Hari Raya ‘Idul Fitri seluruh umat Islam di dunia ini akan segera merayakan hari yang biasa dianggap ‘kemenangan’ tersebut. Perayaan rutin setiap tahun ini menjadi momen sangat penting setelah berpuasa selama sebulan pada bulan Ramadhan. Seluruh umat Islam merayakannya dengan suka dan cita, tak berbeda yang rajin puasa maupun yang hanya alakadarnya.
Sebagaimana sudah maklum, selain Hari Raya ‘Idul Fitri, umat Islam juga punya Hari Raya ‘Idul Adha pada 10 Dzulhijjah. Dalam literatur-literatur Islam klasik, hari raya ini disebut ‘idulAkbar (hari raya besar), sementara ‘idul fitri hanya disebut sebagai ‘idulAshgar (hari raya kecil).. Sebagaimana hari-hari besar lain, ‘idul fitri tentu memiliki makna umum sebagai hari libur nasional sekaligus makna khusus yang dirasakan umat Islam. Paling tidak, ‘idul fitri dianggap sebagai hari kemenangan mengalahkan hawa nafsu dengan berpuasa sebulan penuh.
Erat kaitannya dengan Hari Raya ‘idul fitri adalah zakat fitrah yang wajib dikeluarkan setiap individu Muslim. Kalimat kedua dari dua terma ini (‘idul fitri dan zakat fitrah) adalah kalimat yang berasal dari bahasa Arab fithrah yang berarti natural atau dalam bahasa Indonesianya biasa diterjemahkan sebagai segala sesuatu yang suci, bersifat asal, atau pembawaan (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 1997)..
Sisi etimologis ‘Idul fitri terdiri dari dua kata. Pertama, kata ‘id yang dalam bahasa Arab bermakna `kembali’, dari asal kata ‘ada. Ini menunjukkan bahwa Hari Raya ‘idul fitri ini selalu berulang dan kembali datang setiap tahun. Ada juga yang mengatakan diambil dari kata ‘adah yang berarti kebiasaan, yang bermakna bahwa umat Islam sudah biasa pada tanggal 1 Syawal selalu merayakannya (Ibnu Mandlur, Lisaanul Arab).
Dalam Alquran diceritakan, ketika para pengikut Nabi Isa tersesat, mereka pernah berniat mengadakan ‘id (hari raya atau pesta) dan meminta kepada Nabi Isa agar Allah SWT menurunkan hidangan mewah dari langit (lihat QS Al Maidah 112-114). Mungkin sejak masa itulah budaya hari raya sangat identik dengan makan-makan dan minum-minum yang serba mewah. Dan ternyata Allah SWT pun mengkabulkan permintaan mereka lalu menurunkan makanan.(QS Al-Maidah: 115).
Jadi, tidak salah dalam pesta Hari Raya ‘idul fitri masa sekarang juga dirayakan dengan menghidangkan makanan dan minuman mewah yang lain dari hari-hari biasa. Dalam hari raya tak ada larangan menyediakan makanan, minuman, dan pakaian baru selama tidak berlebihan dan tidak melanggar larangan. Apalagi bila disediakan untuk yang membutuhkan.
Abdur Rahman Al Midani dalam bukunya Ash-Shiyam Wa Ramadhân Fil Kitab Was Sunnah (Damaskus), menjelaskan beberapa etika merayakan ‘idul fitri. Di antaranya di situ tertulis bahwa untuk merayakan ‘idul fitri umat Islam perlu makan secukupnya sebelum berangka ke tempat shalat Id, memakai pakaian yang paling bagus, saling mengucapkan selamat dan doa semoga Allah SWT menerima puasanya, dan memperbanyak bacaan takbir. Kata yang kedua adalah Fitri. Fitri atau fitrah dalam bahasa Arab berasal dari kata fathara yang berarti membedah atau membelah, bila dihubungkan dengan puasa maka ia mengandung makna `berbuka puasa’
(Ifthaar). Kembali kepada fitrah ada kalanya ditafsirkan kembali kepada keadaan normal, kehidupan manusia yang memenuhi kehidupan jasmani dan ruhaninya secara seimbang. Sementara kata fithrah sendiri bermakna `yang mula-mula diciptakan Allah SWT` (Dawam Raharjo, Ensiklopedi Alquran: hlm 40, 2002). Berkaitan dengan fitrah manusia, Allah SWT berfirman dalam Alquran: “Dan ketika Tuhanmu mengeluarkan anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu?.
Mereka menjawab:”Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (QS. Al A`râf: 172).” Ayat ini menjelaskan bahwa seluruh manusia pada firtahnya mempunya ikatan primordial yang berupa pengakuan terhadap ketuhanan Allah SWT. Dalam hadis, Rasulallah SAW juga mempertegas dengan sabdanya: “Setiap anak Adam dilahirkan dalam keadaan fitrah: kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi (HR. Bukhari).” Hadits ini memperjelas kesaksian atau pengakuan seluruh manusia yang disebutkan Alquran di atas.
Sisi terminologi Kendati dalam literatur-literatur Islam klasik, ‘idul fitri disebut sebagai ‘idulAshgar (hari raya yang kecil) sementara ‘idulAdhha adalah ‘idulAkbar (hari raya yang besar), umat Islam di Tanah Air selalu terlihat lebih semarak merayakan ‘idul fitri dibandingkan hari-hari besar lainnya, bahkan hari raya ‘idulAdha sekalipun. Momen ‘idul fitri dirayakan dengan aneka ragam acara, dimulai dengan shalat Id berjamaah di lapangan terbuka hingga halal bi halal antarkeluarga yang kadang memanjang hingga akhir bulan Syawal.
