlaku di daerah
Surnatera Barat, jauh sebelum Islam masuk ke Surnatera Barat, adat Minangkabau sudah ada, yang bercirikan kepada masyarakat Hindu dan Budha.
Surnatera Barat, jauh sebelum Islam masuk ke Surnatera Barat, adat Minangkabau sudah ada, yang bercirikan kepada masyarakat Hindu dan Budha.
Kedatangan Islam ke Minangkabau menyempurnakan adat Minangkabau, karena ada titik persamaan dari pokok-pokok ajaran adat Minangkabau dengan ajaran agama Islam (syara’). Hal ini dapat dilihat seperti ajaran adat Minangkahau bahwa, orang Minangkabau disuruh mengambil pelajaran dari alam sekitarnya, sehingga lahirlah pepatah, “alam takambang jadi guru “, dan hasil pelajaran itu dijadikan sebagai ajaran yang akan menuntun mereka di dalam kehidupan bermasyarakat. Sedangkan dalam ajaran agarna Islam, alam itu merupakan ayat-ayat Allah dan manusia disuruh untuk memperhatikan dan mernikirkannya.
Sistem adat Minangkabau yang unik itu, semakin menarik kalau dilihat lagi dalam hubungannya dengan Islam. Menurut filsafat hidup orang Minangkabau, tidak ada pertentangan antara adat dan agama. Antara adat dan agama berjalan secara sinergis, tanpa harus ada pertentangan antara keduanya. Hubungan antara adat dan agama tersebut diungkapkan dalarn sebuah falsafah yang sangat terkenal dalam lingkungan masyarakat Minangkabau; “Adat Basandi Syaru’, Syaru’ Basandi Kitabullah. Syara’ Mangato Adat Mamakai. Cermin Nan Indak Kabua, Palito Nan
Indak Padam.
Indak Padam.
Dalam perjalanan sejarahnya, Islam di Minangkabau mengalarni beberapa
kali pembaharuan. Gelombang pembaharuan Islam di Minangkabau pertama kalinya
dimotori oleh tiga orang ulama Minang yang pulang dan Mekkah pada tahun 1803 M. Sesuai dengan ilmu yang mereka dapat selama belajar di Mekkah, maka mereka
berpendapat bahwa masyarakat Minangkabau telah menyimpang dari ajaran Rasulullah. Praktek agama di Minangkabau saat itu menurut mereka sudah berbau
syirik, khurafat, dan bid’ah. Di samping itu banyak ajaran-ajaran adat yang tidak
sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam. Ketiga orang Haji ini yakni, Haji Sumaniak, Haji Miskin, dan Haji Piobang, berkeinginan untuk mengadakan
pembaharuan di Minangkabau dengan mengembalikan kehidupan masyarakat
Minangkabau sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadis.
kali pembaharuan. Gelombang pembaharuan Islam di Minangkabau pertama kalinya
dimotori oleh tiga orang ulama Minang yang pulang dan Mekkah pada tahun 1803 M. Sesuai dengan ilmu yang mereka dapat selama belajar di Mekkah, maka mereka
berpendapat bahwa masyarakat Minangkabau telah menyimpang dari ajaran Rasulullah. Praktek agama di Minangkabau saat itu menurut mereka sudah berbau
syirik, khurafat, dan bid’ah. Di samping itu banyak ajaran-ajaran adat yang tidak
sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam. Ketiga orang Haji ini yakni, Haji Sumaniak, Haji Miskin, dan Haji Piobang, berkeinginan untuk mengadakan
pembaharuan di Minangkabau dengan mengembalikan kehidupan masyarakat
Minangkabau sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadis.