Dalam terminologi Islam, ‘idul fitri secara sederhana adalah hari raya yang datang berulang kali setiap tanggal 1 Syawal yang menandai puasa telah selesai dan kembali diperbolehkan makan minum di siang hari. Artinya, kata fitri disitu diartikan `berbuka atau berhenti puasa` yang identik dengan makan-makan dan minum-minum. Maka tidak salah apabila ‘idul fitri pun disambut dengan pesta makan-makan dan minum-minum mewah yang tak jarang terkesan diada-adakan oleh sebagian keluarga.
Terminologi ‘idul fitri seperti ini harus dijauhi dan dibenahi, sebab selain kurang mengekspresikan makna ‘idul fitri sendiri, juga terdapat makna yang lebih mendalam lagi. ‘idul fitri seharusnya dimaknai sebagai `kepulangan seseorang kepada fitrah asalnya yang suci` sebagaimana ia baru saja dilahirkan dari rahim ibu. Secara metafor, kelahiran kembali ini berarti seorang Muslim yang selama sebulan melewati Ramadhan dengan puasa, qiyam, dan segala ragam ibadahnya harus mampu kembali berislam, tanpa benci, iri, dengki, serta bersih dari segala dosa dan kemaksiatan.
‘Idul fitri berarti kembali pada naluri kemanusian yang murni, kembali pada keberagamaan yang lurus, dan kembali dari seluruh praktik busuk yang bertentangan dengan jiwa manusia yang masih suci. Kembali dari segala kepentingan duniawi yang tidak islami. Inilah makna ‘idul fitri yang asli.
Adalah kesalahan besar apabila ‘idul fitri dimaknai dengan `perayaan kembalinya kebebasan makan dan minum` sehingga yang tadinya dilarang makan siang, setelah hadirnya ‘idul fitri akan balas dendam., atau dimaknai sebagai kembalinya kebebasan berbuat maksiat yang tadinya dilarang dan ditinggalkan. Kemudian, karena Ramadhan sudah usai maka kemaksiatan kembali ramai-ramai digalakkan. Ringkasnya, kesalahan itu pada akhirnya menimbulkan sebuah fenomena umat yang saleh musiman, bukan umat yang berupaya mempertahankan kefitrian dan nilai ketaqwaan. By. Ircham J. NiZel
Suatu kali Rasulullah saw melaksanakan shalat idul Fitri lebih siang dari biasanya, bukan karena beliau lupa, apalagi tertidur setelah shalat subuh. Beliau terlambat ke tempat berkumpulnya jama’ah shalat Id karena beberapa saat menjelang keberangkatannya, beliau mendapati seorang anak yang bermurung durja di tengah teman-temannya yang lagi asyik bermain dan bersuka cita.
Mendapati situasi seperti itu beliau menghampiri anak tersebut, lalu didekapnya dan dielus-elus kepalanya. Setelah cukup mendapatkan kehangatan, beliau lalu bertanya, wahai anakku, mengapa kamu bersedih hati di saat teman-temanmu bersuka ria? Di mana rumahmu? Siapa orangtuamu? Dengan mata nanar anak kecil itu menjawab, ayahku telah lama mati dalam suatu peperangan membela agama Islam, sedang ibuku menikah lagi dengan lelaki lain dan tak lagi menghiraukanku.
Rasulullah saw mendekap lebih hangat lagi, lalu bertanya: maukah kau jadikan aku sebagai ayahmu, ‘Aisyah sebagai ibumu, sedang Fathimah dan Ali sebagai bibi dan pamanmu? Beliau lalu membimbing anak itu ke rumah lalu meminta agar ‘Aisyah memandikannya, membersihkan kotorannya, dan memberinya pakaian terbaik yang dimilikinya. Anak kecil yang berpakaian dekil dan berwajah muram itu seketika berubah penampilannya. Ia kini kelihatan bersih dengan rambut yang tersisir rapih. Pakainnya bagus dan wajahnya berubah menjadi ceria. Ia keluar dari rumah Rasulullah saw sambil berteriak-teriak kepada teman-temannya, akulah anak yang hari ini paling bahagia. Muhammad telah menjadi ayahku, ‘Aisyah menjadi ibuku, sedang Fathimah dan Ali menjadi bibi dan pamanku. Sungguh tak terkira bahagianya anak itu. Kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Di hari idul fitri seperti ini seharusnya tak seorangpun bersedih hati. Semua gembira Semua bahagia. Lebih-lebih anak kecil, mestinya mereka semua bersuka cita. Kalau satu anak yatim saja dapat menghentikan langkah Rasulullah saw menuju tempat shalat idul fitri sampai anak tersebut turut berbahagia, lalu mengapa puluhan dan ratusan anak yang mengalami nasib yang sama tidak mampu menggerakkan hati kita untuk peduli, menyantuni, dan membahagiakan mereka?
Melalui puasa kita di didik dan di latih untuk peduli dan berbagi. Puasa tidak saja menahan lapar dan haus di siang hari, tapi di balik haus dan lapar itu kita dihantarkan untuk ikut berempati merasakan langsung sebagian dari penderitaan saudara-saudara kita, para fuqara dan masakin.
Islam adalah agama atau satu satunya agama yang paling banyak mengingatkan ummatnya tentang fuqara dan masakin. Bahkan orang-orang yang tidak peduli kepada mereka tegas-tegas disebutnya sebagai orang yang mendustaan agama. Allah berfirman:
”Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS Al- Maaun :1- 7)
Kedermawanan adalah sikap mulia dan terpuji, sementara kikir adalah perbuatan jahat dan hina. Seorang mukmin tak mungkin menjadi kikir, sebab ia yakin bahwa semua yang diberikan kepadanya adalah amanat dari Allah swt. Rizki dan karunia itu tidak untuk dimakan sendiri, tapi ia senantiasa mengingat ”kanan-kiri”. Ia sadar bahwa di dalam hartanya terdapat hak orang lain yang harus dikeluarkan. Untuk itu ia selalu peduli dan mau berbagi.
Rasulullah bersabda: ”Maafkanlah kesalahan orang yang murah hati (dermawan). Sesungguhnya Allah menuntun tangannya jika ia terpeleset. Orang yang dermawan dekat kepada Allah, dekat kepada manusia, dan dekat pada surga. Orang yang bodoh tapi dermawan lebih disukai Allah daripada orang alim (ahli ibadah) tapi kikir.” (HR. Thabrani)
Ketahuilah bahwa di dunia ini banyak orang yang malang, di antara mereka ada yang malang karena ulah mereka sendiri, tapi tidak sedikit yang malang karena nasib. Mereka menjadi yatim, misalnya bukan karena kemauan mereka sendiri. Mereka yatim karena bapaknya telah dipanggil Allah swt. Tidak ada seorang anakpun yang menginginkan menjadi yatim, tapi taqdir Allah yang menentukan.
Di hari yang fitri ini marilah kita semua bersilaturrahim, menyambung tali kasih di antara kita. Mari kita kunjungi saudara-saudara kita yang dekat maupun yang jauh, terutama kerabat yang miskin. Mereka biasanya minder mendatangi kita khawatir dikira meminta-minta.
Tanyakan kepada mereka tentang anak-anaknya, apakah mereka semua telah sekolah. Jika Anda mendapati mereka tidak sekolah, angkatlah ia sebagai anak asuh Anda. Tanyakan pula tentang pendidikan agama mereka. Jangan sampai dari lingkungan keluarga kita terdapat orang-orang yang menetang agama.
Silaturrahim kita baru bermakna jika kita tidak sekadar berkunjung, bertemu, dan bertatap muka. Silaturrahim kita baru berarti jika di dalamnya kita menjalin tali kasih dan tali saying, menolong saudara kita yang kurag mampu, membantu saudara kita yang perlu bantuan, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi saudara yang lebih muda.
Dalam al-Qur’an banyak kita dapati perintah bersilaturrahim, di antaranya Allah berfirman:
”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga dekat akan haknya, (juga kepada) orang miskin dan orang-orang dalam perjalanan dan janganah kamu menghambur-hamburkan hartamu (secara boros).” (QS Al-Isra: 26)
Dalam ayat yang lain Allah berfirman: ”Dan bertaqwalah kepada Allah, dimana kamu saling meminta antara satu dengan yang lain dengan (menyebut nama)-Nya, dan (peliharalah hubungan) keluarga, sesungguhnya Allah mengawasi kalian semua.” (An-Nisaa: 1)
Sungguh banyak manfaat bersilaturrahim. Selain mendatangkan kebahagiaan, silaturrahim juga mendatangkan rizki dan memperpanjang usia. Membangun silaturrahim tak ubahnya seperti membangun jejaring bisnis. Dari silaturrahim lahirlah koneksi, dari koneksi muncullah oportunity (kesempatan). Dari oportunity itu akan melahirkan rizki. Razki itu bisa berupa uang, kebahagiaan, juga kesehatan atau umur panjang. Mengingat pentingnya silaturrahim ini, maka jangan sekali-kali kita mencoba untuk memutuskannya. Allah tidak menyukainya.
”Orang-orang yang merusak perjanjian Allah setelah dikokohkannya, dan memutus sesuatu yang Allah telah memerintahkan untuk menyambungnya, dan berbuat kerusakan di muka bumi, mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-Baqarah: 27)
Sebagai bagian akhir dari tulisan ini kami ingin menukil sebuah hadits Qudsi berikut ini:
Dari Abdurrahman bin Auf ia berkata, saya mendengar rasulullah saw bersabda bahwa Allah berfirman (dalam hadits Qudsy): ”Aku adalah Allah. Aku adalah Ar-Rahim (maha Pengasih). Aku ciptakan kerabat dan aku keluarkan untuknya nama dari nama-Ku. Maka barangsiapa menyambungnya, Aku akan menyambungnya. Barangsiapa yang memutuskannya, maka Aku akan memutuskannya pula.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi). (Irch.).
DALAM MEWARNAI IDUL FITRI
Suatu kali Rasulullah saw melaksanakan shalat idul Fitri lebih siang dari biasanya, bukan karena beliau lupa, apalagi tertidur setelah shalat subuh. Beliau terlambat ke tempat berkumpulnya jama’ah shalat Id karena beberapa saat menjelang keberangkatannya, beliau mendapati seorang anak yang bermurung durja di tengah teman-temannya yang lagi asyik bermain dan bersuka cita.
Mendapati situasi seperti itu beliau menghampiri anak tersebut, lalu didekapnya dan dielus-elus kepalanya. Setelah cukup mendapatkan kehangatan, beliau lalu bertanya, wahai anakku, mengapa kamu bersedih hati di saat teman-temanmu bersuka ria? Di mana rumahmu? Siapa orangtuamu? Dengan mata nanar anak kecil itu menjawab, ayahku telah lama mati dalam suatu peperangan membela agama Islam, sedang ibuku menikah lagi dengan lelaki lain dan tak lagi menghiraukanku.