Keinginan mereka ini terinspirasi dari gerakan Wahabi yang mengadakan pembaharuan di Mekkah. Pembaharuan yang dilakukan tiga orang itu juga diwarnai dengan kekerasan
yang mengakibatkan terjadinya konflik antara kaum adat dan kaurn agama. Konflik
berkepanjangan antara kaum adat dan kaum agama ini berlangsung hampir selama 20
tahun (18034-1837 M), hal ini mengakibatkan campur tangan penjajah Belanda dengan
alasan membantu kaum adat, maka pecahlah peperangan terbuka antara pihak kaum adat yang dibantu oleh Belanda dengan kaum agama yang disebut dengan Perang Paderi. Dalam peperangan tersebut akhirnya kaum adat menyadari bahwa musuh yang sebenarnya adalah Belanda, sehingga merekä berbalik menyerang Belanda. Sampai pada akhirnya Belanda berhasil menduduki daerah Minangkabau.
yang mengakibatkan terjadinya konflik antara kaum adat dan kaurn agama. Konflik
berkepanjangan antara kaum adat dan kaum agama ini berlangsung hampir selama 20
tahun (18034-1837 M), hal ini mengakibatkan campur tangan penjajah Belanda dengan
alasan membantu kaum adat, maka pecahlah peperangan terbuka antara pihak kaum adat yang dibantu oleh Belanda dengan kaum agama yang disebut dengan Perang Paderi. Dalam peperangan tersebut akhirnya kaum adat menyadari bahwa musuh yang sebenarnya adalah Belanda, sehingga merekä berbalik menyerang Belanda. Sampai pada akhirnya Belanda berhasil menduduki daerah Minangkabau.
Kekalahan yang diderita oleh kaum Paderi rnengakibatkan terjadinya kemunduran pembaharuan Islam di Minangkabau. Kekalahan tersebut tidak menyebabkan masyarakat Minang menyerah begitu saja, hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya orang tua yang menyekolahkan anaknya ke negeri Mekkah.
Pada awal abad ke-20 gerakan pembaharuan di Minangkabau muncul kembali. Minangkabau menghadapi pembaharuan tahap kedua yang telah memunculkan kegelisahan dan kekhawatiran di tengah-tengah masyarakat Minang. Pembaharuan tahap kedua ini dilaksanakan oleh murid-murid Syekh Ahrnad Khatib Minangkabawi yang baru pulang dari Mekkah. Kondisi sikap keberagamaan dan tradisi yang sudah turun temurun yang tidak dapat dirobah kembali mendapat tantangan dari kelompok pembaharu. Pembaharuan tahap kedua tampil dengan corak yang berbeda dengan yang dilakukan oleh gerakan Paderi. Gerakan Paderi lebih cenderung mengedepankan corak militerisme, tetapi pembaharuan tahap dua lebih kepada pergolakan inteletual. Hal ini dapat dilihat dengan dimunculkannya majalah-majalah, diadakannya perdebatan umum, dibentuknya organisasi-organisasi masyarakat dan didirikannya sekolah-sekolah yang bercorak modern.
Tokoh-tokoh yang memotori pembaharuan tahap kedua ini ialah empat orang yang baru pulang dari Mekkah yaitu, Haji Muhammad Djamil Jambek, Haji Abdullah Ahmad, Haji Abdul Karim Amrullah, dan Haji Muhammad Thaib Umar. Mereka ini dan orang yang setuju dengan gerakan yang mereka rintis disebut dengan Kaum Mudo. Gerakan yang mereka lakukan mampu menghidupkan kembali pendidikan Islam di Minangkabau. Hal ini dibuktikan dengan didirikannya madrasah-madrasah dengan mencontoh sistem pendidikan ala barat, yang langsung mendapat respon positif dari masyarakat dengan memasukkan anak-anak mereka ke madrasah-madrasah tersebut.
Gerakan pembaharuan Kaum Mudo dalam pendidikan ini membuat lembaga-lembaga pendidikan tradisional seperti surau hampir kehilangan eksistensinya. Hal ini langsung disikapi oleh pengelola surau dengan mengadakan pembaharuan terhadap surau yang mereka kelola dengan merombak surau tersebut menjadi Madrasah.
By. Ircham J. Nizel
Referensi
1. M.D Mansoer Dkk, SejarahMinangkabau, Jakarta , Bhatara, 1970
2. Idrus Hakimi Dt. Rajo Panghulu, Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di
Minangkabau,Bandung : PT. Rosdakarya, 1991
Minangkabau,
3. Murodi, Melacak Asal Usul Gerakan Paderi di Sumaiera Barat, Jakarta : PT. Logos, 1999
Subscribe to:
Comments (Atom)