Rasulullah saw mendekap lebih hangat lagi, lalu bertanya: maukah kau jadikan aku sebagai ayahmu, ‘Aisyah sebagai ibumu, sedang Fathimah dan Ali sebagai bibi dan pamanmu? Beliau lalu membimbing anak itu ke rumah lalu meminta agar ‘Aisyah memandikannya, membersihkan kotorannya, dan memberinya pakaian terbaik yang dimilikinya. Anak kecil yang berpakaian dekil dan berwajah muram itu seketika berubah penampilannya. Ia kini kelihatan bersih dengan rambut yang tersisir rapih. Pakainnya bagus dan wajahnya berubah menjadi ceria. Ia keluar dari rumah Rasulullah saw sambil berteriak-teriak kepada teman-temannya, akulah anak yang hari ini paling bahagia. Muhammad telah menjadi ayahku, ‘Aisyah menjadi ibuku, sedang Fathimah dan Ali menjadi bibi dan pamanku. Sungguh tak terkira bahagianya anak itu. Kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Di hari idul fitri seperti ini seharusnya tak seorangpun bersedih hati. Semua gembira Semua bahagia. Lebih-lebih anak kecil, mestinya mereka semua bersuka cita. Kalau satu anak yatim saja dapat menghentikan langkah Rasulullah saw menuju tempat shalat idul fitri sampai anak tersebut turut berbahagia, lalu mengapa puluhan dan ratusan anak yang mengalami nasib yang sama tidak mampu menggerakkan hati kita untuk peduli, menyantuni, dan membahagiakan mereka?
Melalui puasa kita di didik dan di latih untuk peduli dan berbagi. Puasa tidak saja menahan lapar dan haus di siang hari, tapi di balik haus dan lapar itu kita dihantarkan untuk ikut berempati merasakan langsung sebagian dari penderitaan saudara-saudara kita, para fuqara dan masakin.
Islam adalah agama atau satu satunya agama yang paling banyak mengingatkan ummatnya tentang fuqara dan masakin. Bahkan orang-orang yang tidak peduli kepada mereka tegas-tegas disebutnya sebagai orang yang mendustaan agama. Allah berfirman:
”Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS Al- Maaun :1- 7)
Kedermawanan adalah sikap mulia dan terpuji, sementara kikir adalah perbuatan jahat dan hina. Seorang mukmin tak mungkin menjadi kikir, sebab ia yakin bahwa semua yang diberikan kepadanya adalah amanat dari Allah swt. Rizki dan karunia itu tidak untuk dimakan sendiri, tapi ia senantiasa mengingat ”kanan-kiri”. Ia sadar bahwa di dalam hartanya terdapat hak orang lain yang harus dikeluarkan. Untuk itu ia selalu peduli dan mau berbagi.
Rasulullah bersabda: ”Maafkanlah kesalahan orang yang murah hati (dermawan). Sesungguhnya Allah menuntun tangannya jika ia terpeleset. Orang yang dermawan dekat kepada Allah, dekat kepada manusia, dan dekat pada surga. Orang yang bodoh tapi dermawan lebih disukai Allah daripada orang alim (ahli ibadah) tapi kikir.” (HR. Thabrani)
Ketahuilah bahwa di dunia ini banyak orang yang malang, di antara mereka ada yang malang karena ulah mereka sendiri, tapi tidak sedikit yang malang karena nasib. Mereka menjadi yatim, misalnya bukan karena kemauan mereka sendiri. Mereka yatim karena bapaknya telah dipanggil Allah swt. Tidak ada seorang anakpun yang menginginkan menjadi yatim, tapi taqdir Allah yang menentukan.
Di hari yang fitri ini marilah kita semua bersilaturrahim, menyambung tali kasih di antara kita. Mari kita kunjungi saudara-saudara kita yang dekat maupun yang jauh, terutama kerabat yang miskin. Mereka biasanya minder mendatangi kita khawatir dikira meminta-minta.
Tanyakan kepada mereka tentang anak-anaknya, apakah mereka semua telah sekolah. Jika Anda mendapati mereka tidak sekolah, angkatlah ia sebagai anak asuh Anda. Tanyakan pula tentang pendidikan agama mereka. Jangan sampai dari lingkungan keluarga kita terdapat orang-orang yang menetang agama.
Silaturrahim kita baru bermakna jika kita tidak sekadar berkunjung, bertemu, dan bertatap muka. Silaturrahim kita baru berarti jika di dalamnya kita menjalin tali kasih dan tali saying, menolong saudara kita yang kurag mampu, membantu saudara kita yang perlu bantuan, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi saudara yang lebih muda.
Dalam al-Qur’an banyak kita dapati perintah bersilaturrahim, di antaranya Allah berfirman:
”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga dekat akan haknya, (juga kepada) orang miskin dan orang-orang dalam perjalanan dan janganah kamu menghambur-hamburkan hartamu (secara boros).” (QS Al-Isra: 26)
Dalam ayat yang lain Allah berfirman: ”Dan bertaqwalah kepada Allah, dimana kamu saling meminta antara satu dengan yang lain dengan (menyebut nama)-Nya, dan (peliharalah hubungan) keluarga, sesungguhnya Allah mengawasi kalian semua.” (An-Nisaa: 1)
Sungguh banyak manfaat bersilaturrahim. Selain mendatangkan kebahagiaan, silaturrahim juga mendatangkan rizki dan memperpanjang usia. Membangun silaturrahim tak ubahnya seperti membangun jejaring bisnis. Dari silaturrahim lahirlah koneksi, dari koneksi muncullah oportunity (kesempatan). Dari oportunity itu akan melahirkan rizki. Razki itu bisa berupa uang, kebahagiaan, juga kesehatan atau umur panjang. Mengingat pentingnya silaturrahim ini, maka jangan sekali-kali kita mencoba untuk memutuskannya. Allah tidak menyukainya.
”Orang-orang yang merusak perjanjian Allah setelah dikokohkannya, dan memutus sesuatu yang Allah telah memerintahkan untuk menyambungnya, dan berbuat kerusakan di muka bumi, mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-Baqarah: 27)
Sebagai bagian akhir dari tulisan ini kami ingin menukil sebuah hadits Qudsi berikut ini:
Dari Abdurrahman bin Auf ia berkata, saya mendengar rasulullah saw bersabda bahwa Allah berfirman (dalam hadits Qudsy): ”Aku adalah Allah. Aku adalah Ar-Rahim (maha Pengasih). Aku ciptakan kerabat dan aku keluarkan untuknya nama dari nama-Ku. Maka barangsiapa menyambungnya, Aku akan menyambungnya. Barangsiapa yang memutuskannya, maka Aku akan memutuskannya pula.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi). (Irch.).
DALAM MEWARNAI IDUL FITRI
Suatu kali Rasulullah saw melaksanakan shalat idul Fitri lebih siang dari biasanya, bukan karena beliau lupa, apalagi tertidur setelah shalat subuh. Beliau terlambat ke tempat berkumpulnya jama’ah shalat Id karena beberapa saat menjelang keberangkatannya, beliau mendapati seorang anak yang bermurung durja di tengah teman-temannya yang lagi asyik bermain dan bersuka cita.
Mendapati situasi seperti itu beliau menghampiri anak tersebut, lalu didekapnya dan dielus-elus kepalanya. Setelah cukup mendapatkan kehangatan, beliau lalu bertanya, wahai anakku, mengapa kamu bersedih hati di saat teman-temanmu bersuka ria? Di mana rumahmu? Siapa orangtuamu? Dengan mata nanar anak kecil itu menjawab, ayahku telah lama mati dalam suatu peperangan membela agama Islam, sedang ibuku menikah lagi dengan lelaki lain dan tak lagi menghiraukanku.
Rasulullah saw mendekap lebih hangat lagi, lalu bertanya: maukah kau jadikan aku sebagai ayahmu, ‘Aisyah sebagai ibumu, sedang Fathimah dan Ali sebagai bibi dan pamanmu? Beliau lalu membimbing anak itu ke rumah lalu meminta agar ‘Aisyah memandikannya, membersihkan kotorannya, dan memberinya pakaian terbaik yang dimilikinya. Anak kecil yang berpakaian dekil dan berwajah muram itu seketika berubah penampilannya. Ia kini kelihatan bersih dengan rambut yang tersisir rapih. Pakainnya bagus dan wajahnya berubah menjadi ceria. Ia keluar dari rumah Rasulullah saw sambil berteriak-teriak kepada teman-temannya, akulah anak yang hari ini paling bahagia. Muhammad telah menjadi ayahku, ‘Aisyah menjadi ibuku, sedang Fathimah dan Ali menjadi bibi dan pamanku. Sungguh tak terkira bahagianya anak itu. Kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Di hari idul fitri seperti ini seharusnya tak seorangpun bersedih hati. Semua gembira Semua bahagia. Lebih-lebih anak kecil, mestinya mereka semua bersuka cita. Kalau satu anak yatim saja dapat menghentikan langkah Rasulullah saw menuju tempat shalat idul fitri sampai anak tersebut turut berbahagia, lalu mengapa puluhan dan ratusan anak yang mengalami nasib yang sama tidak mampu menggerakkan hati kita untuk peduli, menyantuni, dan membahagiakan mereka?
Melalui puasa kita di didik dan di latih untuk peduli dan berbagi. Puasa tidak saja menahan lapar dan haus di siang hari, tapi di balik haus dan lapar itu kita dihantarkan untuk ikut berempati merasakan langsung sebagian dari penderitaan saudara-saudara kita, para fuqara dan masakin.
Islam adalah agama atau satu satunya agama yang paling banyak mengingatkan ummatnya tentang fuqara dan masakin. Bahkan orang-orang yang tidak peduli kepada mereka tegas-tegas disebutnya sebagai orang yang mendustaan agama. Allah berfirman:
”Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS Al- Maaun :1- 7)
Kedermawanan adalah sikap mulia dan terpuji, sementara kikir adalah perbuatan jahat dan hina. Seorang mukmin tak mungkin menjadi kikir, sebab ia yakin bahwa semua yang diberikan kepadanya adalah amanat dari Allah swt. Rizki dan karunia itu tidak untuk dimakan sendiri, tapi ia senantiasa mengingat ”kanan-kiri”. Ia sadar bahwa di dalam hartanya terdapat hak orang lain yang harus dikeluarkan. Untuk itu ia selalu peduli dan mau berbagi.
Rasulullah bersabda: ”Maafkanlah kesalahan orang yang murah hati (dermawan). Sesungguhnya Allah menuntun tangannya jika ia terpeleset. Orang yang dermawan dekat kepada Allah, dekat kepada manusia, dan dekat pada surga. Orang yang bodoh tapi dermawan lebih disukai Allah daripada orang alim (ahli ibadah) tapi kikir.” (HR. Thabrani)
Ketahuilah bahwa di dunia ini banyak orang yang malang, di antara mereka ada yang malang karena ulah mereka sendiri, tapi tidak sedikit yang malang karena nasib. Mereka menjadi yatim, misalnya bukan karena kemauan mereka sendiri. Mereka yatim karena bapaknya telah dipanggil Allah swt. Tidak ada seorang anakpun yang menginginkan menjadi yatim, tapi taqdir Allah yang menentukan.
Di hari yang fitri ini marilah kita semua bersilaturrahim, menyambung tali kasih di antara kita. Mari kita kunjungi saudara-saudara kita yang dekat maupun yang jauh, terutama kerabat yang miskin. Mereka biasanya minder mendatangi kita khawatir dikira meminta-minta.
Tanyakan kepada mereka tentang anak-anaknya, apakah mereka semua telah sekolah. Jika Anda mendapati mereka tidak sekolah, angkatlah ia sebagai anak asuh Anda. Tanyakan pula tentang pendidikan agama mereka. Jangan sampai dari lingkungan keluarga kita terdapat orang-orang yang menetang agama.
Silaturrahim kita baru bermakna jika kita tidak sekadar berkunjung, bertemu, dan bertatap muka. Silaturrahim kita baru berarti jika di dalamnya kita menjalin tali kasih dan tali saying, menolong saudara kita yang kurag mampu, membantu saudara kita yang perlu bantuan, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi saudara yang lebih muda.
Dalam al-Qur’an banyak kita dapati perintah bersilaturrahim, di antaranya Allah berfirman:
”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga dekat akan haknya, (juga kepada) orang miskin dan orang-orang dalam perjalanan dan janganah kamu menghambur-hamburkan hartamu (secara boros).” (QS Al-Isra: 26)
Dalam ayat yang lain Allah berfirman: ”Dan bertaqwalah kepada Allah, dimana kamu saling meminta antara satu dengan yang lain dengan (menyebut nama)-Nya, dan (peliharalah hubungan) keluarga, sesungguhnya Allah mengawasi kalian semua.” (An-Nisaa: 1)
Sungguh banyak manfaat bersilaturrahim. Selain mendatangkan kebahagiaan, silaturrahim juga mendatangkan rizki dan memperpanjang usia. Membangun silaturrahim tak ubahnya seperti membangun jejaring bisnis. Dari silaturrahim lahirlah koneksi, dari koneksi muncullah oportunity (kesempatan). Dari oportunity itu akan melahirkan rizki. Razki itu bisa berupa uang, kebahagiaan, juga kesehatan atau umur panjang. Mengingat pentingnya silaturrahim ini, maka jangan sekali-kali kita mencoba untuk memutuskannya. Allah tidak menyukainya.
”Orang-orang yang merusak perjanjian Allah setelah dikokohkannya, dan memutus sesuatu yang Allah telah memerintahkan untuk menyambungnya, dan berbuat kerusakan di muka bumi, mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-Baqarah: 27)
Sebagai bagian akhir dari tulisan ini kami ingin menukil sebuah hadits Qudsi berikut ini:
Dari Abdurrahman bin Auf ia berkata, saya mendengar rasulullah saw bersabda bahwa Allah berfirman (dalam hadits Qudsy): ”Aku adalah Allah. Aku adalah Ar-Rahim (maha Pengasih). Aku ciptakan kerabat dan aku keluarkan untuknya nama dari nama-Ku. Maka barangsiapa menyambungnya, Aku akan menyambungnya. Barangsiapa yang memutuskannya, maka Aku akan memutuskannya pula.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi).
Masjid dan Lingkungan Tema utama pameran arsitektur diwujudkan dengan menampilkan gambar-gambar masjid di Nusantara, dapat kita lihat bahwa betapa pentingnya masjid pada pandangan ummatnya. Masjid yang diketengahkan dibagi menjadi enam pasang, berdasarkan latar belakangnya. Menempati bagian utama dari ruang pamer dan dibuat berpasangan dengan maksud agar dapat didapat cakrawala yang lebih lebar mengingat tiap-tiap bangunan mempunyai “kepribadian” yang berbeda-beda walaupun dapat disebut satu kelompok. Masjid-Masjid Kesultanan Melayu Kesultanan Melayu tidak menganggap masjid sebagai bagian dari istana tapi lebih merupakan bangunan yang mandiri, sitilik dari tempatnya yang selalu di hadapan istana, bahkan dapat dianggap sebagai pengawal istana. Pertama Masjid Raya Deli dibangun tahu 1906 dan selesai 1909 atas prakarsa Sultan Makmun Ar-Rasjid Perkasa Alam. Masa itu Kesultanan Deli sedang makmur akibaat pelepasan konsesi tanah dan hutan pada para penanam modal dari Eropa. Bangunan ini dirancang oleh arsitek Belanda, AJ Dingemans, oelh sebab itu bentuk masjid ini dipengaruhi oleh pandangan orang Eropa terhadap arsitektur Islam pada masa itu, yaitu mengambil langgam campuran Mogul dan Magribi. Didirikan pertam kali oleh Sultan pertama Dinasti Qadriah di Pontianak 91771-1808) Masjid Sultan Abdurrahman menurut cerita, masjid ini mulai didirikan tahun 1772, walaupun prasasti di atas mimbar menyatakan tahun 1237H sebagai penyelesaian bangunannya. Letaknya kira-kira 300 meter di depan Istana Qadriah yang umurnya jauh lebih muda. Masjid-Masjid Kesultanan Bahari Jika kita pergi ke Festival Istiqlal II dan melihat foto-foto masjid-masjid yang berhadapan langsung dengan laut, perasaan kita akan diajak mengingat kembali sejarah, bahwa dahulu nenek moyang kita berjaya di laut. Keakraban mayarakat dengan laut tersirat dari tempat berdirinya masjid-masjid ini di dekat samudra, sumber kajayaan mereka. Pada masa Kesultanan Ternate dan Riau lebih berorientasi ke luar, wilayah daratnya memang tidak seberapa, tetapi jangkauan kelautannya sangat luas. Sebagai masyarakat niagawan, hubungan mereka ke luar negeri dan dengan bangsa-bangsa asing sangat intensif, bersamaan dengan itu kegiatan intelektualnyapun berkembang dengan pesat. Namun disayangkan bahwa sejarah menenutkan lain, sehingga kejayaan itu semakin surut dalam alam penjajahan. Jauh sebelum Tumasik menjadi Singapura, penguasa Singapura adalah Pualau Penyengat, Masjid Raya di Pulau Penyengat dibangun tahun 1832 oleh Sultan Abdurrahman, Yang Dipertuan Muda Kesultanan Riau. Melihat pada tahun pembuatannya kemungkinan masjid ini adalah masjid pertama di Indonesia yang menggunakan kubah sebagai penutup atapnya. Meskipun demikian, atap kubahnya masih tunduk pada tata ruang dalam yang sepenuhnya masih Melayu, yaitu pola ‘ruang’ sehingga jumlah kubahnya 17 buah, menyesuaikan jumlah rakaat dalam shoalt fardhu. Masjid-Masjid Kesultanan Jawa Masjid Agung Kasepuhan atau dikenal dengan nama Sang Cipta Rasa di Cirebon didirikan pada pertengahan abad ke-15, semasa masjid Agung Demak. Dari denah peninggalan istaana lama (Dalem Agung Pangkungwati) yang ditampilkan, dapat dilihat bahwa perletakkan masjid tidak bertautan dengan kratonnya. Masing-masing menguasai spatialnya sendiri-sendiri. Bahkan alun-alunnya pun lebih cenderung berada didalam lingkungan masjid dari pada di dalam lingkungan keraton. 300 tahun kemudian, dibangun Masjid Keraton Kesultanan Ayogyakarta Hadiningrat yang dibangun oleh Sultan Kamnegkubuwono I di Mataram. Terletak lebih kurang 300 km di pedalaman Jawa Tengah, masjid ini mewakili keadaan yang berbeda, pada masa ini masjid sudah baku menjadi kelengkapan keraton dan dibangun dengan ketrampilan yang lebih baik. Masjid-Masjid di Pedesaan Masjid Kampung Rambutin di Lombok dan Kampung Naga di Tasikmalaya, Jawa Barat mencerminkan kehidupan masyarakat pedesaan dengan pertaniannya. Keadaan ini biasanya cenderung melahirkan sikap hidup yang mengarah pada kemapanan. Namun bila dikaji lebih lanjut, dari sikap yang demikian terkandung kesalehan yang mantap. Pada pola pemukiman mereka, masjid selalu menempati bagian yang paling menonjol. Masjid-Masjid di Lingkungan Pendidikan Sudah sejak awal perkembangan Islam ,lingkungan masjid biasanya merangkap sebagai ajang pendidikan, di dalam ajaran Islam, pendidikan dan ibadah tidak pernah dipisahkan. Madrasah dan Masjid adalah satu. Ilmu akhirat selalu diimbangi dengan ilmu dunia. Ketika Pesantren Pabelan didirikan pertama kali tahun 1965 oleh Kyai Haji Hamam Dja’far, masjid ini merupaka modal pertama bagi pesantren ini. Sedang masjidnyasendiri telah ada sejak perlawanan Pangeran Diponegoro melawaj penjajah Belanda. Masuk jaman yang lebih maju, kita menuju Kampus ITB Bandung dimana terdapat Masjid Salman. Dibangun dengan konsep yang mirip tradisi istana Melayu, masjid ini pernah menjadi ‘pengawal’ kampus karena letaknya diseberang gerbang kampus ITB. Sesuai dengan citra ITB, masjidSalman ini terkenal karena bentuknya yang ‘tidak biasa’, ia mencerminkan pengaruh arsitektur modernisme yang memilih bentu-bentuk murni dan nirlambang. Masjid- Masjid dalam Lingkungan Metropolis Dalam sejarah Nusantara banyak ditemui kota-kota yang sudah sangat teratur, ketika Eropa sendiri masih diselimuti zaman kegelapan. Salah satu kota yang sejak berdirinya bersifat metropolis, dan kemudian bertahan terus sampai sekarang adalah Makassar atau Ujung Pandang, ibu kota kerajaan kembar Gowa-Talo. Dimasa penjajahan, Makassar bertahan sebagai kota terbesar di kawasan Timur Indonesia, sampai masuk alam kemerdekaan. Masa lalu Ujung Pandang diwakili oleh Masjid Katangka yang dipercaya sebagai masjid tertua di Sulawesi. Dari keletakkannya di sisi barat Bukit Tamalate, tempat kraton lama Gowa dan juga dipercaya sebagai tempat turun temurun nenek moyang orang Gowa, jelas sekali penghargaan Sultan Alauddin dan Sultan Abdullah Awalu’lislam dari Tallo yang masa itu sedang mempersiapkan perkembangan Makassar. Jadi Masjid Katangka adalah bagian penting dari pusat spiritual masyarakat Makassar ketika mereka bersiap membina metropolis Makassar abad ke-17. Diujung abad 20 ini, ketika Ujung Pandang sedang menata diri kembali untuk menjadi pusat perkembangan setengah Indonesia di sisi Timur, mome ini ditandai kembali dengan didirikannya sebuah Masjid Raya, masjid terbesar sesudah Istiqlal yang berukuran 54×54 meter persegi di atas lahan seluas 9 ha, lengkap dengan kompleks Pusat Kajian Islam, memantapkan kembali pusat spiritual masyarakat Ujung Pandang. Insya Allah nur Islam memancar kembali dengan lebih gemilang di Timur.(by. Irch. J. NiZel) Sumber dari beberapa millis)
Ngabuburit, Kegiatan Rutin Bulan Ramadhan Moment apa yang biasanya paling di tunggu saat kita menjalankan ibadah puasa Ramadhan? Tak lain adalah saat-saat menjelang berbuka puasa. Saat Ramadhan datang, ngabuburit seolah menjadi tradisi yang sayang ditinggalkan. Alih-alih menunggu waktu berbuka, saking asyiknya, kembali ke rumah pun enggan. Ternyata budaya ngabuburit di berbagai tempat di Indonesia sudah ada sejak jaman dulu. Saat ngabuburit inilah yang paling di tunggu oleh kabanyakan kaum muda. Ngabuburit berasal dari bahasa Sunda dengan akar kata burit, yakni sebuah representasi waktu yang menunjukkan mulainya malam hari. Ngabuburit artinya mengisi waktu hingga burit tiba. Istilah ini sering digunakan pada bulan puasa sebagai tren dalam menanti waktu berbuka. Dalam masyarakat Sunda hal ini sudah membudaya dan menjadi istilah baku dalam kamus. Sekarang, istilah ngabuburit sudah dipakai oleh semua orang yang mengartikannya sebagai kegiatan mengisi waktu sampai tiba saatnya berbuka puasa. Bahkan tren ini menjadi sebuah tradisi yang tak bisa dilepaskan dari bulan Ramadhan. Sebuah analisa dari Guru Besar Universitas Galuh Ciamis, Prof. Dr. Dadan Wildan Anas, M.Hum menyebutkan istilah ngabuburit ini diperkirakan sudah ada sejak abad XV. Dalam analisanya Dadan menyebutkan, pada abad ke-15, Kerajaan Mataram menata kota-kota dengan membuat sebuah pusat kegiatan masyarakat berupa sebuah alun-alun, masjid, dan pasar serta fasilitas pendukung lainnya sehingga menarik warga untuk mendatanginya. Ibarat semut merangsek gula. Karena pusat keramaian di Alun-alun, maka menjadi lokasi paling favorit untuk ngabuburit. Banyak kegiatan yang dilakukan sebagai pengisi waktu di sore hari alias ngabuburit. Program pesantren kilat yang digelar selama bulan Ramadhan misalnya, atau ziarah ke mesjid tua dan bersejarah yang ada di sekitar kita. Seperti yang diselenggarakan oleh Komunitas Jelajah Budaya (KJB) yang biasa mengadakan program wisata budaya ke mesjid-mesjid bersejarah di Kota Tua Jakarta ketika bulan Ramadhan untuk ngabuburit. Kebanyakan memang dilakukan di sore hari. Sambil ngabuburit, sekaligus juga dapat tambahan ilmu tentang sejarah bangsa dan ilmu seputar keagamaan. Tapi banyak juga aktivitas ngabuburit yang tidak ada kaitan langsung dengan nuansa keagamaan. Ya, ini sih benar-benar sekedar perintang-rintang waktu. Bisa jalan-jalan, bisa nongkrong di taman kota, baca buku, atau yang lainnya. Silakan pilih sendiri. Di setiap daerah, pelaksanaan budaya ngabuburit beda cara. Begitupun dengan orang yang tinggal di perkampungan dengan di perkotaan. Di perkampungan, budaya ngabuburit dulu diisi dengan beragam permainan rakyat, misalnya petak umpet, gatrik, dan sebagainya. Untuk memeriahkan suasana, anak-anak di daerah perkampungan biasanya bermain lodong atau jeblugan, yakni bermain perang-perangan dengan media bambu mirip sebuah meriam yang diisi dengan karbit hingga menghasilkan suara dentuman. Sedangkan di daerah perkotaan ngabuburit biasanya diiisi dengan jalan-jalan sore, nongkrong di pusat perbelanjaan, atau keliling kota dengan kendaraan. Di Jakarta misalnya, pusat-pusat perbelanjaan di daerah ini selalu ramai ketika sore di bulan Ramadhan. Lain lagi dengan komunitas dunia maya Wikimu. Mereka mengadakan ngabuburit dengan acara nonton bersama film Merah Putih, sebuah film tentang perjuangan bangsa. “Kebetulan awal bulan puasa tahun ini masih di bulan Agustus, di mana bangsa Indonesia masih riuh merayakan Hari Kemerdekaan, 17 Agustus. Karena itu, sambil menunggu saat berbuka puasa, Agenda Wikimu bulan ini adalah mengajak teman-teman untuk ngabuburit dengan menonton film Merah Putih,” tertera dalam undangan yang dilayangkan lewat jejaring internet tersebut. Acara nonton bareng ini diadakan pada hari Minggu, 23 Agustus 2009, di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), jalan Cikini Raya no 73, Jakarta. Secara ideal, ngabuburit sebaiknya diisi dengan hal-hal yang bermanfaat, dalam arti mendatangkan amal ibadah, dalam setiap detik, menit dan jam yang dilaluinya. Misalnya, membaca dan menghafal Al Qur’an, berzikir, membantu orang tua atau orang-orang lain yang membutuhkan. Namun karena Islam adalah agama yang tidak bersifat membebani, dalam perkembanganya Islam amat toleran dengan tradisi setempat yang dilakukan semasa menunggu beduk bergema. Jadi sejauh tidak mendatangkan kemaksiatan, umumnya para ulama bisa menerima hal-hal itu sebagai bagian dari aktivitas ngabuburit. Bagi kita ngabuburit di zaman sekarang ini bisa kita lakukan hal-hal yang baik seperti mendengarkan ceramah para ulama, baik secara langsung di masjid-masjid, maupun secara elektronik melalui perantaraan radio dan TV. Selain kualitasnya biasanya di atas rata-rata, ceramah yang di sampaikan melalui TV dan radio juga lebih menarik, tidak membosankan, dan topiknya pun diatur supaya beragam. Sebetulnya memang tidak ada aturan yang mengatur kegiatan apa saja yang boleh dilakukan pada saat ngabuburit. Hanya saja, jangan sampai kegiatan ngabuburit ini mengurangi nilai ibadah puasa kita. Ngabuburit hanyalah aktivitas tambahan pada saat menjalankan ibadah puasa.Tujuannya agar kita tidak bosen menunggu saat buka puasa. Yang namanya aktivitas tambahan tentu tidak boleh mengalahkan aktivitas utama. Kegiatan utama yang sangat kental aspek religiusitasnya tersisihkan oleh aktivitas sampingan yang masuk hitungan sunat saja tidak, dan bahkan ternyata malah menimbulkan banyak godaan bagi yang sedang puasa. Dalam bahasa Sunda, diungkapkan dalam frasa singkat: cul dogdog tinggal igel. Ini terbalik, dan tentu saja tidak boleh terjadi. Ngabuburit? Tidak ada yang melarang. Tapi, cari kegiatan ngabuburit yang tidak mengurangi kebaikan puasa kita. Bahkan akan lebih baik jika aktivitas itu justru menambah kebaikan, semangat dan - kalau bisa - pahala puasa kita. Selamat ngabuburit! (Wallahu a'lam). (by. Irch. J. NiZel)